Kedai Kopi Menoreh

Luwak
Produsen kopi luwak © Joeni Hartanto

Bukit Menoreh saya kenal dari cerita bersambung Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja. Cerita bersambung berlatar perubahan kekuasaan kerajaan-kerajaan Jawa di zaman Demak, Pajang, dan Mataram tersebut saya ikuti sejak saya masih duduk dibangku sekolah dasar. Bahkan sampai kuliah pun saya berusaha menyempatkan membaca setiap hari di koran Kedaulatan Rakyat.

Meskipun telah lama mengenal Bukit Menoreh, tapi baru hari ini saya berkesempatan berkunjung. Kedatangan saya ke Bukit Menoreh untuk hunting foto bukan mencari kopi. S.H. Mintardja tidak pernah bercerita tentang kopi menoreh yang disuguhkan sebagai minuman sehari-hari, ia selalu bercerita wedang sere dengan gula aren. Hehehe..

Ketika saya menuju Puncak Suroloyo dengan tanpa diduga —di antara kelokan naik turun aspal mulus jalan lereng Menoreh tepatnya di Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh—terlihat sebuah papan nama Kedai Kopi Menoreh. Selintas, dalam pikiran saya terbersit pertanyaan, apakah warga desa di sekitar Madigondo yang sepi jauh dari keramaian ini sudah ‘kecanduan’ budaya ‘ngopi’ di kedai kopi seperti tren orang-orang Yogyakarta dalam 5 tahun terakhir? Kecenderungan yang sangat menarik, sepanjang saya ketahui penduduk di perdesaan Yogya bukan penggila kopi, mereka lebih cenderung penggila minum teh dan sejenis wedang sere. Meskipun di Lereng Merapi terdapat perkebunan kopi.

Setelah menembak beberapa pemandangan di Puncak Suroloyo, saya dibuat kecewa karena tidak dapat mendapatkan gambar sebagaimana angan. Pemandangan Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu, dan Sindoro serta Candi Borobudur hari ini tertutup ampak-ampak. Semoga kopi menoreh bisa menjadi ganti.

Rute pulang hampir semua jalan yang saya lalui menurun cukup tajam, untuk membantu laju tak terlalu kencang saya letakkan pada gigi 2 kadang 1. Kendaraan melaju dengan percepatan 40-50 kilometer perjam, jarak tempuh sekitar 10 km dari Puncak Suroloyo saya sudah sampai kembali di Kedai Kopi Menoreh. Suasana di sana sangat sepi, tidak ada kendaraan di tempat parkir dan tak seorang pengunjung pun terlihat. Ah jangan-jangan akan menambah kekecewaan hari ini.

Saat memarkir kendaraan, dari pintu rumah sederhana (tembok tanpa plester dan sebagian ‘kotangan’) keluar perempuan paro baya yang melayangkan senyum, lalu menyapa; “Mangga Mas! Silakan masuk..”

Saya sedikit bingung memberi tanggapan. Wah saya bukan mau bertamu, hanya ingin mencoba minum di kedai kopi. Kok diminta masuk rumah? Sambil celingukan kanan-kiri; saya mencari tempat duduk untuk minum kopi dengan santai? Saya melihat di sebelah kiri di depan rumah terdapat dua balai bengongl, mungkin ke dua gubug tersebut yang dimaksud sebagai ‘kedai kopi’.

Kedai Kopi Menoreh
Kedai kopi Bu Marwiyah © Joeni Hartanto

Ketika masuk ke dalam rumah, baru saya paham, ternyata saya masuk ke ruang produksi kopi, terlihat biji-biji kopi yang sedang disortir, biji kopi sangrai yang sedang dimasukan dalam plastik, masuk ke dalam lagi ada satu almari display untuk memajang produk. Waow.. mulai menarik! Tapi saya ingin segera minum kopi untuk menghilangkan rasa kecewa tidak dapat foto bagus. Bukan beli biji kopi! Sambil tersenyum kecut, saya bertanya kepada perempuan yang menyambut tadi, “menopo kulo nggih saged nyruput kopi wonten mriki?” (Apa saya bisa sruput kopi yang ada di sini?).

“Saged Mas! Badhe ngunjuk kopi menapa? Mangga meniko menu kopinya!” kata Bu Marwiyah, yang artinya bisa, mau minum kopi apa? Mari lihat menu kopi di sini. Begitu melihat menu, dengan tulisan Cafe: Kopi Moka Menoreh dengan sederet menu racikan kopi, saya sedikit meragu! Saya ingin kopi asli.

Saya meletakkan menu dan menyampaikan keinginan untuk minum kopi yang ditanam di daerah ini dan meminta kopi yang baru disangrai. Ibu Marwiyah memperbolehkan. Dia menjelaskan ada dua jenis kopi yang baru disangrai, robusta moka herbal dan luwak robusta moka herbal. Keduanya di tanam di lereng bukit Menoreh.

Saya memesan untuk dibuatkan kopi luwak robusta moka herbal. (Penasaran juga toh dengan apa yang dimaksud dengan tambahan nama moka herbal?)

Saya menguntit Bu Marwiyah yang hendak menyiapkan kopi. Ia mengambil satu toples kopi sangrai dari penyimpanan.“Ini kopi luwaknya, Mas. Masih fresh, baru disangrai. Silakan nanti bersama Pak Sumardi berkenalan dengan ‘Mas Luwak’ yang memfermentasi di belakang.

Ini dia! Semakin menarik.

Ibu Marwiyah menyampaikan jika tidak memiliki grinder halus, grinder yang tersedia agak kasar. Katanya lagi, kopi untuk saya tidak akan diseduh tapi akan digodog.

“Woke Bu! Tidak masalah! Ibu tidak ada Vietnam Drip?”

“Ada, tapi di Djogja, di Kedai Kopi Menoreh jalan Kaliurang Km 19”

Woo O! Ternyata buka outlet di Yogya. Saya tahu tempatnya, tapi entah kenapa beberapa kali meragu untuk mencoba.

Saya ambil kamera dengan tergesa, memotret Bu Marwiyah memutar grinder tradisionalnya. Aroma kopi mulai tercium menyegarkan. Sambil mengawasi apakah kopi saya akan ditambah sesuatu, kok disebut Kopi Luwak Moka Herbal. Sampai proses godog kopi pun saya tidak melihat ada tambahan apapun!

Saya meminta kopi disajikan terpisah dengan gula, dan menuju di gubug.

Kopi Luwak Herbal
Kemasan kopi luwak 250 gram © Joeni Hartanto
Menggrinder biji kopi luwak
Menggrinder biji kopi luwak © Joeni Hartanto

Sambil menunggu kopi disajikan, saya mengamati lahan di sekitar rumah. Tanaman kopi ditanam satu lahan dengan tanaman cokelat, tumpangsari dengan empon-empon (jahe, Kapulaga, temu-ireng) sebagaimana pola tanam yang biasa dilakukan oleh petani lahan kering. Nah, saya sudah mulai meraba kenapa ditambahkan nama moka herbal! Kepo. Hahaha. Nanti sambil merasai kopi saya bisa tanya sang empunya.

“Sampun dangu, Mas? (Sudah lama, mas?) Seorang laki-laki setengah umur tiba-tiba menyeruak dari atas tebing tanpa baju, dengan keringat membanjir, memperkenalkan diri. “Saya Sumardi. Maaf tidak pakai baju, sedang benah-benah talud tebing atas, semalam sudah mulai hujan kalau tidak dibenahi bisa tergerus air. Mana kopinya kok belum ada?”

“Masih di seduh Ibu di belakang Pak” kata saya.

Senampan berisi secangkir kopi, gula putih, gula semut, gula batu dan lanting dihidangkan. Pak Sumardi datang menemani dengan membawa segelas besar kopi dengan gula batu. Kopi gula batu? Belum pernah mencoba? Ada satu cara minum kopi di Jawa Timur yang membuat saya ketagihan, sebelum meminum kopi (tanpa gula), didahului menggigit gula kelapa atau gula aren. Gula aren dikunyah (saya rasakan paling cocok daripada gula kelapa, rasa manisnya tidak merubah rasa kopi), kemudian baru kopi diminum. Kopi dan gula tercampur di permukaan lidah.

Saya melihat kopi pekat, permukaan mengkilat dan berminyak, dan mulai mencicip. Pahit khas robusta di ujung lidah, lembut khas luwak, tidak asam meskipun digodog. Aroma kopi tidak begitu kuat, tampaknya habis menguap saat digodog. Terasa sebagaimana biasanya kopi luwak robusta. Di mana letak istimewanya? Saya belum merasakan. Apakah ‘brand’ moka herbal hanya latah? Terus terang saya sedikit curiga, tambahan label moka herbal hanya tempelan pemanis. Karena saya tahu Bu Marwiyah dalam mengembangkan usahanya dibantu oleh ‘instansi pemerintah’ yang seringkali over estimate dan latah dengan branded. Semoga tidak benar!

Kedai Kopi Menoreh
Bu Marwiyah menyortir biji Kopi © Joeni Hartanto

Sudah menjadi kebiasaan saya memium kopi sampai tetes terakhir. Setelahnya, baru terasa perbedaan rasa kopi robusta luwak menoreh memang ada ciri khasnya. Pada ‘sruputan’ mendekati habis tercerap rasa pedas. Seperti jamu meskipun masih belum terasa rasa moka.

Untuk membuktikan cerapan kopi, saya bertanya ke Pak Sumardi. “Pak, di akhir minum saya merasakan sensasi pedas? Karena apa, Pak?”

Pak Marsudi tersenyum sambil melihat Bu Marwiyah. “Mas Tanto bisa merasakan pedas herbalnya Bu!”

“Itu karena ada persilangan akar antara empon-empon dan kopi, Mas. Karena memang kopi sangat mudah terpengaruh rasanya oleh jenis tanaman di sekitarnya. Mas Tanto tidak merasakan moka (cacao), mungkin biji kopi luwaknya kebetulan tidak dekat dengan pohon moka,” jelas Bu Marwiyah.

Sambil menikmati kopi jok. Artinya kopi gratis. Kami berbicara tentang perkopian. Dari mengobrol terkuak kabar, ternyata beberapa kedai kopi terkenal di Yogya memesan biji kopi mentah dan sangrai dari hasil kebun Bu Marwiyah.

Setelah berkenalan dengan 3 luwak ‘produsen’ kopi luwak, membeli 1/2 kilogram kopi biji dari Menoreh, saya pulang dengan senyum puas kembali ke Yogya.

S.H. Mintardja harus menambahkan dalam ceritanya menu suguhan kopi menoreh, bukan hanya wedang sere gula kelapa atau aren.

Artikel ini pertama kali dipublikasi di Facebook.

Joeni Hartanto

Penikmat kopi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405