Kedai Kopi dan Kayu Maksih

Seluruh perabotan Kedai Maksih dibuat dari kayu bekas yang tak terpakai.
Seluruh perabotan Kedai Maksih dibuat dari kayu bekas yang tak terpakai. © Syndi Nur Septian

Kerinduan kepada orang tua tidak bisa saya pendam terlalu lama, meskipun seramnya sebuah pertanyaan “Kapan Kamu Lulus Nak?” selalu menyertai saat saya sudah sampai di rumah. Bagaimanapun juga, rumah adalah tempat kembali paling nyaman dari segala hiruk pikuk dunia.

Merantau di Jember sebagai mahasiswa yang masih berusaha untuk mendapatkan gelar sarjana di ujung semester yang sudah kritis. Pulang ke kampung menjadi sebuah hal yang sedikit mengerikan bagi saya. Jarak kampung saya tidak terlalu jauh dari Jember, cukup ditempuh dengan waktu satu setengah jam menuju arah Surabaya. Kampung halaman saya berada di sebuah kota kecil yang memiliki julukan sebagai Kota Pisang; Lumajang. Selama di perantauan kebiasaan saya untuk menikmati secangkir kopi di warung kopi tidak pernah saya tinggalkan. Begitu juga saat di kampung halaman, kebiasaan ngopi sering saya lakukan.

Kota Lumajang, perkembangan warung kopi ataupun kafe tidak sepadat dan secepat seperti di Jember. Sependek sepengetahuan saya yang memang jarang pulang ke rumah sejak memasuki dunia kuliah. Lumajang sekarang sudah banyak bermunculan warung-warung kopi yang berkonsep seperti kafe, angkringan modern, atau pun warung kopi yang memiliki daya tampung tempat duduk yang banyak. Saya masih ingat ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, tempat ngopi saya hanyalah warung kopi sederhana di pinggir jalan pedesaan. Maklumlah, kampung saya berada di perbatasan Jember dan Lumajang sehingga agak jauh dari pusat kota. Beranjak ke bangku sekolah menengah atas, saya memutuskan untuk bersekolah di kota, sehingga tempat ngopi saya pun berpindah ke kota seiring banyaknya teman yang bertempat tinggal di kota. Tapi waktu itu, tempat ngopi dengan konsep kafe masih bisa dihitung dengan jari dan kebiasaan ngopi saya pun tidak berubah. Saya tetap memilih menikmati secangkir kopi di warung kopi sederhana.

Ketika sudah berada di kampung halaman, pada saat malam hari saya selalu menghubungi teman-teman saya. Berharap mereka tidak sibuk kencan dengan pasangan mereka masing-masing dan bisa menemani saya menikmati secangkir kopi di kota sendiri. Setelah menyebarkan pesan singkat ajakan ngopi kepada teman-teman saya dan menunggu beberapa saat, akhirnya ada salah satu teman saya yang membalas pesan singkat saya, “Kamu kapan mampir ke kedai?” Pikiran saya akhirnya memutar 180 derajat ke waktu-waktu yang sudah berlalu. Semacam memutar kembali memori-memori ingatan saya dengan sebuah kalimat petunjuk “Kapan Mampir Ke Kedai”. Akhirnya saya teringat bahwa saya memiliki sebuah janji ngopi kepada teman saya yang beberapa bulan lalu mengajak saya untuk menikmati secangkir kopi di kedai kopi miliknya. Janji adalah hutang yang harus dibayar, langsung saja saya balas “Oke, Aku Berangkat Sekarang.”

Sesampainya di sana, saya langsung disambut hangat oleh teman saya. Seorang perempuan cantik dan ramah bernama Liviana Septyaningrum. “Kamu masih ingat kampungmu toh? Kirain udah lupa,” Sembari tertawa dan menjabat tangan kanan saya. Saya hanya bisa nyengir bercampur malu mendengar guyonannya. Tapi memang salah saya sendiri yang memang jarang pulang, padahal jarak dari perantauan ke kampung halaman begitu dekat. Langsung saja setelah saya bersalaman, saya memilih tempat duduk yang waktu itu masih belum banyak pengunjung yang datang. Saya kagum dengan teman perempuan saya satu ini, di usianya yang tergolong masih muda, dia berani untuk membangun sebuah tempat ngopi dan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang pegawai swasta.

Livi, Maksih dan Anas, ketiganya adalah pemilik kedai Maksih.
Livi, Maksih dan Anas, ketiganya adalah pemilik kedai Maksih. © Syndi Nur Septian

“Ini, kopi maksih buat kamu.” Katanya sambil meletakkan dua cangkir kopi di meja dan duduk di depan saya. Rupanya kebiasan teman saya ini tidak berubah, dia masih suka minum kopi meskipun waktu ngopinya sudah mulai diganggu dengan kesibukannya melayani pelanggan yang datang ke kedainya.

Kedai yang berada di Jalan Veteran No. 47, di pusat Kota Lumajang ini diberi nama “Kedai Maksih”. Pemilihan kata kedai dipilih karena menurutnya kedai berada di tengah-tengah, bukan kafe yang terkesan elit dan juga bukan warung kopi yang terkesan hanya untuk kelas bawah saja. Sehingga bisa melebur ke segala kalangan, baik kalangan bawah, menengah ataupun atas dalam sebuah kesederhanaan. Nama ‘Maksih’ terinspirasi dari nama ibunda dari Mas Anas, partner kerjanya dalam merintis kedai maksih. Tidak hanya partner dalam bekerja, mereka juga partner dalam hubungan asmara percintaan. Mereka dipersatukan karena kebiasaan menikmati secangkir kopi di tempat ngopi yang sama dan akhirnya memutuskan untuk membangun tempat ngopi sendiri dari hasil tabungan mereka.

Konsep yang mereka bawa di kedai maksih pun sangat sederhana dan bahkan tergolong unik. Berbekal dari pikiran kreatif mereka berdua untuk memanfaatkan barang bekas berbahan kayu. Mereka memasukan beberapa tempat duduk yang mereka bentuk sedemikian rupa agar menyamankan pelanggan yang datang dan yang unik adalah meja kopi yang mereka pakai adalah haspel (Gulungan Kabel Kayu). Kesan klasik semakin terlihat ketika dengan tangan kreatif mereka menyulap sebuah tembok menjadi sebuah dinding kayu lengkap dengan pigura-pigura kecil sebagai pelengkapnya. Pigura-pigura kecil mereka isi dengan beberapa foto keluarga mereka (Feel Like Home) dan juga kadang mereka isi dengan lukisan bertemakan kopi.

Suasana hommies Kedai Maksih
Suasana ‘hommies’ Kedai Maksih © Syndi Nur Septian
Suasana teras luar kedai Maksih.
Suasana teras luar kedai Maksih. © Syndi Nur Septian

Daya kreatif mereka pun tidak hanya sampai disitu. Mereka menambahkan beberapa seni lukis dan seni grafiti di kedai yang berukuran sangat sederhana ini. Saat akan memasuki kedai, kita akan disambut dengan seni lukis yang mereka tempatkan di tembok luar kedai. Setelah masuk, kita akan disambut dengan seni grafiti bergambar wajah dan kata-kata menarik tentang kopi yang semakin membuat kedai maksih menjadi tempat dengan daya tarik sebuah kreativitas yang sangat kental. Tidak heran jika banyak anak-anak muda Lumajang sering berkumpul menjadi satu untuk mendiskusikan ide-ide kreatif mereka di tempat yang begitu terasa ramah untuk semua orang ini. Mulai dari anak muda pecinta musik, komunitas fotografi, pencinta alam, komunitas motor ataupun anak muda kekinian yang sangat suka ketika foto mereka di instagram di-like oleh banyak orang.

“Hay, Kapan Lulus kamu?” kata Livi sambil menepuk pundak saya. Tingkah Livi membuyarkan lamunan kekaguman saya kepada kedai miliknya. Kopi maksih adalah kopi andalannya yang sering dipesan oleh banyak orang. Dari aroma yang saya hirup dan seduhan pertama yang saya rasakan, saya sedikit mengira-ngira jika olahan dan racikannya masih mempertahankan cara tradisional. Aroma kopinya masih sangat terasa dan takaran pahitnya masih bisa diterima oleh mereka yang tidak menyukai kopi yang terlalu pahit. Setelah menyeduh sesaat, saya pun menjawab dengan tenang “Lah, Kamu Sendiri Kapan Nikah?”

Akhirnya kami sama-sama diam dan mengganti topik pembahasan.

Syndi Nur Septian

Penikmat Kopi dan Pengagum Senja


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Risqi nurwidya

    Bahasanya renyah sekali sodara syndi nur septian,saya jadi tertarik untuk mencoba menyambangi kedai maksih tersebut