Kedai Kopi Apik: Meracik Ukhuwah Kafeinniyah

Kedai Kopi Apik
Kedai Kopi Apik | © Agam Rafsanjani

Navigasi Google Maps menghentikan saya tepat di depan sebuah rumah penduduk. Di balik pagar yang terbuka, sebuah gerobak berdiri jemawa. Meja dan kursi kayu tertata rapi di sekelilingnya. Saya turun dari sepeda motor dan mendapati dua orang barista sibuk dengan perkakasnya. Mendekati mereka, saya bertanya, “Kopi Maniis-nya masih ada?”

Perjalanan menuju kedai ini butuh waktu satu jam dari Kota Cirebon. Cukup mudah menemukannya. Jika sama sekali tidak mengenal Majalengka, Anda tinggal ketik kata kunci “Kopi Majalengka” di mesin pencari. Halaman pertamanya akan didominasi oleh kedai ini. Kedai Kopi Apik, namanya. Beralamat di Jalan Satari No. 239, Majalengka.

Beberapa menit kemudian, Kopi Maniis yang saya pesan tersaji di hadapan saya. Saya tunggu tetes demi tetes kopi meluncur dari lubang-lubang vietnam drip. Setelah tetes berakhir, saya seruput kopi lokal Majalengka itu. Senyum saya perlahan-lahan mengembang otomatis.

Kedai Kopi Apik terbilang sangat sederhana. Kedai ini hanya memanfaatkan teras rumah dan sebuah garasi kecil sebagai ruang usaha. Namun sederhana bukan berarti asal-asalan. Terbatasnya ruang dimanfaatkan dengan maksimal oleh pemiliknya. Meja-kursi mini seakan sengaja dirancang untuk mempermudah pelanggan bercengkrama kepada kawan seperkopian. Jarak yang dekat antara meja dengan gerobak memperbesar kemungkinan pelanggan berinteraksi dengan barista. Mereka bahkan bisa menyaksikan langsung bagaimana kopi disajikan di balik gerobak dengan melongokkan kepala.

Untuk urusan ‘keintiman’, Kedai Kopi Apik memang patut diacungi jempol. Sejak saya menyeruput kopi pertama, sudah ada dua pelanggan datang yang bersalaman dengan seorang barista sebelum menempati kursi. Mereka bercakap-cakap seperti teman akrab.

Tidak perlu waktu lama, saya bisa merasakan sendiri keakraban itu. Tepat setelah saya memesan gelas kedua, seorang pemilik kedai duduk menemani saya. Ia bernama Gilang. Ia menawari kopi Gunungmanik.

“Baru di-roasting kemarin,” ujarnya sambil melayangkan senyum.

Kopi Maniis: Sajian Khas Kopi Apik
Kopi Maniis: Sajian Khas Kopi Apik | © Agam Rafsanjani

Sebelum mengenal tempat ini, saya tidak tahu bahwa Majalengka juga merupakan daerah penghasil kopi. Setahu saya, di wilayah 3 Cirebon (Indramayu, Majalengka, dan Kuningan), hanya Kuningan yang secara geografis cocok ditanami kopi. Itu pun tentunya hanya daerah dengan ketinggian tertentu saja. Lebih tepatnya, daerah yang berada di lereng Gunung Ciremai.

Yang saya tidak tahu, secara geografis, lereng Gunung Ciremai juga mencakup sebagian wilayah Kabupaten Majalengka. Kecamatan Talaga salah satunya. Nama Kopi Gunungmanik mengacu pada sebuah desa di kecamatan tersebut. Begitu pula Maniis. Desa yang terletak 15 km di selatan Kecamatan Talaga ini juga ternyata memiliki warga yang menanam kopi.

Meski terasa menjanjikan, harapan Majalengka memiliki komoditas kopi unggulan masih perlu dipacu lebih kencang. Sampai saat ini popularitas Kopi Majalengka, pun demikian dengan Kopi Kuningan, masih kalah jauh dibandingkan kopi-kopi dari Bandung Selatan.

“Kemarin pun panennya cuma sedikit. Hanya sekitar 30 kg. Ini pun green beans-nya saya dapat dari teman. Lalu saya roasting sendiri,” kata Gilang.

Aroma kopi menyebar setelah saya angkat vietnam drip. Saya dekatkan bibir gelas ke pucuk hidung demi menghirup asap yang masih mengepul. Dengan hati-hati saya seruput Gunungmanik yang masih panas. Ia memiliki sedikit rasa asam dan aroma rempah seperti jamu. Gilang yang menunggu saya menyelesaikan seruput kemudian bertanya, “Gimana?”

“Enak!” jawab saya sambil mengacungkan jempol.

Tahun 2014, Gilang dan dua rekannya, Agung dan Fahmi, mendirikan kedai ini. Pada tahun pertama mereka mereka menemukan tantangan terkait penduduk sekitar yang lebih sering menikmati kopi siap saji.

“Kalau tidak saset, ya kopi tubruk. Dikasih gelas pakai vietnam drip, mereka bingung cara minumnya,” kata Gilang.

Dengan penuh kesabaran dan keuletan, Kedai Kopi Apik bertahan dan semakin dikenal. Tidak hanya dari Majalengka, ada pula pelanggan yang sengaja datang dari Bandung maupun Jakarta untuk sekadar menikmati kopi di sini.

Untuk kopi single original, selain Maniis dan Gunungmanik,mereka punya Kopi Aceh Gayo, Toraja Rambu, Sumatera Lintong, Flores Bajawa, Temanggung, dan Bali Kintamani. Selain itu, kedai ini menyediakan cappuccino, café latte, dan sajian kopi variatif lain. Sajian favorit pelanggan adalah Kopi Vietcong. Menurut Gilang, istilah sajian kopi ditambah susu kental manis itu sebenarnya muncul dari pihak kedai yang kemudian diamini oleh pelanggan.

Papan Menu Sajian Kopi Apik
Papan Menu Sajian Kopi Apik | © Agam Rafsanjani

Apik dalam Bahasa Jawa berarti bagus atau baik. Gilang sedikit mengoreksi setelah saya menghubungkan nama kedai ini dengan artinya dalam Bahasa Jawa. Ia memiliki arti yang sedikit berbeda jika diartikan dalam Bahasa Sunda yang merupakan bahasa ibu Kabupaten Majalengka. Cermat atau teliti, demikian maknanya menurut Gilang.

Kedai Kopi Apik juga memiliki jargon tersendiri: Meracik Ukhuwah Kafeinniyah. Istilah ini tentu saja terinspirasi dari frasa ukhuwah islamiyah, yang kira-kira artinya adalah persaudaraan antarumat islam. Tinggal mengganti kata Islam dengan kafein. Dengan demikian, boleh jadi impian penting Kedai Kopi Apik kurang lebih untuk menjalin persaudaraan dengan kopi.

Dengan semangat ukhuwah kafeinniyah tersebut, Gilang tidak ingin kedai ini hanya berhenti pada level tempat ngopi saja. Baginya, kedai kopi hanya bagian hilir dari luasnya dunia perkopian. Perlahan-lahan ia ingin menyentuh bagian hulu, yakni petani kopi. Caranya, dengan memberdayakan petani kopi lokal agar hasilnya bisa dinikmati secara luas.

Langkah tersebut telah ia mulai beberapa bulan lalu. Waktu itu ia bersama kawan-kawan mengadakan kegiatan petik kopi. Mereka mengajak pelanggan kedai untuk mengunjungi kebun kopi dan melihat sendiri proses pengolahan hasil kopi. Ia berharap bisa mengadakan kegiatan semacam itu lagi dalam waktu dekat.

Tanpa terasa pembicaraan kami berlangsung hingga hari gelap. Saya ingat ini adalah malam minggu. Pelanggan semakin ramai berdatangan. Saya memutuskan untuk pulang.

Tepat sebelum saya berpamitan, datang seorang bapak bersama istri dan anaknya yang kira-kira berumur sepuluh tahun. Seolah berkawan akrab, ia menjabat tangan Gilang sebelum mengambil tempat duduk.

“Mau pesan kopi surabi,” kata Si Bapak.

Gilang menunjukkan wajah kebingungan, menandakan bahwa ia tidak memiliki menu tersebut.

Nu aya di Facebook ieu!” tegas Si Bapak.

“Oh, nu digambar-gambar eta?” Gilang coba mengarahkan.

Enya, nu aya gambar-gambarna.”

Gilang tersenyum kemudian menyerukan pesanan Café Latte kepada barista.

Agam Rafsanjani

https://twitter.com/agamgasrak

Penjual susu keliling.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405