Kedai Kopi ala Pembeli

Parkir Depan Kedai Kopi KD
Parkir Depan Kedai Kopi KD | © Ardy Prasetyo

Namanya kedai kopi Kang Dodik (KD). Disematkan dari nama si pemilik sekaligus satu-satunya pelayan di sana. Seperti umumnya kedai kopi tradisional, tidak memiliki plakat nama, tapi mafhum dikenal luas lantaran nama pemiliknya.

Jenis kopi andalan di kedai kopi KD berasal dari Desa Kayu Mas, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo. Desa Kayu Mas memang dikenal sebagai daerah penghasil kopi Arabica dan Robusta. Pada Festival Kopi Favorit Indonesia, di Bali tanggal 4-5 Oktober 2010 lalu, perwakilan Kelompok Tani Sejahtera Kayu Mas meraih juara satu untuk jenis kopi Arabica dengan merek dagang Jong Java.

Sertifikat Kopi Kayu Mas
Sertifikat Kopi Kayu Mas | © Ardy Prasetyo

Besarnya potensi kopi Kayu Mas membangkitkan nalar usaha Dodik. Ia yang juga berprofesi sebagai PNS guru olahraga di salah satu SMP di sana, tergerak untuk membantu pengembangan usaha kelompok tani kopi Kayu Mas. Ia pun membuka kedai kopi di tengah kota Situbondo sekaligus membangun pemasaran produk kopi kemasan Jong Java.

Dalam sebulan, kedai kopi KD bisa menghabiskan rata-rata lima belas kilogram kopi. Sedangkan untuk penjualan produk kemasan bisa mencapai dua kuintal per bulannya. Produk kopi kemasan Jong Java sudah memiliki banyak pelanggan di luar Situbondo. Pelanggan terbesarnya ada di beberapa café di Surabaya.

Ngopi Semalam Suntuk

Setiap kali saya ingin leluasa ngopi semalam suntuk, saya biasa berkunjung ke sana. Tidak seperti umumnya café yang belakangan banyak menjamur di Situbondo, Kedai kopi KD lebih bebas dalam menerapkan jam layanannya.

Meski dibuat aturan jam layanan—mulai pukul 19.00 sampai 02.00 WIB—kadang acara ngopi baru usai saat menjelang terang tanah. Kecuali di bulan puasa, maksimal layanan sampai imsak. Kalau ada yang masih maksa siap-siap saja diusir Dodik.

Ngopi Santai
Ngopi Santai | © Ardy Prasetyo

Bagi saya, ngopi di kedai kopi KD, bukan hanya sekadar rekreasi. Di sana saya bisa bertemu banyak kawan komunitas yang memiliki beragam latar belakang aktivitas. Beberapa yang rutin berkumpul di antaranya: komunitas situbondo kreatif, keluarga kampung langai, musisi lintas genre, penulis Situbondo dan sebagainya. Kalau pas libur masa kuliah, saya sering menemui kawan-kawan Situbondo yang kuliah di luar kota atau kawan jaringan yang ngopi di sana.

Sembari ngopi, saya bisa diskusi, meng-update informasi tentang apapun. Terutama mengenai kegiatan-kegiatan anak komunitas di Situbondo.

Komunitas dan Kebiasaan Ngopi

Dodik sudah enam tahun berkutat dengan dunia kopi di Situbondo. Sedikit demi sedikit ia belajar dan mengumpulkan pengalaman. Sudah empat kali bekerjasama dengan kawan-kawannya membuka kedai kopi. Yang terakhir ini lah, ia memutuskan untuk membuka kedai kopi sendiri.

Alasan memilih nama kedai bukan café karena sifatnya yang lebih komunal. Pengelolaannya sederhana dan sesuai dengan karakteristik pembeli, yang sebagian besar adalah anak komunitas di Situbondo.

Mengelola kedai kopi diperlukan ketelatenan, harus betah-betah dan diperlukan trik khusus untuk menjalin kedekatan dengan pembeli. Dodik pun mulai terbiasa menghadapi beragam karakter pembeli. Setiap hari tak kurang 50 pembeli datang ke kedai kopi KD.

Asik Diskusi
Asik Diskusi | © Ardy Prasetyo

Kebanyakan yang datang ke sini anak-anak komunitas, “Dari yang baik-baik sampe arek gendheng pun ada,” kata Dodik sambil cengengesan.

Arek gendheng identik dengan pembeli yang susah diatur. Pernah suatu malam, tiba-tiba kedai kopi riuh. Ternyata ada sebagian anak yang sedang mabuk nanggung, lalu membuat onar. Tanpa ba bi bu, Dodik mengambil samurai dan menggertak. Sontak mereka pun pergi berhamburan.

Menurut Dodik, di kedainya diterapkan suatu prinsip tidak tertulis: bebas asal tahu aturan. Ia pun mengambil sikap tegas, tak pandang pembeli langganan atau pun yang baru. Siapapun yang buat onar, sikat.

Namun, prinsip itu tidak diterapkan secara kaku. Di malam-malam sesudahnya, tak butuh waktu lama, mereka yang pernah buat onar bisa ngopi lagi. Dodik melayaninya seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Saya curiga, jangan-jangan Dodik mengidap goldfield syndrome. Sindrom ingatan jangka pendek seperti Drew Barrymore di film 50 First Dates, yang dengan mudah melupakan kejadian semalam. Atau mungkin begitulah sikap Dodik memperlakukan setiap pembelinya, yang lalu biarlah berlalu, sehingga mereka tetap betah ngopi.

Suasana Kedai Kopi KD

Kedai kopi KD dirancang laiknya kedai rumahan. Setiap pengunjung diajak untuk merasakan suasana rumah bernuansa kekeluargaan.

Mereka yang rutin datang lebih banyak cowok. Sesekali saja terlihat cewek yang ikut nongkrong, itu pun tak sampai larut malam. Bukan karena keengganan mereka untuk datang, namun suasana yang terbangun di sana agaknya memang lebih maskulin.

Cowok-cowok yang datang, kalau tidak asik dengan gadget-nya, asik dengan permainan catur atau kartu. Pilihan musik yang diputar pun hanya seputar no woman no cry-nya Bob Marley atau musik rock and roll yang cadas. Seringkali mereka terlihat berbincang serius atau tertawa bingar gak jelas. Yang pasti suasananya khas maskulinitas.

Untuk mengimbangi suasana seperti itu, Dodik punya trik tersendiri. Dia harus bersikap tegas tetapi selalu dibungkus dengan candaan, sehingga suasananya tetap cair.

Termasuk dalam urusan layanan. Kalau ada pembeli yang kurang puas, dengan ringan ia menyuruh pembelinya untuk membuat sendiri sesuai keinginan. Laiknya swalayan, melayani diri sendiri sesuai yang diinginkan. Dan bila ada pembeli yang sedang tidak punya uang atau lupa membawa uang, sebagaimana keluarga, Dodik memberi keleluasaan untuk membayar keesokan harinya.

Itulah sekilas suasana ngopi di kedai kopi KD.

Saran saya, bagi anda yang sedang berkunjung ke Situbondo, sebelum berkunjung ke café-café, datanglah ke kedai kopi KD. Alamatnya di Jalan Anggrek No. 71, Situbondo. Di sana Anda bebas menikmati kopi dengan cara ingin dilayani atau melayani diri sendiri. Anda juga bisa kenal anak-anak komunitas. Bisa tanya-tanya tentang kopi atau seluk-beluk Situbondo.

Kalau Anda laki-laki, anak komunitas di sana asik untuk dijadikan kawan berpetualang keliling Situbondo dan sekitarnya. Kalau Anda cewek, percayalah bahwa tidak cukup menilai seorang cowok hanya dari apa yang ditampakkan. Karena berdasar pengamatan saya, cowok yang rutin ngopi dan selalu berlama-lama, biasanya sosok yang penuh perhatian dan pendengar yang baik. Tabik!

Marlutfi Yoandinas

Pengelola Rumah Baca Damar Aksara di Kampung Langai, Situbondo.