Kecombrang dan Sebuah Usaha Menjaga Ingatan

Nasi Pedes Cipete
Rumah Makan Nasi Pedes Cipete | © Abdu Rizal Syam

Jadi ceritanya kemarin saya bersama beberapa kawan sedang berada di daerah Cipete. Karena matahari sudah tepat di atas kepala dan perut belum diisi sedari pagi, kami bersepakat mencari rumah makan untuk mengisi tenaga.

Saya lupa persisnya kenapa kita memilih rumah makan yang bernama Nasi Pedes Cipete, mungkin karena ada kata “pedes”nya, sebab rata-rata kami adalah penggila pedes.

Bagi saya pedas adalah suatu keharusan, apapun makanannya, semahal apapun itu, kalau tak pedas maka dengan sendirinya makanan itu saya anggap tak enak. Makanya saya setuju dengan ucapan si Bapak Proklamasi, bahwa kalau mencari istri harus yang pintar nyambel. Tentu saja nyambel berarti mengolah rasa pedas menjadi kebahagiaan. Ohya.. saya sepakat walaupun Pak Sukarno bermaksud nyambel yang “lain”.

Singkat cerita saya memesan salah satu menu di rumah makan ini, Ayam Kecombrang. Kalau Anda tidak tahu apa itu kecombrang, mungkin Anda tahu apa itu Honje, Kincung, Kencong, Bongkot, atau Patikala. Ya, itu adalah nama lain kecombrang dari berbagai daerah. Biar ayamnya nggak kesepian untuk karbohidratnya saya memilih nasi kluwek, nasi yang diolah dengan tumbuhan kluwek. Itu lhoo yang kemarin dibahas sama Mbak Fransisca Agustin.

Kecombrang dengan kluwek, ah betapa tradisionalnya lidah saya, begitu pikir saya ketika kedua menu tersebut tersedia di depan mata. Hati bisa berbohong, tapi lidah susah, tuan.

Niat awal mencari rasa pedas jadi lengkap dengan gurihnya kecombrang. Kebetulan di rumah makan ini juga disediakan tiga jenis sambel: sambel gledek, sambel wangi, dan sambel matah. Tentu saya memilih sambel gledek karena yang paling pedas.

Ayam Kecombrang
Ayam Kecombrang | © Abdu Rizal Syam

Kecombrang, masyarakat Sumatra Utara menyebutnya “asam cekala”, biasa dijadikan bahan untuk membuat sayur asam Karo atau ayam kencong. Dengan aroma yang gurih serta rasa asamnya membuat tumbuhan ini kerap memberikan efek kejut bagi pengunyahnya.

Dalam bahasa Inggris kecombrang biasa disebut Torch Ginger, ya, tumbuhan ini memang sepintas mirip seperti jahe. Kecombrang biasa diolah buah atau bunganya, dibikin lalap juga asoy, bayangkan dengan rasa yang asam dicocol pada sambel yang menggetarkan lidah.

Dengan rasa asam yang segar, kecombrang memang cocok dijadikan bumbu segala macam makanan, dari kapurung di Sulawesi selatan hingga pecel di Banyumas.

Kembali ke rumah makan, tak butuh waktu lama bagi saya untuk menyantap masakan yang bumbunya medok sekali ini, lidah betul-betul dimanjakan, ditambah sambal yang berhasil memproduksi butir-butir keringat di sekujur wajah. Gledek betul!

Gurihnya kluwek bercampur asam yang segar ditambah rasa pedas, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Saya lalu teringat dengan manfaat dari kecombrang, setahu saya kecombrang bisa dipakai untuk meredamkan bau amis pada ikan. Selain asam kecombrang juga memiliki aroma yang wangi, kira-kira seperti daun sirih lah. Makanya, kecombrang sering digunakan untuk menghilangkan bau badan. Ini saya tahu dari sang penguasa dapur di rumah: Ibunda!

Dari beliau pula saya tahu kalau kecombrang punya khasiat untuk mempertajam ingatan, entah karena ada kandungan apa di dalamnya, tapi tentunya saya percaya-percaya saja.

Makanya, kecombrang cocok buat para netizen, ingatan yang kuat akan sangat membantu, misalnya, kalian akan selalu ingat bahwa salah satu aktivis dulu pernah begitu benci pada si ibu dari bank dunia. Katanya antek neolib lah, komprador kapitalis lah, tapi sekarang malah sumringah setelah si ibu bank dunia kembali ke tanah air, hanya karena si aktivis sudah dapat kursi empuk. Kalian akan selalu ingat itu jika kalian terus mengonsumsi kecombrang.

Cocok juga untuk para pengampu jabatan negara ini, biar apa?, ya biar nggak amnesia ihwal sejarah bangsa. Hehehehe…

Abdu Rizal Syam

Penggila Pedas


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405