Katon Bagaskara: Negeri di Awan itu Dieng

Kabut yang mulai menipis di pagi hari
Kabut yang mulai menipis di pagi hari | © Ayu Adriyani

Awal Agustus, Dataran Tinggi Dieng kembali ditumpahi manusia-manusia dari berbagai daerah. Ya, Dieng Culture Festival (DCF) sebagai bagian dari usaha untuk merawat budaya setempat kembali dihelat. Ada yang bilang, event ini adalah event budaya tahunan paling romantis se-Indonesia. Ah, bukankah perkara romantis atau tidak hanya kostruksi masing-masing orang saja?! Kita sudah (diarahkan) seragam dalam banyak hal, semoga tidak dengan yang satu ini.

DCF adalah gelaran budaya yang diinisiasi oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Sebenarnya untuk Desa Dieng secara keseluruhan, sebagian wilayahnya juga masuk wilayah Kabupaten Wonosobo. Dataran Tinggi Dieng ini terletak di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, serta masih merupakan kawasan vulkanik aktif.

Secara geografis, Dieng memang salah satu magnet untuk para penikmat pegunungan. Desa ini adalah desa tertinggi kedua di dunia yang berpenghuni, setelah Tibet. Kondisi ini yang menyebabkan suhu di Dieng bisa sangat dingin. Memasuki musim kemarau apalagi, suhu bisa mencapai 0 derajat bahkan minus.

Dari ketinggian Dieng yang lebih dari 2000 mdpl, kita bisa melangkah semakin tinggi untuk bertemu puncak-puncak lain. Dari sini, kita bisa naik ke Bukit Sikunir untuk menyaksikan matahari merangkak naik (jika beruntung). Menuju ke Bukit Sikunir, bersiaplah untuk beberapa kemungkinan. Bisa jadi, kita bertemu golden sunrise (kata masyarakat setempat), atau hanya bertemu kabut dan ratusan orang dengan niatan yang sama di pagi buta. Tidak mengherankan jika ada yang beranggapan bahwa naik ke Sikunir itu sama saja seperti mengunjungi pasar, ramainya tak karuan, terlebih pada saat akhir pekan dan event DCF. Dan sialnya, saya termasuk golongan kedua.

Manusia-manusia di Bukit Sikunir
Manusia-manusia di Bukit Sikunir | © Ayu Adriyani

Nah, selain Bukit Sikunir, dari Dieng, kita juga bisa sekalian mendaki ke Gunung Perahu (Prau), Gunung Pakuwaja, dan banyak lagi. Oh iya, di pagi hari saat langit mulai terang, dari tempat yang sedikit lebih tinggi, kita bisa menyaksikan Dieng yang tertutupi oleh kabut. Beberapa puncak pohon tinggi dan atap Candi Arjuna yang masih nampak, menegaskan bahwa kabut-kabut itu memeluk kehidupan di bawahnya. Lagu Katon Bagaskara yang berjudul “Negeri di Awan” paling tidak bisa menggambarkan itu. Lagu yang diciptakan Katon bersama kakaknya Andre Manika yang bermukim di Wonosobo ini memang merujuk ke Dataran Tinggi Dieng.

Secara budaya, Dieng tak kalah menarik. Masyarakat Dieng masih memegang teguh adat istiadat yang kental dengan nuansa Jawa. Di tanah ini, kita bisa bertemu dengan “anak-anak pilihan”, anak-anak berambut ‘gimbal’. Belum ada yang bisa menjelaskannya secara ilmiah, namun masyarakat setempat meyakini bahwa anak-anak berambut gimbal adalah anak-anak utusan dewa. Hanya di Dieng inilah, rambut gembel bisa tumbuh secara alami pada usia-usia tertentu dan tidak menurut keturunan. Sebelum tumbuh, anak-anak yang “dikaruniai” rambut gimbal, biasanya akan menderita panas tinggi dan seringkali mengigau di saat tidur. Kalau sudah seperti itu dan dibawa ke dokter, hal pertama yang ditanyakan dokter adalah, “dari mana si anak berasal?”. Ketika dijawab “Dieng”, maka dokter telah paham, “tidak perlu penanganan khusus, ini hanya karena rambut gimbal akan tumbuh,” begitu cerita seorang kawan.

Anak Gimbal
Anak Gimbal | © Ayu Adriyani
Anak-anak Gembel diarak menuju halaman Candi Arjuna
Anak-anak Gembel diarak menuju halaman Candi Arjuna | © Ayu Adriyani
Ritual Jamasan
Ritual Jamasan | © Ayu Adriyani

Rambut ini akan kembali seperti sedia kala, ketika ada permintaan sendiri dari si anak gimbal untuk memotong rambutnya, tidak ada paksaan dari siapa pun. Masyarakat meyakini bahwa ketika pemotongan rambut bukan karena permintaan dari si anak, maka meski telah dipotong, rambutnya akan kembali gimbal. Setelah ada permintaan, beberapa persyaratan lain yang diinginkan oleh si anak juga harus dipenuhi. Pemotongan rambut gimbal pun tidak sembarangan, ada rangkaian ritual yang mesti dijalankan.

Tahun ini, ada sembilan anak yang melewati proses ruwatan (rangkaian prosesi pemotongan rambut). Permintaan mereka bermacam-macam. Ada yang meminta Buku Elektronik (baca: tablet), sepeda berwarna ungu, sampai yang paling sederhana meminta “jajanan di warung tetangga”. Salah satu syarat paling dasar dari pemotongan rambut ini, adalah anak yang bersangkutan sudah berumur lima tahun ke atas. Sebab di usia ini, anak-anak sudah cukup mampu meyakini keinginannya. Seorang kawan bercerita bahwa permintaan anak-anak itu sebenarnya akan mencerminkan bagaimana ia di masa yang akan datang. Bagi saya, tradisi Dieng ini adalah sesederhananya makna “menghargai dan mendengar suara anak, sekecil apapun bunyinya”.

Sesaat sebelum ritual pencukuran
Sesaat sebelum ritual pencukuran | © Ayu Adriani

Puncak acara DCF adalah prosesi ruwatan. Prosesi ini diawali dengan arak-arakan (kirab), kemudian disambung dengan ritual jamasan (memandikan anak gembel). Setelah itu, barulah prosesi pemotongan rambut dilakukan di halaman kompleks Candi Arjuna. Pemotongan ini dilakukan oleh para tokoh masyarakat, termasuk Gubernur Jawa Tengah dan disaksikan langsung oleh para Raja dan Ratu dari berbagai daerah di Indonesia yang datang langsung sebagai undangan dan seluruh masyarakat luas. Usai pemotongan, dilanjutkan dengan ritual “ngalap berkah”. Pada ritual ini, tumpeng dan makanan selamatan diperebutkan. Mereka percaya bahwa ritual ini bisa mendatangkan keberkahan bagi yang mengikutinya. Terakhir adalah proses larungan. Rambut yang telah dipotong akan dilarung di Sungai Serayu yang akan mengalir menuju ke Laut Selatan.

Selain puncak acara ini, panitia penyelenggara juga melakukan banyak rangkaian acara pengantar. Di antaranya, gelaran “Jazz atas Awan” yang juga diwarnai kilatan kembang api dan festival lampion—kata banyak orang, ini bagian yang paling romantis. Tahun ini, Katon Bagaskara, Anji, dan banyak musisi lainnya turut meramaikan gelaran ini. Selain itu, juga disajikan banyak sekali penampilan kesenian khas Dieng.

Penerbangan Lampion
Penerbangan Lampion | © Ayu Adriyani
Penerbangan Lampion
Penerbangan Lampion | © Ayu Adriyani
Panggung Jazz atas Awan
Panggung Jazz atas Awan | © Ayu Adriyani

Masyarakat Dieng tumbuh dengan atmosfer keislaman yang kuat, meski di atas tanahnya, terdapat candi yang mereka percayai sebagai candi tertua dalam peradaban Hindu di Pulau Jawa. Pola hidup keseharian masyarakat Dieng adalah produk akulturasi agama dan budaya lokal. Ritual-ritual yang masih mereka rawat dimaknai sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Ritual syukuran misalnya, ia adalah simbol hakekat manusia yang seharusnya tidak abai dengan sesamanya, ia menjadi sarana untuk berbagi, sarana untuk bersyukur kepada yang Maha Pemurah. Dalam konteks ini, saya percaya bahwa kedekatan kita terhadap Tuhan, sering kali tidak membutuhkan deklarasi. Ia mewujud dalam banyak bahasa tanpa kata, lewat ritual-ritual budaya misalnya. Bagaimana pun, budaya adalah pintu masuk untuk bisa berbaur dan diterima oleh masyarakat setempat. Olehnya, tidak mengherankan jika Dieng sejuk dengan nafas penghargaan terhadap—yang mereka percayai sebagai— warisan leluhurnya.

Kembali ke gelaran DCF. Gelaran ini untuk sebagian orang mungkin hanya sekadar pelepas penat, kabur sesaat dari sesaknya dunia kerja dan buruknya polusi perkotaan, lalu kemudian usai. Namun lebih jauh dalam konteks pembangunan, kita bisa belajar bahwa masyarakat Dieng melalui DCF adalah potret bagaimana masyarakat berdaya untuk mengolah daerahnya secara partisipatif. Di sini, kita melihat pengetahuan-pengetahuan lokal yang bekerja, bukan pengetahuan yang “dimatikan” atas nama pembangunan. Selama kurang lebih tiga hari, perputaran uang masyarakat kota dari berbagai penjuru berpindah ke Dieng. Perputaran ekonomi ini pun berlangsung dengan tanpa merusak adat istiadat setempat.

Bisa dibilang, DCF adalah “dari, oleh, dan untuk masyarakat Dieng” saja sebenarnya. Selain menjadi usaha untuk memperkenalkan budaya Dieng ke masyarakat luas, lebih penting, DCF adalah ruang untuk masyarakat manunggal dengan kedigdayaan sejarahnya, kebahagiaan masa kininya, dan kebesaran harapan untuk masa depannya. DCF adalah ruang pertemuan seluruh dimensi waktu itu. Meminjam narasi penutup yang dibacakan Reza Rahadian dalam film Banda, “melupakan masa lalu sama dengan mematikan masa depan”. Kurang lebih, serupa itulah kebesaran harapan akan masa depan dikemas di tanah Dieng–dengan merawat sejarah.

Melalui DCF, masyarakat setempat (tua-muda) mengemas kembali sejarah warisan leluhur mereka dengan cara modern untuk memastikan bahwa tradisi mereka tetap menjadi warisan terbaik untuk anak cucunya nanti. Sungguh, bagaimana program pembangunan berkelanjutan yang menyisakan banyak tanya itu, bisa dinikmati dengan sederhana tanpa tanya di Dieng ini.

Akhir kata, dari negeri di Awan, selamat memaknai romantisme masing-masing.

Ayu Adriyani

Sedang belajar banyak hal. Peminum Kopi dan pengagum dunia anak-anak.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405