Kasrengan: Angkringan khas Bumi Pasundan

Warung Nasi Kasreng di jalan Luragung - Cibingbin
Warung Nasi Kasreng di jalan Luragung – Cibingbin | © Media Warga Kuningan

Saat mengunjungi kota Jogja, akan sangat rugi bila tak sempat mampir di warung kuliner sederhana seperti Angkringan. Harganya yang relatif murah, tempat ini begitu mudah ditemukan seperti pula warung makan burjo dan warmindo.

Angkringan merupakan tempat nangkring —aktivitas tubuh dalam keadaan duduk, dengan satu kaki diangkat di atas kursi— untuk makan atau sekedar ngopi sambil ngemil kudapan hangat.

Sajian angkringan biasanya menyediakan nasi kucing atau nasi bakar, juga ada banyak ragam kudapan yang siap dibakar dadakan, seperti gorengan, telur puyuh, bakso, tempura dan jenis-jenis lain dari sosis di pasaran.

Itu Angkringan di Jogja, di Jawa.

Di bumi Pasundan, —yang kata Pidi Baiq dicipta Tuhan saat sedang tersenyum— ada warung kuliner yang masih satu peranakan dengan angkringan. Warung kuliner ini sama-sama lahir dari rahim mata pencaharian yang kemudian diberi nama Kenangan. Eh, maaf, maksudnya Kasrengan!

Kasrengan, seperti angkringan, adalah tempat mengisi kebuncitan perut dan ngopi sembari ngobrol ringan.

Biasa juga disebut sebagai Warung Kasreng, sebab nasi disana diberi nama Nasi Kasreng. Adalah Ibu Kasrih sebagai penggagas pertama Nasi Kasreng. Pada awalnya ia menjual nasi hanya dengan gorengan dan sambal pedas untuk para sopir angkutan di pasar. Namun kemudian produk jualannya itu dilekatkan dengan namanya. Kasrih dan Gorengan disingkat Kasreng.

Berbeda dengan Angkringan yang lauk pauk dan sambalnya dibungkus secara satu-kesatuan, nasi kasreng hanya nasi biasa yang dibungkus kerucut tanpa lauk pauk. Sementara itu lauk pauk dan sambelnya terpisah dan pelanggan diberi kebebasan mencomot sesukanya.

Memang lauk pauk nasi kasreng tidak semewah lauk nasi padang atau nasi warteg. Biasanya hanya ada Lauk Inden (ikan teri/rebon), lalapan berupa taoge mentah, kol, atau daun singkong, dan sambal merah yang menggoda.

Lauk pauk di atas sudah sepaket dengan nasi, hanya saja dipisah. Saat membeli nasi kasreng untuk dibungkus dan dibawa pulang, akan langsung diberi paketan lauk tersebut. Meski dengan lauk yang begitu sederhana, warung kasreng juga biasa menyediakan lauk tambahan yang lebih raos, sebut saja seperti ragam pepesan dari tahu sampe jeroan, acar gurame, ayam, dan lele goreng, dan tak lupa selalu ada: mendoan.

Bila angkringan bisa ditemukan di kota-kota besar model Jogja, Jakarta, Surabaya, Semarang atau bahkan Cirebon sekalipun. Kasrengan justru sebaliknya, ia berada di daerah pedalaman yang jauh dari riuh kota. Di tepi jalan, di pinggir pesawahan dengan panenjoan perbukitan.

Bumi Pasundan yang dimaksud bukan Bandung, bukan juga Garut atau Sukabumi. Nasi kasreng dirintis oleh Ibu Kasrih dari Bumi Pasundan yang sering dilupakan ada di daerah Luragung, Kuningan.

Saat kita sudah tiba di warung kasreng dan mencomot bungkus nasi kerucutnya, maka satu gelas teh hangat tawar akan segera dihadirkan dengan senyum ramah dari penjualnya. Iya senyum someah “silih asah silih asuh” khas Sunda itu lho.

Ali Nur Alizen

Bujang Sunda yang kadang menjadi dengan abal-abal.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405