Kasih Mamak di Sebuah Pincuk Cenil

Cenil
Cenil | © Izzul Millati Umami

Pada siang hari yang terik itu tiba-tiba Mamak mencariku dengan agak tergopoh. Menarikku yang saat itu berada di kolam sedang memberi makan ikan koki kesayangan dengan khidmat. Mamak, wajahnya yang masih berseri di usia yang tak lagi muda itu memintaku cepat-cepat pergi ke warung Lek Turimah buat membeli beberapa bahan untuk dipakai membuat sesuatu.

Kata Mamak, Mbak Gandis sedang ngidam makanan tradisional Jawa bernama cenil. Mbak Gandis maunya makan cenil hasil bikinan tangan mamak sendiri. Aku sendiri maklum, di tengah masa kehamilanya yang berusia tiga bulan jalan ini, Mbak sering sekali ngidam sesuatu.

Maka dengan cekatan aku pergi menuju warung Lek Turimah membeli bahan sesuai pesanan mamak tadi, di antaranya tepung kanji, garam halus, daun pandan, dan pewarna makanan. Sebenarnya, untuk membuat cenil juga dibutuhkan gula untuk pemanis. Tapi kata mamak, “Gulanya nggak usah beli ya, Nduk, sudah banyak di dapur”.

Aku langsung memberikan bahan-bahan yang telah kubeli kepada mamak sekalian memberikan uang kembalian. Mamak kemudian memintaku untuk menemaninya di dapur. Ini yang amat aku suka darinya. Mamak paham sekali tentang kualitas tanganku di dapur yang serba amburadul. Meski begitu, mamak tidak pernah sekalipun marah jika aku melakukan kesalahan. Maka, mamak hanya memintaku untuk mengambilkan bahan-bahan yang sekiranya dibutuhkan.

Pembuatan cenil menurutku tak terlalu sulit. Air panas direbus dengan garam di dalam panci. Kemudian, setengah tepung kanji dimasukkan ke dalam rebusan tersebut dan diaduk hingga kental. Setelah dirasa agak kental, baru hasil rebusan tepung kanji ditiriskan dan dicampur dengan sisa tepung kanji yang tidak direbus. Keduanya kemudian dibuat bulat agak besar. Bulatan tepung tersebut lalu diberi pewarna sesuai keinginan. Karena ada dua pewarna yang kubeli yaitu hijau dan merah, kami membuat dua bulatan besar saja.

Setelah warna tercampur seluruhnya, baru bulatan dibuat kecil-kecil. Jika semua sudah dibuat bulatan kecil, tinggal dimasukkan ke dalam panci yang terisi rebusan daun pandan dan air untuk dimasak hingga matang. Kata Mamak, kalau adonan bulat kecil tadi sudah mengembang di atas air, itu tanda kalau cenil sudah matang.

Setelah ditiriskan, barulah cenil dihidangkan dengan parutan kelapa yang dicampur dengan gula sesuai selera. Bisa gula pasir, atau pun gula jawa. Mamak tak lupa menata cenil-cenil tersebut dalam sebuah pincuk yang terbuat dari daun pisang. Lidah jawa seperti kami ini memang lebih suka dengan makanan yang disuguhkan di atas daun pisang dibanding piring kaca. Aku tak kuasa menahan godaan yang melambai-lambai menusuk hidung. Bau cenil setelah disuguhkan terasa begitu khas dan menggoda indra penciuman. Ditambah lagi dengan warna hijau segar dan merah yang menyala-nyala. Benar-benar membuat diriku ingin segera menerkamnya saat itu juga.

Eh, eh, eh si genduk kok wis pengin ae. Kono suguhno Mbakmu disik

Enggih, Mak, hehe.

Apa mau dikata, mamak menyuruhku untuk tidak makan cenil dahulu sebelum mbak yang lagi ngidam makan duluan. Aku pun memenuhi perintah mamak untuk memberikan sepincuk cenil kepada mbakku yang sedang duduk di ruang belakang.

“Buatan Mamak memang paling maknyos, aku yakin ini bukan buatan kamu,” ucap mbak terkekeh geli.

Sementara aku hanya bisa tersenyum mendengar seloroh mbak tersebut. Mbak memang paling peka, maka dengan segera dia menyodorkan pincuk cenil itu kepadaku, memintaku untuk makan juga bersamanya. Kami berdua pun makan dengan lahap.

Tiba-tiba mamak muncul dari arah dapur, membawa sepincuk cenil lagi. Walhasil, kami bertiga makan cenil bersama di teras belakang. Ketika itu juga ujaran-ujaran keluar dari mulut kami. Mengomentari betapa enaknya cenil yang kami makan, disusul dengan celoteh-celoteh ringan yang tidak ada habisnya. Kami membincangkan tentang sekolahku, tentang anak Mbak Gandis, tentang mamak, dan tentang bapak juga.

Saat perbincangan kami mengarah kepada Bapak, tiba-tiba raut muka kami sedih, terutama mamak. Bapak telah wafat setahun lalu. Meninggalkan kami semua sebab penyakit yang diderita beliau sudah lumayan parah. Sementara ketika bapak sakit, beliau meminta mamak membuatkan cenil lebih sering dibanding ketika beliau sehat bugar.

Memang, antara cenil dan juga bapak adalah hal yang tak terpisahkan. Ada banyak kenangan yang telah terjalin selama ini. Di cenil itu pulalah kasih sayang seorang mamak terletak. Bagaimana beliau dengan sabar membuatkan cenil setiap kali bapak, aku, atau Mbak Gandis meminta. Syukur kami semua sudah pernah menyecap cenil buatan mamak. Juga, syukur pula kami masih merasakan kasih sayang Mamak yang tiada terkira sampai detik ini. Alhamdulillah.

Izzul Millati Umami

Pecandu buku yang hobi mendengarkan musik rock. Nama Pena: Jul Mila.