Kartini, Burung Pantai Lincah yang ingin Terbang Bebas

Raga bisa terpasung tapi jiwa harus terbebaskan,” kata Raden Mas Panji Sosrokartono sembari memberikan kunci lemari berisi buku-buku pada adiknya, Trinil kala menghadapi masa-masa kebosanan menunggu pingitan untuk dinikahkan. Sebuah tradisi masyarakat Jawa bagi perempuan yang dianggap sudah menginjak dewasa adalah menunggu lamaran seorang laki-laki untuk dijadikan istri.

Tidak peduli soal umur, masa itu di sekitaran tahun 1800-1900, saat seorang perempuan sudah mengalami masa menstruasi pertama, saat itu pula perempuan bisa dinikahi. Termasuk jika si perempuan akan dijadikan istri keberapa. Asal derajat dan martabat calon laki-laki masuk dalam kategori standar keluarga, tak akan ada lagi tedeng aling-aling apapun bagi laki-laki untuk mempersunting perempuan pilihannya. Posisi perempuan di masa itu hanya bisa tabah dan ikhlas jika sewaktu-waktu dilamar lalu dipersunting seorang laki-laki.

Film Kartini
Film Kartini

Trinil adalah nama kecil sekaligus panggilan kesayangan Kartini oleh ayahnya, Bupati Jepara bernama RMAA Singgih Djojo Adhiningrat. Trinil berarti pula; “burung pantai yang lincah”. Konon, menurut banyak literasi, alasan panggilan Trinil karena Kartini kecil yang dikenal cerdas dan cantik.

Pada kesehariannya menghadapi belenggu pingitan, Trinil satu kamar dengan adiknya Roekmini dan Kartinah. Dua orang yang menjadi wadah curahan hati pemikiran Kartini tentang kebebasan, kesetaraan, dan keadilan yang harus diperjuangkan perempuan. Pada kedua adiknya itu pula, Kartini memotivasi agar perempuan itu harus cerdas, mandiri dan tidak hanya sibuk mempercantik diri. Caranya tidak lain adalah dengan bersekolah, membaca, dan menulis untuk memperluas cakrawala berfikir.

Perkenalannya dengan tokoh feminis Belanda, Rosa Abendanon dan Estelle “Stella” Zeehandelaar, turut mempengaruhi pemikirannya tentang kebebasan dan kesetaraan. Itu sebabnya, Kartini selalu menulis dan mengirimkan naskah-naskah tulisannya ke berbagai media di Belanda. Termasuk majalah De Hollandsche Lelie, sebuah jurnal terkemuka wanita Belanda saat itu.

Kondisi itulah yang membuat jengkel ibu tirinya, Raden Adjeng Moeriam, yang menganggap jika pemikiran Kartini terus berkembang bisa merusak tradisi keluarga. Tak hanya ibu tirinya, kakak tertuanya, Slamet, juga mengekang pemikiran Kartini. Alasannya adalah nama baik keluarga di mata bupati-bupati sekawasan, jika sampai mengetahui putri seorang bupati Jepara tidak menjalankan penuh nilai-nilai adat istiadat. Beberapa kali di film itu, dikisahkan surat-surat Kartini yang akan dikirim ke media Belanda langsung dirobek oleh Slamet karena bertolak belakang dengan tradisi Jawa.

Begitulah cara Kartini melawan budaya feodal masyarakat Jawa di masanya. Membaca dan menulis adalah kegiatan yang rutin dilakukan Kartini. Sebagai anak bupati, Kartini juga sering turun langsung menyapa rakyat Jepara. Memotivasi warga, mempromosikan ukiran-ukiran kayu khas Jepara hingga mengembangkan usaha rakyat Jepara. Dampak nyatanya, di masa itu perekonomian rakyat Jepara sangat sejahtera karena pesanan ekspor ukiran kayu ke luar negeri meningkat pesat.

Film besutan sutradara Hanung Bramantyo itu membawa nama-nama aktor kawakan di filmnya kali ini. Mulai dari tokoh Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat diperankan oleh Deddy Sutomo, RA Kartini (Dian Sastrowardoyo), Slamet (Denny Sumargo), Raden Adjeng Moeriam (Djenar Maesa Ayu), Roekmini (Acha Septriasa), Kardinah (Ayushita), Sosrokartono (Reza Rahadian) dan Raden Adipati Joyodiningrat (Dwi Sasono).

Feminisme dan Bakti

Banyak orang berpendapat, pembahasan mengenai isu-situ feminisme kerap berkonotasi dengan hal negatif, karena selalu bicara kebebasan dan kesetaraan perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan. Padahal, secara substansi apa yang diperjuangkan oleh Kartini terkait feminisme adalah upaya perlawanan kaum perempuan terhadap kekerasan, penindasan, dan diskriminasi yang marak kita saksikan hari ini. Baik itu di rumah tangga, tempat bekerja, dan pada kehidupan masyarakat.

Kartini dan Kedua Saudaranya (Majalah Historia)
Kartini dan Kedua Saudaranya | Sumber: Majalah Historia

Setidaknya, ada empat pembelajaran yang bisa kita ambil dari film Kartini yang mulai tayang 19 februari 2017 lalu itu. Pertama, Kartini sangat mendambakan sosok perempuan yang independen, dan mampu bekerja untuk kebaikan dalam kehidupan masyarakat. Kedua, Kartini sangat dipengaruhi pemikiran politik Barat yang menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ketiga, Kartini sangat menentang diskriminasi terhadap perempuan. Kemudian yang terakhir, Kartini menyatakan “perang” terhadap poligami.

Jujur, sebagai laki-laki saya sangat terkesan dengan pemikiran Kartini, saya menonton film Kartini, di hari pertama film itu tayang di bioskop Hermes XXI, kota Medan. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari film tersebut. Pelajaran akan kekuatan perempuan, pemahaman akan pentingnya peka terhadap lingkungan sekitar di tengah kehidupan Kartini sebagai anak bangsawan.

Tentu yang paling penting adalah kesadaran akan bakti kepada orang tua. Sebab, pada film itu, ada pesan moral yang ingin disampaikan oleh sutradara terkait bakti. Sepintar apapun, sepopuler apapun dan seterkenal apapun seorang anak hingga mendapatkan pujian dari seluruh dunia, posisinya di keluarga tidak akan pernah bisa melebihi orang tua. Di rumah tempat kita lahir dan dibesarkan, melawan orang tua adalah tindakan yang harus dijauhkan dari pikiran.

Itu sebabnya di film tersebut, pada satu dialog dengan ibu tirinya Moeriam berucap pada Kartini ;

“Setinggi-tingginya Londo-londo itu memujamu kedudukanku di rumah ini lebih tinggi dari kamu (Kartini)”

Di situ kartini tidak sedikitpun melawan ibu tirinya, sebab ia (Kartini) sangat menyadari tentang bakti dan sopan santun pada orang tua.

Itu pulalah yang menjadi alasan Kartini, tidak menolak permintaan ayahnya RAA Singgih Djojo Adhiningrat saat menerima lamaran untuk segera dinikahi Bupati Rembang meski telah beristri, Raden Adipati Joyodiningrat. Padahal saat itu, Kartini sedang menunggu jawaban permintaannya pada pemerintah Belanda terkait beasiswa.

Kartini tidak sedikit pun menolak permintaan keluarga, meski dengan tiga syarat yang diajukannya; pertama, Kartini menolak menjalankan ritual mencuci kaki suaminya. Kedua, Kartini menolak sistem sopan santun yang rumit masyarakat Jawa dan ketiga, mengharuskan siapa pun suaminya kelak harus membantunya mendirikan sekolah untuk perempuan dan orang-orang miskin. Tanpa ragu dan sungkan, Bupati Raden Adipati Joyodiningrat pun menyanggupi permintaan Kartini.

Di sini, kita melihat Kartini menjadi sosok yang ikhlas dan berjiwa besar. Sebab, pemikirannya telah melampaui zamannya. Bakti yang ia tunjukkan tidak hanya untuk dirinya sendiri dan keluarga, tapi juga untuk perjuangan kaum perempuan Indonesia terbebas dari rasa takut, diskriminasi dan kesetaraan hingga saat ini.

Anwar Saragih

Penulis dan Peminum Kopi