Karena Ngopi adalah Hak Semua Umat Manusia

Di tengah-tengah obrolan dengan beberapa kolega yang tidak akrab-akrab amat, saya ikut terjun ke dalam pembahasan tentang betapa addict-nya masing-masing dari mereka terhadap kopi dengan sebuah pengakuan, bahwa saya belum pernah minum kopi starbucks dengan uang saya sendiri.

Seketika, empat pasang mata tersebut menyerbu saya tajam. Seolah meminta penjelasan lebih lanjut, tanpa ragu saya menimpali dengan bangga.

“Ya, selalu dibayarin, dan selalu pergi ke sana karena pekerjaan. Pertama kali saya minum di situ sekitar empat tahun lalu, untuk merundingkan sebuah proyek.”

Saya kenal mereka kurang lebih 8 bulan dan belum pernah mereka memandang saya bagai alien seperti ini.

Memahami posisi mereka, saya ragu-ragu menambahkan pembenaran.

“Kopinya mahal sih..”

Sekarang mereka bahkan memandang saya bagai alien dari planet bernama miskin.

Salah seorang dari mereka kemudian menyebut saya bukan coffee addict sehingga memperurus masalah remeh demikian. Ya, menurutnya harga itu soal remeh.

“Kalau sudah addict..” tandasnya “You won’t compromise, you want your coffee to be great, made by your favorite barista

Iya, saya paham seharusnya yang benar adalah addicted. Tapi ya sudah lah ya.

Saya membiarkan percakapan tersebut mengalir dengan menjadi pendengar saja. Masing-masing menceritakan kehebatan warkop Amerika tersebut dan pengalamannya bertemu dengan regular costumer yang saban hari nyarap di situ. Orang kaya tentu saja.

Buat orang yang tidak kaya seperti saya, selalu membingungkan sekaligus lucu melihat polah orang kaya. Tapi yang lebih membingungkan dan lebih lucu dari itu adalah melihat obsesi teman-teman (yang tidak kaya) terhadap kehidupan mereka.

Melihat mereka memandang kedai tersebut sebagai standar kopi enak, saya jadi ingat tentang seorang teman yang begitu ahli soal kopi beropini sebaliknya.

Sbux itu enak buat noobs, awam, atau nyari yang praktis aja.”

Saya sangat percaya opininya, karena dia mengerti ilmu biji-biji kopi, teknik membuat kopi yang enak dan hal lain-lainnya itulah. Di samping itu, setelah saya ingat-ingat lebih jauh, beberapa teman lain dari lingkaran yang berbeda juga berpendapat serupa, sbux itu medioker, titik.

Sejenak terbesit di pikiran saya untuk kembali masuk ke dalam percakapan tadi, untuk memamerkan pengetahuan yang saya dapatkan dari teman-teman yang lain, dengan istilah-istilah asing, untuk menunjukkan bahwa saya tidak awam soal kopi dan justru mereka yang noobs.

Untungnya akal sehat datang lebih cepat. Mulut saya tetap terjaga rapat tanpa komentar tambahan yang akan menyakiti perasaan siapa pun.

Namun sebelum menutup diskusi malam itu, salah seorang dari sbux fanboy tersebut mengajak saya nongkrong di sana lain waktu, “Aku traktir deh.”

Sial!

Ujung kalimat tersebut memaksa saya mempertahankan harga diri, saya bersemangat menolaknya dengan cara menawarkan balik nongkrong di tempat lain, tempat yang (kata para pakar kopi jauh lebih enak dari sbux)

“…….. Blue Doors, Java Preanger, Yellow Truck, Two Cents atau kalo mau eksperimen di deket pasar Cisangkuy ada tempat baru, baru banget bahkan belum ada plangnya dan baristanya bikin kopi di pos satpam, kalian liat langsung cara bikinnya depan muka, aku aja yang bayarin kalian semua.”

Rentetan kalimat tersebut cepat memberondong, berusaha mempersepsikan kalau saya memang sering ke sana karena sejujurnya, dari lima tempat tersebut baru tiga tempat yang pernah saya kunjungi, dan masing-masing hanya pernah sekali memesan secangkir kopi.

Mungkin benar kata orang, menggertak, walaupun kelihatannya gagah, sebenarnya hanya tanda kelemahan dan senjata perlawanan terakhir ketika tak ada opsi lain dengan harapan lawan bisa turun mentalnya.

Saya tidak paham bagaimana mereka memaknai kalimat-kalimat saya barusan. Harapan saya hanya berhenti dilihat sebagai alien dari planet miskin. Karena miskin dan irit itu beda.

Tapi memang tidak semua orang memahami perbedaan yang tidak kentara tersebut. Karena hal yang kentara adalah orang kaya pada umumnya tidak irit.

YHA. Obviously!

Di tengah perjalanan pulang dari pertemuan tersebut, saya mampir ke warung dekat kosan untuk membeli beberapa bungkus kopi Good Day Cappuccino untuk menemani nonton film.

Menurut saya, rasanya hanya sedikit kurang pahit, kurang berasa susunya, dan kurang busa. Tapi kekurangan tersebut tidak signifikan dan bisa ditolerir, mengingat harganya yang hanya setara dengan ongkos parkir mengunjungi kedai kopi fancy dan lagi agaknya hanya orang tajir mampus yang membayar seorang barista bekerja setiap saat di rumahnya: orang kaya nanggung/orang kaya irit jika ingin minum kopi di rumah pasti nyeduh sendiri kopi bubuk instan, atau diseduhkan pembantunya.

Setelah membuat secangkir kopi instan tersebut, saya memasukan bungkus lainnya ke toples persediaan kopi, saya memerhatikan beberapa bungkus kopi yang sudah tinggal setengahnya dan dibiarkan diikat karet gelang tanpa pernah disentuh lagi, salah satunya kopi gayo dan ulee kareng yang saya beli beberapa bulan lalu saat mengunjungi Aceh.

Seorang teman yang sedang berkunjung ikut memerhatikan isi toples tersebut, dia salah satu dari pakar kopi yang saya sebut di atas, perhatiannya tertuju pada beberapa bungkusan kecil gula putih.

“Kamu masih minum kopi pake gula ya?” tanyanya.

Saya malas sekali berdebat soal hal ini. Setelah dipikir-pikir, teman-teman yang pakar kopi dan juga orang-orang sejenisnya ini terlalu sering meributkan bagaimana orang harus minum kopi. Ya terserah lah ya.

Saya tidak bisa melihat adanya stratifikasi dalam menyisip secangkir kopi. Mau gulanya sedikit, banyak atau lebih banyak daripada kopinya kek, toh namanya tetap ngopi. Kopi yang diseduh dari kemasan sachet 3 in one, yang gulanya dipisah, atau kopi dengan latte art di atasnya. Esensinya tetap minum kopi.

Saya melihat perkara cara minum kopi ini merekfleksikan bagaimana masyarakat modern perkotaan: senang membuat hal simpel menjadi rumit.

Dalam kehidupan urban, semuanya harus terstandar, termasuk selera dan pilihan untuk ngopi.

Padahal tanpa manual brewing dan mesin expresso pun pengalaman minum kopi tetap menyenangkan. Jika tidak percaya coba tanyakan pada beberapa sampel ini, dan saya amat yakin mereka akan bilang bahwa kopi sachet tidak buruk:

  1. Bapak-bapak yang berkumpul mengobrol di sekitar rumahnya menjelang larut malam.
  2. Orang-orang yang sedang ronda/siskamling (di daerah kos saya, kegiatan ini masih eksis).
  3. Hansip dan satpam yang jaga malam.
  4. Tukang ojek yang menunggu giliran dengan main kartu.
  5. Orang yang main kartu poker, remi atau gaplek.
  6. Programmer yang begadang.
  7. Mahasiswa yang belajar sebelum ujian.
  8. Suami yang biasa dibikinkan kopi oleh istrinya setiap pagi.
  9. Penghuni tetap warkop dan burjo indomie.
  10. Semua orang kecuali pakar kopi.

Selain para pakar kopi, saya belum pernah menemukan seseorang menilai yang lainnya berdasarkan takaran gula pada kopinya. Ketika bertamu, misalnya, tuan rumah bertanya hanya untuk menanyakan selera, bukan untuk melempar prejudice.

Para pakar makanan lain pun rasanya tidak ada yang setendensius pakar kopi. Sebagai contoh pakar mie tidak pernah bilang indomie sucks dan membangga-banggakan mie aceh, mie yamin atau mie kocok yang dimasak mendadak oleh chef di restoran tertentu, pun saya tidak pernah mendengar perdebatan siapakah peminum susu sejati: susu bubuk, murni, UHT atau kental manis kah.

Di samping itu, buat saya pribadi, ngopi adalah simbol pria dewasa. Saya ingat sekali pertama kali saya ditawari kopi ketika bertamu ke rumah kerabat, hal ini janggal karena biasanya tuan rumah hanya menawarkan kopi kepada bapak, dan saya akan dipaksa memilih antara teh manis atau sirup dingin. Maka begitu saya ditawari apakah ingin kopi hitam atau kopi susu, lengkap sudah rasanya saya jadi seorang pria dewasa.

Akhir kata, mudah-mudahan kesotoyan para pakar ini hanyalah sebuah bentuk apresiasi tinggi terhadap kopi, sebagai salah satu kebaikan terbaik yang pernah terjadi pada umat manusia; sebagai komoditas; perdagangan global; penyokong ekonomi; media bergaul; teman begadang dan banyak keuntungan lainnya.

Semoga kesotoyan mereka ini juga bukan bermaksud merendahkan orang lain, atau merebut istilah “ngopi” dari awalnya sebagai kegiatan yang merakyat (tak peduli kelas sosial-ekonominya) menjadi untuk kelas menengah dan yang di atasnya. Menyempitkan maknanya dari media bersosialisasi yang tak terbatas tempatnya menjadi kegiatan yang hanya bisa dilakukan di kafe-kafe mahal, diukir barista ganteng yang diidam-idamkan gadis pengunjung.

Riza Yudhistira

Anak sulung dari keluarga Jawa, tinggal di Bandung bersama orang-orang baik dan hangat.