Karena Kopi Tak Pernah Salah

Kopi hanya terasa nikmat ketika ia tidak perlu diperdebatkan lagi saat diteguk.

“Cappuccino, cold caramel machiato, hot caramel machiato sama flat white,” pesan saya kepada seorang pelayan Yellow Truck Cafe, salah satu kafe di kota Bandung.

Hujan baru saja selesai menguyur. Hari masih belum terlalu malam. Kami berenam berteduh di bagian dalam kafe. Keriuhan pengunjung di dalam membuat terasa menggangu. Kami pun memutuskan menanti kehadiran kopi di halaman depan. Tepat di bawah lampu taman temaram, suasana yang sejuk, obrolan hangat pun meluncur begitu saja di antara kami. Mulai dari perbincangan tiket pesawat, aneka menu kuliner khas Minang hingga gurauan berbau sarkas.

Coffee Maker di Yellow Truck Café Bandung. © Aulia Fasya

Sekitar setengah jam perbincangan, seorang lelaki berkulit putih berkacamata menyulut sebatang rokok tepat di samping meja kami berada. “Sorry, roasting-nya kurang pas. Jadi rasa kopinya kurang …,” ujar pria yang duduk di dekat meja kami. “Roasting yang bener harusnya….” Selanjutnya saya kurang memahami ucapannya, kalimat demi kalimat mengalir deras dari mulutnya. “Saya bukan owner, sih. Cuma barista di sini. Itupun baru tiga minggu,” kata pelayan menanggapi.

Saya coba menanggapi keluhan pria itu. Kopi? Siapa yang tidak tertarik membahas biji biadab satu ini. Jika boleh dikategorikan, saya adalah seorang peminum kopi sembarang. Baru beberapa tahun belakangan saja mulai tertarik dengan ‘mistifikasi’ kopi. Ketertarikan tersebut lahir ketika saya sering berkunjung ke beberapa kafe di daerah Bandung. Rumah Kopi adalah tempat yang memberikan impresi pertama terhadap bubuk adiktif ini. Dengan berkunjung ke sana, mulailah tersimpan perbendaharaan kata baru seperti Arabika, Robusta, kopi Toraja, Wamena, Gayo dan lainnya. Sensasi etnikal dari kata sesudah kopi tersebutlah yang membuat rasa penasaran tumbuh.

Namun, jatuh cinta pertama saya pada kopi benar-benar hadir ketika segelas kopi Aroma kental tersaji di sebuah meja kayu di depan halaman Toko Buku Kecil (Tobucil) Bandung. Tanpa sadar melalui tegukan kopi itu, saya yang tengah mengikuti kegiatan di toko tersebut mendapatkan rasa nyaman yang begitu tenang. Obrolan ringan, hirupan aroma kopi, dan suasana yang terbangun alami membuat setiap sore di Tobucil kerap membuat rindu. Mulai saat itu, selain di rumah, saya hanya meminum kopi di lokasi yang membuat nyaman.

White Coffee ala Yellow Truck Café Bandung. © Aulia Fasya

Sang barista sendiri semakin intens menelurkan segala pengetahuannya mengenai kopi. Ia bahkan memberikan penilaian terhadap kualitas kopi yang disajikan beberapa gerai kopi di kota Bandung. Saya senang berbincang dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama. Maka, segelontoran pertanyaan pun mengalir begitu saja. Saya bertanya mulai dari mengapa kopi luwak begitu populer, hingga pamor kopi Robusta secara kualitas jauh dibandingkan Arabika. “Kopi luwak mah cuma kerjaan marketing doang,” ujarnya dengan logat Sunda kental.

Sejauh ini kesan yang saya tangkap sang barista begitu mengagungkan keperkasaan kopi dengan penyajian Eropa. Kata ‘espresso’ menjadi salah satu sajian yang paling banyak ia ucapkan selama perbincangan. Bahkan ia sengaja membuatkan kami dua gelas espresso buatannya secara gratis. Espresso pertama merupakan hasil roasting yang kurang tepat menurut takarannya. Saya coba seteguk. Glek! Ya, begitulah espresso. Espresso kedua, dengan gelas yang lebih besar hadir setelah saya menghabiskan beberapa batang rokok. Gelas kedua tersebut menurutnya sengaja ia buat dengan karakteristik kopi yang lebih kuat. Glek! Saya menerka-nerka perbedaan kedua espresso gratis itu. Ya, sejauh ini memang terasa berbeda, lalu habis pula perkaranya buat saya. Tapi, bagi sang barista perkara belum selesai, ia memiliki cita rasanya sendiri. Begitupun dengan barista lainnya. Maka setiap barista memiliki cita rasanya sendiri, begitu ujarnya. Namun, saya bilang sebagian besar konsumen terkadang tetap menginginkan cita rasa yang sama.

Ngopi sembari diskusi di Tobucil Bandung. Tempat jatuh cinta pertama penulis pada kopi.

Sebagai konsumen, saya bukan seorang yang rewel soal rasa sejauh saya benar-benar dapat menikmatinya. Saya bilang kepadanya bahwa kami tipe-tipe konsumen yang mencari kenyamanan ruang saat meminum kopi. Kalau soal rasa, ya dikembalikan ke selera masing-masing. Kesan pertama kami bukan jatuh pada perkara karakteristik kopi, tapi ruang dimana kami dapat betah berlama-lama duduk dan berbincang. Pada dasarnya yang kami cari pertama kali adalah kursi nyaman, desain interior menarik, dan suasana yang tenang. Barulah kopi menjadi perkara kedua. Dan soal pilihan sajian, pada dasarnya saya termasuk penikmat dan pecinta kopi tubruk. Karena Indonesia memiliki begitu banyak varian kopi dari tiap daerah, kesan kultural tersebutlah yang menarik dieksplorasi. Toraja, Aceh, Gayo, Wamena, Lampung, sebut nama daerah penghasil kopi lainnya dan saya selalu memiliki hasrat berbeda ketika mendengar nama-nama kopi tersebut.

Toh, seluruh perdebatan mengenai kopi akan berakhir pada premis “Apa seleramu? Ini seleraku.” Habis perkara. Saya pikir itu adalah konklusi paling relatif. Seorang barista kafe berhak mengagungkan Arabika beserta varian sajiannya yang begitu banyak dan memberikan kesan Robusta sebagai jenis kopi yang berada satu level di bawahnya. Seorang konsumen berhak menilai kopi dari berbagai sudut pandangnya. Tapi pendapat saya, kopi hanya terasa nikmat ketika ia tidak perlu diperdebatkan lagi saat diteguk. Saya tak perlu lagi mengecap karakteristiknya, lama penyimpanan bijinya, takarannya, proses roasting-nya, proses pembubukannya, dan lainnya. Saya cukup menikmatinya bersama para sahabat, atau menjadi teman setia saat sendiri.

Even a bad cup of coffee is better than no coffee at all,” kata David Lynch.

Cheers!

Keterangan Foto:

Coffee Maker di Yellow Truck Café Bandung.
Fotografer: Aulia Fasya | https://twitter.com/fasyaulia
Sumber: http://fasyaulia.wordpress.com/tag/yellow-truck-cafe/

White Coffee ala Yellow Truck Café Bandung.
Fotografer: Aulia Fasya | https://twitter.com/fasyaulia
Sumber: http://fasyaulia.wordpress.com/tag/yellow-truck-cafe/

Ngopi sembari diskusi di Tobucil Bandung. Tempat jatuh cinta pertama penulis pada kopi.
Sumber: http://www.kabar.tobucil.net/2013/04/klab-filsafat-tobucil-fenomenologi.html

Muhammad Meisa

Penulis konten paruh-waktu. Waktu penuh dihabiskan melamun.

  • eko

    Hidup Robusta! Aku juga pendemen kopi tubruk alias kopi tradisional. Salam kenal.