“Karena Kopi Membuat Rindu”

Kedai kopi Aming
Suasana malam hari kedai kopi Aming. © Eko Susanto

Saya sedang berada di Kota Pontianak, di Kedai Kopi Aming.

Andrew Yuen, kawan saya di Pontianak, yang mengajak berkunjung ke sana. Letak kedai ini tepatnya di Jalan H Abbas I No 157. Kata Yuen, dari tempat ini pula pasokan kopi di rumahnya selalu terjaga.

Di bagian depan kedai, terlihat banyak orang berkumpul. Di mejanya terdapat cangkir-cangkir kopi. Suasana riuh. Orang-orang asyik berbincang sambil menikmati kopi. Melangkah masuk kedai, saya berhadapan dengan stan penjualan bubuk kopi. Di situ, tersedia timbangan kecil, plastik kemasan, alat pres plastik, dan kotak kaleng berisi bubuk kopi.

Malam itu saya hanya berniat membeli bubuk kopi untuk kekasih. Niatan itu saya tunaikan dengan baik. Memesan dua kilogram bubuk kopi, lalu pulang. Setelahnya, ada yang mengganjal di hati. Ah, saya kehilangan nuansa Kopi Aming jika tak menikmati di tempatnya langsung.

Keesokan harinya saya kembali lagi. Suasana warung kopi Aming di siang hari, sama ramainya saat malam hari. Saya memesan kopi hitam saring dan sepiring nasi goreng. Tak berapa lama Aming, si empunya kedai, datang dan menyapa dengan ramah. Kita duduk satu meja. Ia banyak bercerita tentang pengalamannya mengelola kedai kopi.

Aming beruntung. Keluarganya juga dikenal sebagai pengusaha kopi. Ng A Thien, ayahnya, adalah seorang penjual bubuk kopi selama puluhan tahun. Darinya Aming mengenal seluk-beluk kopi. Saat kecil ia sering membantu mengelola kopi, dari memilih biji, menggoreng, menyangrai, menggiling hingga mengemas.

Saat Aming membuka usaha kedai kopi, di kota Pontianak masih belum banyak ditemui kedai kopi. Kalaupun ada hanya buka di siang hari. Sejauh ini usaha Kedai Kopi Aming telah berjalan selama 10 tahun. Peminatnya dari berbagai kalangan yang memang suka ngopi.

Diperkirakan baru 5-6 tahun belakangan ini banyak kalangan masyarakat mulai terbiasa ngopi atau nongkrong di kedai kopi. Lihat saja Kedai Kopi Aming, buka mulai pukul 6 pagi sampai 11 malam selalu ramai pengunjung. Aming dan istrinya meski dibantu 17 karyawan untuk menjalankan usahanya.

Kedai kopi Aming
Meracik kopi khas Pontianak. © Eko Susanto
Kedai kopi Aming
Aming sang peracik kopi. © Eko Susanto

Menurut Aming, para penikmat kopi di Pontianak tak seberapa memikmati kopi arabica, kebanyakan mereka menyukai kopi yang rasanya agak pahit khas robusta. Memang jenis kopi andalan di Kedai Kopi Aming jenis robusta. Aming mengaku, penjualan kopi di kedainya lebih dari satu ton dalam sebulan. Ia menyediakan stok beberapa ton biji kopi robusta yang disimpan di gudang. Biji kopi itu didatangkan dari perkebunan kopi daerah Kubu Raya, Pontianak.

Ciri khas biji kopi robusta pontianak ukurannya kecil-kecil. Berbeda dengan daerah lain, biji kopi robusta biasanya besar. “Biji kopi robusta pontianak ibarat cabe rawit, kecil-kecil tapi rasanya kuat,” kata Aming.

Aming senang belajar, mencari informasi melalui bacaan, dan bertanya-tanya pada teman dalam melakukan eksperimen kopi. Ia sering mencoba-coba membuat racikan baru, lalu meminta beberapa pelanggannya untuk mencicipi. Salah satu produk racikannya yang menjadi unggulan yaitu kopi luwak. Biji kopinya didatangkan dari daerah Lampung dan Aceh. Aming memadupadankan. Biji kopi lampung dimanfaatkan untuk mempertajam citarasa dan biji kopi Aceh untuk menguatkan aroma.

Kedai kopi Aming
Biji kopi pilihan dari Aceh hingga Lampung. © Eko Susanto

Hampir sebagian besar kopi hasil racikan Aming digoreng dan disangrai dalam level medium roast (berwarna kecoklat-coklatan). Penyajiannya dicampur dengan air panas mendidih. Alasannya, kata Aming, “Racikan kopi akan berproses sempurna ketika dituang air panas mendidih, sehingga aroma dan rasanya muncul.”

Kebiasaan lain yang dilakukan Aming sehingga menjadi ciri khas di kedai kopinya. Ia memasukkan beberapa biji kopi pada setiap cangkir minuman kopi. Biji kopi yang dimasukkan bisa berjumlah 2 sampai 5 biji dalam satu cangkir. Itu dilakukan agar biji kopi bisa dinikmati oleh pelanggan dalam bentuk biji. Rasanya memang enak ketika mengunyah biji kopi sambil minuman kopi.

Soal kenikmatan optimal minum kopi, ia tak menyebut jenis kopi atau cara pengelolaan namun justru saat ia lama tidak meminumnya. Itu saat-saat dalam hidupnya ada yang kurang. “Karena kopi membuat rindu,” kata Aming.

Marlutfi Yoandinas

Pengelola Rumah Baca Damar Aksara di Kampung Langai, Situbondo.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Senang melihat kedai kopi berkembang dari kota hingga ke daerah. Menjadi tantangan bagi petani kopi untuk berproduksi lebih baik lagi.

  • Hampir setiap hari menghabiskan waktu di warkop ini, tapi belum sempat aja membuat liputannya. Sajian kopinya yang khas menjadikan Aming Cafe terasa lebih istimewa dibanding tempat lain. Boleh dicoba manakala ke kota Khatulistiwa. 🙂

  • mantapp