Kampung Langai, Festival Musik Berselera ‘Kota’

Geliat seni, utamanya musik, kini sedang ramai. Acara-acara musik berskala kampung bermunculan di beberapa daerah. Bekerjasama dengan Jaringan Kampung Nusantara, sajian musik yang selama ini dekat dengan telinga perkotaan, bukan tidak mungkin diselelenggarakan di daerah pedesaan dengan sajian musik bergenre jazz, pop, dj dll. Ini kondisi berkesenian sekarang yang patut diapresiasi. Dengan memberdayakan masyarakat lokal, tidak berarti acara dan sajian musik yang ditampilkan norak dan tidak berkualitas. Stigma orang kampung yang selama ini identik dengan orang tradisonalis dan kolot, hampir mustahil bisa menyelenggarakan musik dengan selera tinggi.

Tidak begitu halnya dengan Festival Kampung Langai. Berlokasi di sebuah lapangan terbuka dengan ornamen panggung dan beberapa bambu yang menjulang ke atas, serasa panggung jazz gunung yang selama ini diselenggarakan di Gunung Bromo berpindah tempat ke kampung Langai, Situbondo.

Aura antusiasme penonton dan warga sekitar begitu terasa ketika masuk ke area parkir. Ratusan sepeda motor dan beberap mobil berjejer rapi. Stand baju dan warung kecil yang dikelola warga menandakan besarnya sumbangsih warga dalam penyelenggraan tersebut. Arti gotong royong dan berat sama dipikul, ringan sama dijinjing jelas terlihat sekali dan tidak hanya sebuah slogan belaka. Kaum muda dan tua kumpul menjadi satu, saling bahu-membahu menyukseskan acara.

Banyak talen yang tampil pada festival Kampung Langai 4 ini. Melihat rundown acara yang dibagikan panitia, acara akan diselenggarakan kurang lebih 6 jam. Dimulai dengan sarasehan budaya pukul 4 sore, dilanjutkan penampilan musik dan tari hingga 11 malam.

Penampilan Power Metal
Penampilan Power Metal | © Muhammad Shidiq

Saya datang ketika band rock-metal Situbondo yang divokalisi oleh Chaca, siswa kelas 7 SMP tampil, agak terlambat. Kualitas tak sepenuhnya diukur dengan usia. Buktinya, Chaca bisa menyanyikan lagu rock 90an dengan suara yang tidak kalah dengan penyanyi asli. “Suci dalam Debu” yang biasa didengar dengan ciri khas suara tinggi melengking, ia tiru persis penyanyi aslinya. Hanya saja musik itu diaransmen rock-metal kekinian. Seolah kita misuh bareng `cuk, keren!` degan aksi panggung band yang bernama Power Metal tersebut.

Power Metal keren. Penampil selanjutnya tak kalah keren. Lagi-lagi, band ini juga divokalisi cewek berparas cantik. Risma begitu merdunya menyanyikan lagu dengan genre jazz. Terbukti, lagu Ello yang berjudul “Semangat Baru” dinyanyikannya dengan apik dengan warna vokal jazzy. Juga lagu-lagu berbahasa Inggris dibawakannya dengan sangat bagus bersama iringan musik yang seakan tanpa celah sedikitpun. Job panggung mungkin menjadi satu alasan Parapena band bermain dengan apik.

Dj Fian, asli putra daerah Situbondo yang terkenal di youtube dengan view-nya mencapai 3 juta lebih, membuat penonton teriak histeris. Ritme musik yang diaransemennya sungguh memukau, hanya dengan keyboard yang dilengkapi papan dj dan sebuah laptop Sony Vaio.

Grup musikal Dewan Kesenian Kampus (DKK) Universitas Jember, Behel Berduri, menampilkan gubahan puisi dengan iringan musik, yang biasa dikenal dengan musikalisasi puisi, menambah suasana malam minggu begitu romantis. Gubahan puisi dengan petikan gitar dan ketukan jembe seiring dengan ketukan degup jantung penikmat musik pada malam 2 Sepetember itu.

Suasan seakan tambah romantis dengan penampilan Lingkar Merimbun. Membawakan lagu Banda Neira, Rindu, yang digubah dari puisi Subagyo Sastrawardoyo dengan alunan suara alat musik flute, seakan menambah panjang sejarah arti penting Saturdaynight bagi pasangan yang kebetulan menonton. Dona, lagu yang menjadi soundtrack film Soe Hok Gie menjadi lagu terakhir Lingkar Merimbun.

Penampilan Lingkar Merimbun
Penampilan Lingkar Merimbun | © Muhammad Shidiq

Seni tradisonal Can-macanan turut tampil dipanggung Langai malam itu, menjadi simol masih eksisnya seni tradisonal di tengah kondisi seni populer dan modern. Penonton yang semula duduk, mulai berdiri ketika macan mulai memasuki panggung. Penampilan ini seakan menjadi keanehan dan rasa kagum masih adanya kelompok yang melestarikan kesenian tradisonal.

Kelompok musik patrol dari SMPN Kendit, menampilkan nostalgia masa kecil penonton yang rata-rata lahir di era generasi 90an. Kentongan, gamelan, dan gong dimainkan oleh siswa SMP seperti keseharian anak kecil dengan candaannya. Gelak tawa penonton beberapa kali terdengar ketika sekelompok anak kecil saling mengolok-olok dengan dialog bahasa Madura. Secara tidak langsung, penampilan ini menyindir dunia patrol dan permainan tradisonal yang mulai ditinggalkan di era teknologi yang semakin canggih.

Malam itu bak surga bagi penikmat musik jazz, dengan desain panggung yang agak cekung ke dalam dan penonton di atas seperti membentuk tribun, serasa melihat jazz gunung dengan desain serupa. “Remember Me,” band asal Bondowoso mengukuhkan malam jazz dipanggung Langai. Berkolaborasi dengan Ali ardi, penggagas Festival Kampung Langi yang memainkan alat musik flute, penampilan Remember Me begitu memukau. Terlihat penonton menganggukkan kepala ketika alat-alat musik dimainkan berpadu dengan suara Memey, sang vokalis.

Ganesa Ensamble, kelompok musik dari SMA 1 Situbondo yang menjadi asuhan Ali Gardi menampilkan sajian musik dengan iringan terompet yang memekakkan telinga, tapi tak menghilangkan kesan mewah dari musik yang dibawakan.

Penonton kembali berdiri dan berebutan menempati posisi paling depan, ketika Fire Dance tampil. Dengan membawa api serta tarian dan atraksi layaknya mayoret drum band, penari yang berasal dari Malang ini menjadi penampilan puncak dan memukau para penonton. Penari begitu terampilnya menampilkan gerakan-gerakan tari sembari membawa tongkat dengan kobaran api.

Selepas Fire Dance, penonton satu-persatu mulai membubarkan diri. Padahal masih ada satu band lagi, Vanilla Latte, yang menjadi penutup serangkaian Festival Kampung Langai 4 yang diselengarakan bertepatan dengan perayaan hari Raya Idul Adha 1-2 September 2017.

Muhammad Shidiq

Pelanggan Kopi Buleck