Kambing Menari di Salatiga

Lemah gemulai tarian Kalimantan
Lihat Galeri
6 Foto
Lemah gemulai tarian Kalimantan
Kambing Menari di Salatiga
Lemah gemulai tarian Kalimantan

© Mbokne Wage

Penampilan musik oleh grup anak muda Batak Karo
Kambing Menari di Salatiga
Penampilan musik oleh grup anak muda Batak Karo

© Mbokne Wage

KOPLO Salatiga menjelaskan cara menyeduh secara manual di acara Dancing Goat Festival
Kambing Menari di Salatiga
KOPLO Salatiga menjelaskan cara menyeduh secara manual di acara Dancing Goat Festival

© Mbokne Wage

Suasana festival yang hangat bagai pesta kebun
Kambing Menari di Salatiga
Suasana festival yang hangat bagai pesta kebun

© Aji Wijayarto

Kompetisi aeropress berlangsung dari sore hingga malam
Kambing Menari di Salatiga
Kompetisi aeropress berlangsung dari sore hingga malam

© Mbokne Wage

Festival kopi yang santai, asyik, seru
Kambing Menari di Salatiga
Festival kopi yang santai, asyik, seru

© Mbokne Wage

Alkisah, Kaldi si penggembala terpana menyaksikan kawanan kambingnya menari. Ya, menari! Tak terbayangkan oleh Kaldi sebelumnya, kambingnya mampu menari. Ketika Kaldi mengamati lebih teliti, ternyata kambing-kambingnya memakan biji-biji, yang kemudian dikenal sebagai kopi. Sejak itulah, kopi terus membuat umat manusia terpana. Tidak hanya orang-orang Ethiopia –asal si Kaldi dan kambing-kambingnya, tetapi hingga ke masyarakat luas di seluruh sudut dunia.

Sekitar 2.700-an tahun setelah kambing-kambing Kaldi menari, di sebuah kota kecil berjarak terbang sekitar 8.200 kilometer ke arah timur dari Ethiopia, kopi juga membuat “kambing menari”.

Pada akhir pekan lalu, 19-20 Agustus 2017, diadakan sebuah acara berjudul “Dancing Goat Festival”, bertempat di Hotel d’Emmerick, Salatiga. Penyelenggara festival kopi ini adalah Linier Project bekerja sama dengan KOPLO Salatiga. “Rencananya, festival kopi seperti ini akan menjadi acara tahunan”, kata Hudha dari Linier Project. Acara ini adalah festival kopi pertama di Salatiga.

Venue ditata seperti sebuah pesta kebun, di pelataran berumput. Sebuah panggung mungil di bagian depan dengan backdrop partisi palet, beberapa meja bulat bertaplak putih yang dilingkari kursi-kursi, lampu-lampu pijar bergelantungan, serta beberapa stan untuk para vendor dan sponsor.

Acara festival adalah bazar, talkshow, workshop, coffee trip, kompetisi, charity, musik, dan coffee camp. Festival berlangsung meriah. Suasana terasa hangat dan ramah, karena venue terletak di luar ruangan dengan luasan tidak terlalu besar, serta kebanyakan pengunjung adalah anak-anak muda.

Kelas workshop latte art digelar dengan narasumber Johni D’Roadrunner, Jawara Latte Art Indonesia. Sedangkan workshop cara menyeduh kopi secara manual diberikan oleh KOPLO Salatiga. Kompetisi menyeduh kopi menambah kemeriahan suasana. Tiap peserta didukung oleh penggembira masing-masing. Kompetisi aeropress di hari pertama diminati sekitar 20-an peserta. Peminat kompetisi latte art di hari kedua tak sebanyak itu. Juri-juri penentu pemenang antara lain Andry Mahardhika, Echi Mahardhika, dan Dwi Kartika Sari, yang tentu kompetensi mereka soal kopi tak diragukan.

Bazar di acara ini terutama bertemakan kopi (ya iyalah..). Beberapa stan menjual kopi beras (green beans) dari berbagai daerah, kopi sangrai (roasted beans), juga menyediakan minuman kopi dengan berbagai metode seduh. Vendor-vendor berasal dari Salatiga, Semarang, bahkan dari Papua. Sebagai tuan rumah, dengan bangga Salatiga juga memperkenalkan kopinya, yaitu jenis arabika, robusta dan liberika.

Festival dimeriahkan pula dengan lenggok para penari dari Papua, Kalimantan, Toraja serta beningnya suara penyanyi dari Batak Karo. Penari dan penyanyi dari berbagai etnis seperti ini berlimpah di Salatiga, yang terkenal dengan sebutan ‘Indonesia Mini’. Banyak anak muda dari berbagai daerah kuliah di kampus UKSW. Musik dan penampilan keren dari Bonita and the Hus Band mengakhiri festival.

Jika kopi mampu membuat kambing menari di Ethiopia, maka kopi (semoga) bisa membuat para pecinta kopi di Salatiga (dan Indonesia) melakukan hal-hal luar biasa yang asyik, seru, dan inspiratif seperti ini. Mari kita minum kopi dan menari!

Kopi, KOPLO dan Salatiga

Kota Salatiga dan kopi memiliki kedekatan sejarah. Pada zaman penjajahan Belanda, Salatiga memiliki perkebunan kopi yang luas dengan hasil yang banyak, hingga disebut sebagai “lumbung kopi VOC”. Bahkan seorang pengusaha kopi sukses pada zaman itu, bernama Pierre Hamar de la Bréthonière, tinggal di kota ini. Dia dijuluki sebagai de Koffiekoning van Salatiga, alias Raja Kopi dari Salatiga. Di Salatiga juga terdapat sebuah ruas jalan bernama Koffiestraat (sekarang bernama Jl. Yos Sudarso).

Di zaman third wave coffee ini, lahirlah KOPLO di Salatiga pada Februari 2013. KOPLO adalah kependekan dari kopi lover, alias pecinta kopi. KOPLO adalah komunitas wadah penikmat, pengagum, dan penggiat kopi di Salatiga. Visinya adalah membuat kopi dikenal secara luas dan mudah dijangkau masyarakat. KOPLO Salatiga rutin mengadakan kegiatan “Ngopi Gratis”, tiap bulannya. KOPLO Salatiga juga antusias mendukung acara-acara di Salatiga, termasuk mendukung Dancing Goat Festival akhir pekan lalu.

Semboyan yang diusungnya adalah: in coffee we trust!

Mbokne Wage

Seorang vegetarian yang mantan pecandu kopi


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405