Kalau Bung Seniman, Jangan Tinggal di Kampung!

Kalau Bung seniman, jangan tinggal di kampung, kata seorang pemuda dengan penuh kesungguhan. Pemuda itu belum pernah saya kenal dan pada suatu malam kami ditakdirkan Tuhan duduk berhadapan di warung kue putu merek ’Cirebon’ yang menetap dekat teng bensin di Pasar Senen. Dari cara duduk yang semaunya itu, dari semula sudah saya duga bahwa pemuda ini tentunya termasuk bangsa-bangsa seniman. Oleh karena malam itu saya mengenakan baju yang siangnya saya pakai tidur, lecek, maka saya pun tidak menyalahkan kalau dia sebaliknya mengira saya seniman pula. Dan memenuhi kebiasaan di antara seniman, yakni meskipun belum pernah kenal atau berkenalan dapat saja bicara dengan intimnya…”

Demikianlah petikan dari salah satu cerpen idola saya yang ditulis oleh seorang pegiat perfilman, Misbach Yusa Biran. Judul cerpen itu sama dengan judul tulisan ini, sengaja saya salin karena cerita ini sangat berhubungan dengan diskusi yang sempat saya hadiri beberapa waktu lalu (16 November 2016). Bertempat di Rumah IVAA (Indonesian Visual Art Archieve) yang berada di daerah Dipowinatan, Yogyakarta. Diskusi santai yang bertajuk Your Trip, Our Adventure itu menyoal tentang praktek-praktek residensi yang sedang ramai dan sering dijadikan sebagai ajang unjuk diri bagi seniman.

Siang hari, matahari lumayan terik, Rumah IVAA yang sehari-hari tidak terlalu ramai, berubah menjadi agak padat dikarenakan para seniman dan juga orang-orang yang bersentuhan atau tertarik dengan dunia seni turut hadir. Ada benarnya juga deskripsi-deskripsi yang diberikan Pak Misbah pada cerpen itu, saya melihat orang-orang unik di acara itu, pria-pria berambut gondrong, orang-orang dengan gaya duduk yang semaunya, anak-anak muda nyeni dan gaul. Benar-benar seniman! Batin saya dalam hati.

Ada tiga orang pembicara dalam diskusi itu, Tiatira Saputri, peneliti IVAA, memulai diskusi siang itu dengan menjelaskan sejarah residensi di Indonesia. Yang dimaksud residensi disini adalah sebuah kegiatan bermukim sementara yang mensyaratkan pertukaran gagasan kebudayaan, pembelajaran dan eksplorasi berkesenian. Menarik menyimak hasil penelusuran Tia pada arsip-arsip majalah Kebudayaan dan dari berbagai sumber yang menyatakan bahwa praktek residensi seperti ini sudah dilakukan di Indonesia, bahkan, sejak zaman Raden Saleh, yaitu sekitar abad ke-19. Perjalanan-perjalanan yang dilakukan Raden Saleh di Eropa pada gilirannya pun mempengaruhi gaya melukis Raden Saleh.

“Bisa kita lihat, misalnya, lukisan potret bangsawan ini yang Ia buat di Belanda. Kemudian, lukisan satwa liar yang Ia buat di Perancis ini memperlihatkan pola bahwa mobilitas itu menjadi moda produksi Raden Saleh,” ucap Tia yang nampak gugup dalam menyampaikan presentasi.

Tiatira saat sedang menyampaikan materi presentasinya
Tiatira saat sedang menyampaikan materi presentasinya. | © IVAA // Yono

Dengan tangan yang tak henti-hentinya menggaruk-garuk kepala, Tia pun melanjutkan. Pada rezim Soekarno residensi semacam ini juga gencar dilakukan terkait dengan agenda-agenda diplomasi kenegaraan. Pada saat itu Indonesia adalah negara yang baru lahir, dan mempunyai upaya untuk memperkenalkan identitas keindonesiaan di tengah warga dunia. Salah satu caranya adalah mengirimkan atase-atase kebudayaan seperti ini. Seniman-seniman yang dikirim keluar negeri, pada saat itu, salah satunya adalah Affandi dan Trubus. Pada akhirnya Tia menilai bahwa praktek residensi ternyata tak luput dari kegiatan atau agenda politik tertentu.

Kemudian, tongkat estafet diskusi ini pun dilemparkan ke pembicara kedua, yaitu Malcolm Smith, peneliti yang sedang menyelesaikan studi pascasarjana-nya di Universitas Sanata Dharma sekaligus seniman dari studio sablon bernama Krack! Malcolm yang tak fasih berbahasa Indonesia, berbicara mengenai rencana penelitian awal yang pernah ia lakukan (namun tak jadi dilanjutkan) yaitu tentang dampak pertukaran kebudayaan sekaligus pergerakan tersebut. Baginya, pertukaran semacam ini dipenuhi oleh agenda agenda terselubung dari kelas dominan.

Ia memulai dengan perpindahan masyarakat desa ke kota seperti yang ada pada film-film yang diperankan oleh Benyamin Sueb. Ia mempertanyakan; kenapa masyarakat berlomba-lomba untuk berpindah ke kota? Oh, ternyata ada konstruksi makna disana. Bahwa kota dianggap sebagai kelas yang lebih tinggi dari desa. Dan disinilah orang-orang desa ingin berpindah supaya bisa naik kelas. Siapa yang mendefinisikan hal tersebut? Tentu saja kelas kelas dominan, dan dalam hal ini adalah para penduduk urban. Berangkat dari sini pula lah ia menautkan hubungan kelas dan pertukaran budaya yang ada pada residensi.

Kemudian ia mulai memberi contoh lain, ketika Ford Foundation, salah satu yayasan penyokong dana terbesar yang berpusat di Amerika, mengundang dan membiayai biaya pendidikan para militer pada rezim Soekarno, utamanya pada ranah studi ekonomi. Indonesia, yang kala itu berlandaskan ideologi Nasakom, (nasionalis, agama dan komunis) sangat bertentangan dengan ideologi liberal yang dianut Amerika. Akhirnya Amerika berusaha meliberalkan Indonesia dengan menyusupi paham-paham liberalisme dengan menyekolahkan para tentara-tentara itu di Universitas Berkeley, Amerika. Saat kejatuhan rezim Soekarno, Ford Foundation kembali, bahkan lebih gencar, mengundang para militer untuk bersekolah ke Amerika, agenda ini pun didukung oleh Soeharto.

Pada buku Kekerasan Budaya Pasca 65, Wijaya Herlambang juga menyebutkan bahwa pembantaian besar-besaran pada (terduga) simpatisan komunis yang terjadi di Indonesia pun mendapat dukungan dari pihak Amerika yang sedang gigih melawan segala bentuk komunisme. Disinilah pertempuran ideologi itu berlangsung.

Merujuk pada masa sekarang, bagi Malcolm pertukaran budaya dewasa ini berusaha menjadikan negara-negara tujuan persinggahan sebagai pusat kebudayaan tertentu. Pertukaran ini seolah mengejawantahkan bahwa seniman belumlah menjadi seniman jika mereka belum mendatangi, misalkan Belanda, atau Korea atau Jerman yang dianggap sebagai kiblat kebudayaan modern.

Hal inilah yang berusaha dituju oleh para penyelenggara (pemodal) yang dengan baiknya membiayai sekaligus memberikan suntikan dana kepada para seniman. Namun sayangnya, banyak seniman tidak merasakan hal tersebut. Dan ketika mereka pulang, seakan mereka baru saja hijrah dan lupa dengan penduduk disekelilingnya, kerena berorientasi pada perjalanan internasionalnya tadi.

Hal itu pula yang berdampak pada pertentangan antara seniman dengan masyarakat setempat. Para seniman lebih condong pada budaya-budaya modern sementara penduduk di sekitarnya masih merawat kultur-kultur lokal.

Mendengar pernyataan ini, pikiran saya langsung melayang pada cerpen Pak Misbah yang saya kutip di awal tulisan ini. Indra Dukawan, pemuda yang menyarankan para seniman untuk tidak tinggal di kampung itu, juga merasakan pertentangan berpikir dengan warga di sekitarnya. Menurutnya, tetangganya selalu menganggapnya pengangguran karena sehari-hari ia hanya merenung untuk mendapatkan inspirasi tulisan. Baginya, masyarakat kampung tidak tahu bagimana seorang seniman melakukan praktek berkesenian. Sedang bagi masyarakat, orang berhasil adalah mereka yang setiap hari pergi ke kantor dengan pakaian rapi dan necis. Demikianlah pertentangan para seniman dengan warga di sekitarnya terjadi. Dan ia pun memutuskan untuk meninggalkan kampung, karena dirasa tidak cocok dengan jiwa berkesenian yang ia pegang teguh, juga karena diremehkan oleh orang tua gadis pujaannya hehe.

Malcolm saat sedang menyampaikan presentasinya
Malcolm saat sedang menyampaikan presentasinya | © IVAA // Yono
Tia, Malcolm, bersama dengan moderator sekaligus kepala program IVAA, Lisis; serta Elia
Tia, Malcolm, bersama dengan moderator sekaligus kepala program IVAA, Lisis; serta Elia | © IVAA // Yono

Kembali ke diskusi, perbincangan semakin seru tatkala Elia Nurvista, seniman Yogyakarta yang sudah beberapa kali melakukan residensi ke luar negeri, menanggapi wacana yang dibawa Malcolm. Dengan kaki sebelah yang terangkat, Elia pun memaparkan pengalamannya saat melakukan residensi. Secara blak-blakan ia mengatakan bahwa residensi adalah salah satu cara ia mencari uang.

”Ketika kita pergi ke tempat tersebut kita akan menyisihkan uang saku untuk kemudian dibawa untuk hidup kembali di Indonesia,” terangnya sambil tertawa.

Karena memang menjadi seniman di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Kita bisa melihat, pemerintah sepertinya belum terlalu paham bagaimana mengorganisir para seniman-seniman ini. Dan kalau dipikir-pikir, justru organisasi-organisasi seni di Indonesia ini kebanyakan didukung oleh donatur asing, seperti Ford Foundation, Goethe Institut, IFI, Hivos, Japan Foundation dan sebagainya.

Dengan nada bicara santai, Elia melanjutkan bahwa meski kebanyakan residensi diselenggarakan oleh negara-negera maju seperti Eropa, Amerika Utara, Jepang, dan Australi, tapi bukan berarti bahwa seniman bisa dengan mudahnya disetir oleh negara-negara tersebut yang tak pelak masih memiliki pandangan stereotipe orientalisme kepada orang-orang timur dan harus mengikuti titah yang mereka berikan.

“Residensi adalah sebuah usaha menolak dikategorikan sebagai seniman-seniman di negara dunia ketiga yang selalu dikatikan dengan represi agama atau kekerasan antar suku,” jelasnya. Dengan residensi ini pula Elia mencoba merombak stereotipe negatif yang sering ditujukan kepada masyarakat dunia ketiga.

Ternyata menjadi seniman susah juga ya. Lewat diskusi ini saya bisa bertemu dengan para seniman dengan segala problematika mereka. Seolah bertemu Indra Dukawan di kehidupan nyata. Kalau dipikir-pikir, tugas seniman itu berat juga ya. Seperti yang diutarakan Malcolm, kebudayaan dapat membangun dan juga melawan kelas. Lantas sebenarnya, bagaimana kita tahu para seniman ini sedang berusaha membangun atau menantang kelas? Mmm.. pertanyaan sulit. Baiknya, saya minum teh dan cemilan yang sudah disajikan di samping pintu masuk saja.

Rahmawati Nur Azizah

Penerjemah partikelir, bercita-cita untuk tamasya ke antariksa.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405