Kala Para Noni Londo Menyongsong Zaman Baru

Tanah Air Baru, Indonesia
Tanah Air Baru, Indonesia | © Hilde Janssen

Terlihat hiruk pikuk orang berlalu lalang memenuhi seisi pelabuhan Tanjung Priok. Koper-koper mereka yang bertumpuk-tumpuk siap untuk diangkut ke geladak kapal. Para fotografer merangkup sebagai wartawan datang untuk mengabadikan momen perpisahan itu. Tak berselang lama kemudian, perhatian para wartawan itu beralih pada warga Belanda yang baru tiba di Pelabuhan.

Mereka bertanya, “Apakah sebagai orang Belanda Anda tidak takut? Rekan-rekan Anda setanah air ingin secepatnya hengkang dari sini,” seraya menunjuk sebagian warga Belanda yang sedang menaiki kapal-kapal itu. Para wartawan bertanya dalam bahasa Inggris dan Belanda sembari bersiap mencatat di notesnya. Sebenarnya pertanyaan itu membayangi masa depan keempat wanita Belanda yang baru berlabuh dari kapal Weltevreden.

Setelah perang kedua bergejolak, gelagat Belanda untuk merebut kembali Indonesia belum padam. Saat Proklamasi kemerdekaan dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta, tidak serta merta membuat kedudukan Indonesia kuat di mata dunia. Perang mempertahankan kemerdekaan silih berganti datang bertubi-tubi. NICA ingin meraih kembali tanah jajahannya. Situasi tidak stabil berkalang maut ini membuat warga sipil Belanda mempertimbangkan untuk hengkang dari tanah Indonesia.

Orang-orang Belanda yang telah berdiam lama di negeri gemah ripah loh jinawi itu, harus lekas menghapus jejak dan segera meninggalkan Indonesia. Mereka berduyun-duyun menuju pelabuhan Tanjung Priok untuk berbenah kembali ke tanah airnya, Negeri Belanda. Perpisahan itu dirundung kesedihan yang mendalam dan membawa isak tangis. Mereka tak rela harus meninggalkan tanah air yang telah memberikan segala-galanya. Mengubah warga Belanda bak seorang raja.

Namun, situasi genting itu tak membuat empat wanita Belanda ini gentar. Keadaan yang kian memanas antara kedua pihak tak membuat mereka patah arang untuk pergi ke Indonesia. Dari kapal Weltevreden yang bersauh dari Pelabuhan Amsterdam, Dolly dan kakak-adik Kobus bersaudara (Betsy, Annie dan Minny) pergi menuju Indonesia untuk menetap di sana. Tak terpikir sebenarnya apa yang terlintas di benak mereka saat memutuskan hijrah ke Indonesia. Hal yang pasti, keempat wanita Belanda itu disatukan oleh satu persamaan, yakni kekasih mereka yang berasal dari Indonesia. Dolly, Betsy, Annie dan Minnie memiliki pasangan hidup dari Indonesia. Mereka berada di ambang pintu memilih meneruskan hidup di tanah air barunya atau berpisah dengan kekasihnya.

Pasca kemerdekaan, orang-orang kulit putih khususnya orang Belanda yang memilih tinggal di Indonesia tidak lagi menjadi golongan yang dianggap kelas satu. Pengkotak-kotakan kelas sosial menjadi kacau. Sistem stratifikasi sosial yang telah tertata sejak zaman kolonial tak bisa kembali diterapkan usai kekalahan Jepang atas Sekutu. Kehidupan mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Diskriminasi ras, penindasan, serta ketidakadilan terhadap orang pribumi pada masa lampau membuat orang-orang pribumi berbalik mengintimidasi orang-orang Belanda di Indonesia. Mereka memekikkan kata “merdeka” ke seantero wilayah, tanda kebebasan ingin mereka genggam secepatnya.

Kebencian itu, tersingkap dari salah satu film dokumenter karya Pia van Der Molen, Het Archief van Tranen. Film yang membuka tabir secara jelas peristiwa keji yang pernah tercatat dalam sejarah kelam Indonesia dari sudut pandang orang Belanda. Dimana orang-orang Belanda semenjak terlepas dari jerat jeruji penjajahan Jepang dibunuh secara keji oleh orang-orang Republik. Mereka tak segan-segan menyiksa bahkan menebas kepala warga sipil Belanda.

Namun, semrawut yang demikian tak menimpa nasib keempat wanita Belanda itu saat menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Pelabuhan Tanjung Priok. Dolly, Betsy, Annie dan Minnie memiliki kekasih orang pribumi. Status ini setidaknya meyakinkan orang-orang pribumi bahwa mereka pro dengan Republik meski sebenarnya dalam hati nurani yang terdalam, mereka mendukung kemerdekaan Indonesia atas Belanda. Namun, tanpa status mereka menyandang seorang istri pribumi, hak prerogatif publik itu tidak bisa diterima begitu saja.

Dolly, Betsy, Annie, dan Minnie memulai hidup dari bawah saat tiba di Indonesia. Kebutuhan hidup tidak bisa tercukupi hanya mengandalkan suami mereka. Demi mencukupi kebutuhan keluarganya, Kobus bersaudara membangun usaha jasa menjahit. Mereka menawarkan pakaian yang telah jadi untuk dijual pada orang-orang sekitar. Dolly pun demikian, meski hidupnya jauh lebih mapan dibanding mereka bertiga, namun situasi yang serba sulit pada masa itu membuat keluarga Dolly kesulitan. Setidaknya orang tuanya kerap membantu mengirimkan sejumlah uang untuk kehidupan keluarga Dolly di Indonesia.

Kisah persahabatan mereka yang berdasarkan pengalaman hidup ini, berlanjut hingga maut memisahkan di penghujung tahun 2000an. Mereka telah melewati lika-liku kehidupan dalam sejarah Indonesia. Sejak mereka berlabuh di awal tahun 1947, melewati masa mempertahankan kemerdekaan, masa orde lama, pemberontakan G30S hingga runtuhnya masa orde baru.

Tak banyak kisah hidup orang Belanda yang tertuang ke dalam sebuah buku manakala berkisah tentang situasi keadaan repatriasi besar-besaran dan sesudahnya berlangsung. Saya teringat kisah hidup seorang wanita Indo-Belanda, Elien Utrecht, yang mirip dengan riwayat hidup keempat orang Belanda ini. Elien pada akhirnya memutuskan pindah kembali ke Belanda setelah terbebas dari gelar yang disandangnya sebagai interniran Jepang. Saat perang telah usai, ia lantas kembali lagi ke tanah air yang dirindukannya selama masa kecil di Malang. Kisah hidup itu tertuang dalam buku “Melintasi Dua Jaman” karyanya sendiri, saksi sejarah sekaligus penulis, terbitan Komunitas Bambu. Kisah ini sejalan dengan penggambaran kisah hidup keempat Wanita Belanda itu di Indonesia. Kisah hidup yang menggambarkan situasi pelik pada pasca kemerdekaan terutama dalam sudut pandang orang Belanda. Orang Belanda yang memutuskan merubah kewarganegaraannya menjadi orang Indonesia seutuhnya meski pergolakan serta pertentangan dari berbagai pihak acapkali bersinggungan agar dapat menjadikan diri mereka seperti orang Indonesia asli.

Membaca buku Tanah Air Baru, Indonesia karangan Hilde Janssen ini, kita seakan memposisikan diri sebagai orang Belanda yang hidup di tanah air barunya. Terlebih lagi, Hilde merupakan jurnalis terkemuka Belanda dan telah banyak menelurkan karya jurnalistik mendalam tentang Indonesia. Kisah-kisah hidup yang diceritakannya membuat pembaca terenyuh untuk kembali merasuki kehidupan panjang mereka berempat dari berbagai kondisi yang telah terlewati. Bagaimana sejarah panjang disajikan melalui saksi sejarah dengan menyelami kehidupan mereka sebagai warga negara asing yang merasa mencintai Indonesia.

Sisi nasionalisme mereka, rasa kekecewaan dan frustrasi terhadap keadaan sulit, perjuangan untuk bertahan hidup, hingga tanggapan mereka terhadap dampak situasi politik sosial di Indonesia kala itu bisa menjadi pembelajaran untuk pembaca lebih mengenal akan sejarah panjang bangsa ini yang telah tercatat di ingatan para saksi-saksi sejarah yang kian terlupa bahkan dilupakan itu. Karena bagaimana pun, kelam atau terangnya sejarah, sebagai bangsa yang besar lembaran demi lembaran yang sudah tercatat semestinya menjadi pembelajaran sebagai langkah awal untuk melangkah secara bijak demi masa depan. Apapun itu, hitam, putih atau bahkan abu-abu…

Satrio Sarwo Trengginas

Penikmat Kehidupan