Juragan Style dan Perubahan yang Abadi

Pameran Juragan Style
Lihat Galeri
8 Foto
Pameran Juragan Style
Juragan Style dan Perubahan yang Abadi
Pameran Juragan Style

© Tim Residensi Juragan Style

Pameran Juragan Style
Juragan Style dan Perubahan yang Abadi
Pameran Juragan Style

© Tim Residensi Juragan Style

Pameran Juragan Style
Juragan Style dan Perubahan yang Abadi
Pameran Juragan Style

© Tim Residensi Juragan Style

Pameran Juragan Style
Juragan Style dan Perubahan yang Abadi
Pameran Juragan Style

© Tim Residensi Juragan Style

Pameran Juragan Style
Juragan Style dan Perubahan yang Abadi
Pameran Juragan Style

© Tim Residensi Juragan Style

Pameran Juragan Style
Juragan Style dan Perubahan yang Abadi
Pameran Juragan Style

© Tim Residensi Juragan Style

Pameran Juragan Style
Juragan Style dan Perubahan yang Abadi
Pameran Juragan Style

© Tim Residensi Juragan Style

Pameran Juragan Style
Juragan Style dan Perubahan yang Abadi
Pameran Juragan Style

© Tim Residensi Juragan Style

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi pameran work in progress bertajuk Juragan Style. Ada beberapa alasan kenapa saya tertarik untuk datang ke pameran ini, meski sebenarnya tak benar-benar paham soal arsitektur. Yang pertama, karena kurator pameran ini adalah karib saya: Ayos Purwoaji. Kedua, saya hafal benar kalau apa yang dibuat Ayos pastilah menarik.

Pada hall yang luas itu, tampak terparkir sebuah mobil kuno berwarna merah menyala. Bodohnya, saya tidak mencatat apa jenisnya. Di hall dengan karpet berwarna abu-abu ini juga ada beberapa meja panjang yang menyediakan maket bangunan bergaya jengki. Ada juga standing gallery yang menampilkan foto-foto para juragan perdagangan tembakau di Madura. Dikemas dengan gaya mirip bungkus rokok kretek. Di pembatas dinding, ada beberapa gambar petani tembakau, juga penjelasan tentang kultur tembakau di Madura, juga tentang isi pameran. Ada pula jejeran foto-foto lawas yang dipindai dari koleksi foto para juragan.

Pada bulan Oktober, saya dan Ayos pergi ke Kertosono untuk menghadiri pernikahan seorang kawan. Di sela-sela menunggu kereta untuk pulang ke Yogyakarta, kami berbincang panjang mengenai residensi Juragan Style ini. Ayos dan timnya —terdiri dari Muhammad Darman sebagai peneliti dan Faiq Nur Fikri sebagai asisten peneliti— tertarik dengan arsitektur jengki yang ada di tanah Madura.

Jengki adalah sebuah gaya arsitektur yang konon memang asli Indonesia. Gaya ini populer di era 1950-an hingga 1960-an. Sebelumnya saya tahu jengki dari istilah yang melekat pada, katakanlah, celana hingga sepeda. Ternyata jengki awalnya merujuk pada gaya bangunan.

Di pelataran stasiun Kertosono, Ayos banyak bercerita. Menurutnya, gaya jengki ini menarik karena waktu itu Indonesia baru saja merdeka. Para arsitek Belanda yang biasanya mendesain bangunan, kembali ke negaranya. Yang tersisa adalah arsitek-arsitek yang belum punya pengetahuan mumpuni.

Justru di sini menariknya. Ketimbang mengeluh karena tak punya mentor, para arsitek-arsitek Indonesia ini mencoba mengembangkan gaya sendiri. Maka lahirlah gaya baru arsitektur yang merupakan perlawanan terhadap nilai-nilai arsitektur kolonial.

Bagaimana, saya sudah mirip pengamat arsitektur belum?

Dengan segelas teh hangat di tangan, Ayos terus bercerita. Apa yang membedakan gaya jengki dengan gaya arsitektur sebelumnya? Salah satunya adalah pola garis. Pada gaya kolonial, bentuk dominannya adalah geometris. Presisi. Macam matematika yang diajar oleh Mr. Punk (kalau tak tahu siapa beliau, coba baca Lupus). Kaku.

Sedangkan jengki menabrak semua pakem itu. Tidak simetris. Memasukkan pula unsur-unsur yang kala itu mungkin tidak lazim, seperti lengkungan. Karena sifatnya yang slebor itu, membuat gaya jengki jadi terasa unik sekaligus jauh dari kesan kaku dan seragam.

Fasad, alias sisi luar bangunan, menjadi identitas yang paling nampak dari gaya arsitektur jengki ini. Hiasan dinding biasanya memakai bahan yang tidak seragam, baik warna maupun bentuk. Begitu pula dengan atap, yang menyesuaikan dengan iklim Indonesia yang tropis dengan curah hujan tinggi. Atap dibuat miring, supaya air hujan langsung landai turun ke tanah. Ada pula atap yang berbentuk jejeran segitiga yang dipasang di depan pintu masuk. Benar-benar seperti acungan jari tengah pada nilai-nilai arsitektur kolonial.

Di Madura, masih tersisa beberapa rumah jengki. Dan ini erat kaitannya dengan perdagangan tembakau di sana. Kondisi alam Madura yang secara umum kering, membuat tembakau tumbuh dengan baik di sana. Karenanya, Madura menjadi salah satu pemasok tembakau penting untuk industri rokok sejak dulu, bahkan hingga kini.

Dulu ada dua sistem perdagangan tembakau di Madura. Pertama adalah sistem pasar. Sistem ini biasanya diadakan di tempat dan waktu yang sudah disepakati. Para petani langsung bertemu dengan pembeli. Namun jumlah tembakaunya tidak banyak. Paling banter ada di kisaran 60 kilogram.

Cara kedua adalah dengan memakai jasa juragan dan bandol, alias tangan ketiga, alias makelar. Juragan dan bandol ini adalah perwakilan perusahaan yang diberi uang untuk membeli sebanyak mungkin tembakau dari para petani. Juragan dan bandol ini mendapat persentase dari pabrik. Juga mendapat untung dari selisih harga beli tembakau.

Kehadiran juragan ini menghadirkan orang kaya baru di Madura, termasuk di Desa Prenduan dan Desa Kapedi, Sumenep. Di daerah paling timur Madura ini, banyak orang kaya dari tembakau. Laiknya orang kaya baru, mereka seringkali kaget dan bingung bagaimana cara menggunakan uang. Maka para juragan ini membeli mobil mewah keluaran Eropa dan Amerika, berwisata, berhaji, dan tentu saja membangun rumah dengan gaya arsitektur paling populer kala itu: jengki.

Pada tahun 1977, ada sekitar 60 juragan di Madura. Sekitar 15 di antaranya ada di Kapedi dan Prenduan. Puncaknya adalah 1980-an. Di Prenduan ada Haji Fathor Rachman dan Haji Djufri Munir yang bermitra dengan Sampoerna. Ada pula Haji Hasan Basrie yang awalnya memasok tembakau untuk Nojorono, namun kemudian memilih untuk membangun pabrik rokoknya sendiri yang diberi nama Gunung Pajudan.

“Dulu waktu ulang tahun anaknya, Haji Hasan ini mengundang Ucok AKA,” kata Ayos dengan bersemangat. Ucok adalah penyanyi idola kami berdua dan kami memiliki sedikit nilai sentimentil jika bicara tentangnya. Itu untuk dibahas lain kali saja.

“Tapi akhirnya gak boleh tampil sama pemuka agama di sana,” sambung Ayos, nyengir. Saya bisa memahami. Dengan dandanan Ucok yang mencolok mata kala itu, orang Madura yang terkenal religius pasti akan shock.

Haji Hasan ini pula yang menjadi point of interest Ayos. Dia banyak bercerita tentang keluarga besar Haji Hasan ini. Soal Haji Hasan yang dandy dan setil. Anak-anaknya yang disekolahkan. Hingga, di puncak kekayaannya, keluarga ini bisa membeli satu pulau kecil untuk dijadikan gudang tembakau dan wisma pekerja. Edan.

Tapi masa manis para juragan ini harus berakhir saat perusahaan-perusahaan rokok besar mulai membangun gudang di tingkat kecamatan. Ini berarti, petani bisa langsung menyetor ke pabrik. Ini pula berarti baik petani maupun perusahaan tak lagi butuh jasa para juragan. Perlahan, para juragan ini limbung. Apalagi para penerusnya tidak punya kemampuan mengelola perusahaan. Sebagian lagi tak ingin ikut bisnis tembakau.

Akhirnya para juragan itu satu persatu bangkrut. Tinggalah bangunan-bangunan yang dulu megah, kemudian dirambati usia. Beberapa sudah tinggal puing. Ada pula yang masih ditempati, walau tentu saja sudah nyaris tak ada lagi sisa kemegahannya.

Di Madura, arsitektur jengki menampilkan sifatnya yang paling orisinal: luwes dan lugas. Ini terbukti dari perpaduan antara konsep jengki, dengan konsep pemukiman warga Madura, yakni tanean lanjeng: halaman panjang yang diapit oleh deretan rumah di bagian utara dan pendopo di bagian selatan. Setiap rumah mempunyai sebuah pendopo yang digunakan kaum lelaki untuk menerima tamu. Sedangkan rumah, dalam konsep hunian orang Madura, ada tempatnya perempuan yang terlindungi

Mendatangi pameran Juragan Style ini seperti mengajak saya menekuri banyak perubahan dalam hidup. Secara arsitektur, tak ada yang abadi. Gaya kolonialisme yang mapan ratusan tahun, bisa berganti karena kondisi politik yang berubah. Begitu pula gaya jengki yang populer setengah abad lalu, namun sejak setidaknya dua tahun terakhir kembali ngetren seiring kegemaran orang akan hal-hal berbau retro. Begitu pula tentang siklus bisnis yang berubah. Jadi juragan bisa amat kaya, namun ketika perubahan datang, boom, mereka perlahan jatuh dan tak diperlukan lagi.

Memang benar: yang abadi itu hanyalah perubahan.

Post scriptum: Kalau ada penjelasan dan pemahaman yang salah perihal arsitektur maupun gaya jengki, kesalahan murni ada pada saya, bukan Ayos.

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.