Jogja Pantas Dikewer-Kewer

Libertaria
Libertaria © Aristides Wasesa

Libertaria, grup elektronik yang dibentuk Marzuki Kill The DJ dan Balance pada Oktober 2015 memutuskan membuat ide gila. Mereka coba menggarap musik dangdut dengan irama EDM buatan sendiri. Setelah beberapa bulan bertapa di studio, keduanya pun merilis sebuah album bertajuk Kewer-Kewer, Mei kemarin di Jakarta.

Post dangdut elektronika, jelas Marzuki, adalah genre yang paling tepat untuk 10 lagu dalam album mereka itu. Irama musik dangdut dihasilkan dari perangkat DJ dengan bunyi-bunyian yang biasa ditemukan pada musik Hiphop atau Rap. Bisa dibilang ini adalah sub-genre baru dari dangdut setelah tarlingdut, rockdut, popdut, disko dangdut, atau koplo di Indonesia.

Dalam album ini ia mengajak sejumlah musisi lokal dan nasional dari berbagai genre kolaborasi mengisi 10 lagu dangdut yang ia ciptakan. Ada Glenn Fredly di lagu “Teruslah Bekerja”, Farid FSTVLST di “Orang Miskin Dilarang Mabuk”, Paksi Raras dalam “Jalur Pantura”, Molimo Choir pada “Rakyat Bergoyang”, Brodod (dulunya Gepeng ke sana ke sini), dan Heru Shaggydog. Libertaria juga mengajak penyanyi dangdut yang terkenal lewat Goyang Moreno, Riris Arista. Dia berkolaborasi dengan Brodod di “DNA” dan Heru dalam “Mari-Mari”.

“Maksud Kewer-Kewer itu biar publik yang mengartikan sebagai apa. Dangdut menjadi pilihan karena Libertaria ingin berkomunikasi dengan lapisan masyarakat paling bawah melalui lagu,” beber Marzuki dalam acara perilisan album yang dipandu Soleh Solihun di Jakarta.

Bekerjasama dengan SuperMusic.ID, Libertaria merilis album ini secara gratis melalui website libertaria.id. Sementara untuk distribusi digital dan album fisik berbayar, Libertaria bekerjasama dengan Doggyhouse Records. Setelah sukses merilis album bernuansa dangdut tersebut di Jakarta, Libertaria menggelar konser perdana di Panggung Basiyo XT Square, Rabu pekan lalu. Rilis boleh saja di Jakarta, tapi soal konser, Jogja dulu yang pertama.

Rencananya konser mulai Pukul 19.30 WIB namun molor sampai 20.30 WIB. Bagi penikmat musik di Jogja, kemoloran ini bukan hal aneh. Sudah biasa. Ratusan tamu undangan-kebanyakan anak muda-yang sudah berkumpul di luar gedung sejak pukul 18.00 WIB pun santai saja meski telat.

“Wes biasa ngene ki, telat (Sudah biasa seperti ini, telat). Tapi enggak apa-apa lah ya, hitung-hitung sekalian cuci mata. Baru ini nonton konser dangdut tapi isinya orang-orang muda semua yang dandanannya kece,” kata Jatu Raya Merdeka, kawan jurnalis sembari mengarahkan kameranya ke tenda registrasi yang dijaga dua perempuan kece.

Tepat pukul 20.30 WIB, pintu gerbang ruang Basiyo dibuka. Ratusan tamu undangan dan jurnalis berjejal masuk ke ruangan yang lumayan besar itu. Ada yang terpaksa gigit jari karena tidak bisa masuk. Soalnya mereka yang datang harus membawa undangan yang sudah disediakan panitia. Tapi syukurlah panitia konser langsung bertindak dengan memberikan mereka undangan agar bisa masuk ke ruang Basiyo.

Kepulan asap dan napas “naga” beraroma Orang Tua tercium dari berjejalnya orang-orang di konser. Saya langsung menerobos kerumunan orang agar kebagian tempat di depan panggung. Panggung didesain sangat sederhana. Hanya ada lampu sorot warna-warni dengan layar besar. Beberapa orang di kanan dan kiri sudah joged meski beberapa kru masih menyiapkan alat dan bagian operator lampu melakukan cek terakhir. Di saat bersamaan, banyak orang di belakang saya teriak “Ayo, ayo” agar konser segera dimulai. Efek Orang Tua sudah mulai terasa tampaknya atau mungkin juga ada ketidaksabaran menonton musisi hiphop memainkan dangdut.

Baroka
Barokka © Aristides Wasesa

Tak selang lama, Barokka tampil membuka konser Libertaria. Ada Heru Shaggydog di belakang meja DJ. Lumayan kaget juga melihat Heru cukup baik memainkan mixer maupun CDJ di alat DJ-nya yang mengeluarkan beat dangdut yang lumayan asyik. Apalagi saat dia mengatur slider dan cross fader di tiap lagu yang dimainkan.

Irama pengantar membuat orang di kanan dan kiri langsung joget dengan liarnya. Ada yang goyang patah-patah sampai yang paling klasik dalam konser dangdut: jempol di atas. Sayang, tamu undangan di tengah atau di belakang masih belum merespons. Seolah ada hal yang membuat mereka enggan berjoget. Ketika Heru memanggil Brodod bersama Alit-Alit Jabang Bayi nyanyi, baru respons mulai asyik.

“Dengan mengucap selamat Hari Ramadhan, inilah dia Libertariaaaaaaaaaaa,” teriak Brodod yang disambut tepuk tangan dan teriakan penonton.

Marzuki dan Balance dengan seragam kebesarannya: kemeja, peci, dan kacamata hitam tanpa basa basi langsung membawakan lagu pertama dalam album perdana mereka berjudul “Rakyat Bergoyang” bersama Molimo Choir. Lagu dangdut dengan irama elektronik yang mereka bawakan sukses membuat penonton bernyanyi bersama “Rakyat bergoyang tak bisa dikalahkan!” teriaknya berulang kali sambil berjoged.

Brodod dan Riris Arista tak kalah hebohnya. Membawakan lagu “DNA”, mereka sukses memanaskan konser. Para jurnalis yang awalnya sibuk mengambil foto di depan panggung pun larut bersama goyangan penonton. Celetukan nakal Brodod mengomentari rok pendek Riris Arista pun selalu mengundang gelak tawa.

Rakyat Bergoyang
Rakyat Bergoyang © Aristides Wasesa
Basiyo XT Square, Yogyakarta
Basiyo XT Square, Yogyakarta © Aristides Wasesa

Muncul juga Paksi Raras yang menyanyikan lagu “Nyala Api”. Irama elektronik dan corak lagu ini segera mengingatkan saya akan penyanyi dangdut fenomenal Indonesia, Asep Irama, yang terkenal akan lagu-lagu perenungannya. Berturut-turut Libertaria bersama membawakan lagu-lagu di album Kewer-Kewer dengan meriah dengan koridor dangdut yang pas.

Puncak konser 2 jam ini terjadi saat semua penonton bernyanyi bersama, “Desa dan Kota yo Kewer-Kewer, miskin dan kaya ayo kewer-kewer, tua dan muda ayo kewer-kewer, semua gembira yo kewer-kewer.”

Di balik kemeriahan konser dengan irama dangdut elektronik itu sendiri, album ini sarat dengan kritik sosial. Farid yang malam itu membawakan lagu berjudul “Orang Miskin Dilarang Mabuk”. Terselip kesal ketika dia bernyanyi “Nonton tv orang-orang pada khotbah/Si miskin bodoh pokoknya harus salah/hukum tumpul ke atas tajam ke bawah/orang kaya mabuk tabrak mati lumrah/orang miskin mati minum oplosan/politisi busuk mabuk kekuasaan/bangsa munafik koruptor jancuk/orang miskin kok dilarang mabuk.”

“Lagu ini memang cocok sama karakter saya,” katanya singkat ditanya soal lagu tersebut.

Sayang Glenn tidak bisa hadir dalam konser itu. Seandainya hadir, ia akan melengkapi kritik Libertaria saat menyanyikan bait “Terus bekerja tak usah percaya negara” yang mungkin juga bakal disambut koor penonton. Tapi ketidakhadiran Glenn bukan persoalan besar yang membuat kecewa para penonton konser. Kami, sampai akhir konser, pulang dengan perasaan riang gembira. Libertaria sudah memberikan hiburan luar biasa. Libertaria juga sukses mengomunikasikan sekaligus mengingatkan beragam persoalan sosial lewat lagu-lagu mereka dan mengajarkan bagaimana seharusnya merespon persoalan hidup: Joged Kewer-Kewer!


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405