Jenang Sapar dan Sebuah Upaya Meruwat Kebersamaan

Mbak Rotan, nanti setelah belajar sama Ibu disuruh ke rumah sama Mas Kernet juga,” Faldi membisikiku suatu ketika saat kami mengajar anak-anak di mushola tempat belajar Sokola Kaki Gunung.

Saat saya dan Mas Kernet memenuhi undangan itu beberapa hari kemudian, di suatu sore selepas gerimis di bulan Shafar pada kalender Hijriyah, Ibu Faldi menyuguhkan kami dua piring jenang dalam kondisi hangat saat kami berkunjung ke rumahnya. Jenang yang telah mendapat modifikasi dengan diberi warna-warni hijau, kuning, dan merah muda itu disebut Jenang Sapar, merujuk pada bulan Shafar, bulan ketika jenang ini dibuat.

Jenang Sapar Bu Faldi
Jenang Sapar Bu Faldi | © Rotan

Jenang Sapar berbentuk bulat-bulat dengan kuah. Rasanya manis bertekstur kenyal dan lengket.

“Ketan!” Kata bu Faldi ketika kami tanya tepung apa yang digunakan untuk bahan membuat Jenang Sapar.

Kenyal dan lengket ketan yang manis gula merah berpadu dengan kuah gurih santan kelapa adalah khas rasa jenang sapar. Jika disajikan dalam keadaan hangat pada musim hujan seperti sekarang ini, Jenang Sapar tentu akan terasa begitu menggiurkan.

Dari kebanyakan makanan hasil kebudayaan masyarakat Indonesia, Jenang Sapar adalah salah satu di antaranya. Konon, jenang sapar dibuat ketika masuk bulan Shafar sebagai pembuang sangkal karena bulan Shafar dianggap bulan yang kurang baik. Kata Pak In, salah satu tokoh di Sumber Candik, “Sangkal e bueng (buang sangkal)”.

Bagaimanapun, awal sejarah munculnya Jenang Sapar—kini ada beberapa sebutan lain Jenang Sapar di setiap daerah, salah satunya jenang grendu—dibuat untuk dibagi-bagikan kepada kerabat, tetangga, maupun keluarga.

Bu Faldi, Bu Dur atau beberapa warga di lingkungan Sokola Kaki Gunung di Sumber Candik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Jember misalnya, membuat Jenang Sapar untuk kemudian dibagi-bagikan ke tetangga, kerabat, dan keluarga. Setiap orang di Sumber Candik seperti mewajibkan diri untuk membuat Jenang Sapar. Tradisi ini sudah dilakukan sejak dulu dan sudah turun temurun. Bagi mereka yang sudah rutin melakukannya, bahkan tak jarang tak tahu alasan mengapa hal itu terus dilakukan.

Jenang Sapar Bu Dur
Jenang Sapar Bu Dur | © Rotan

“Bu Dur, kenapa harus membuat Jenang Sapar?” Tanyaku kepada Bu Dur, warga Sumber Candik yang juga sempat memberi kami Jenang Sapar. Bu Dur hanya tahu bahwa dia harus membuat Jenang Sapar. Tak lebih.

Seperti banyak tradisi dalam masyarakat di Indonesia lainnya, mereka yang terus melakoni tradisi itu, tak sedikit yang lepas dari akar sejarahnya. Yang mereka lakukan tak lebih dari sebuah kebiasaan yang terus dilakoni secara turun temurun dari orang tua dan nenek moyang mereka. Meski begitu, tak selamanya kehilangan sejarah berdampak buruk. Seperti kehilangan sejarah bahwa bulan Shafar dipercayai sebagai bulan sial.

Indonesia dikenal karena budaya ramah, gotong royong, dan saling berbagi. Warga Sumber Candik dengan Jenang Sapar boleh jadi ikut andil dalam melestarikannya. Jenang Sapar hadir sebagai ajang berbagi dan penyambung silaturahim. Jenang Sapar yang bertekstur kenyal dan lengket, agaknya melambangkan bahwa dengan saling berbagi—jenang sapar sebagai salah satu alat—mampu merekatkan hubungan antar kerabat dan tetangga.

Rotan

Bersama mas Kernet Menjadi Volunteer Sokola Kaki Gunung.