Jejak Kepala Suku di Penginapan Jogja

Penginapan Omah Njonja Bed & Brasserie | © Puthut Ea
Penginapan Omah Njonja Bed & Brasserie | © Puthut Ea

Semua berawal setahun lalu. Saat itu, saya pergi ke Malang agak lama. Saya menginap berpindah-pindah dari satu guest house ke guest house yang lain. Di penginapan semacam itu, saya merasakan suasana yang berbeda.

Di Yogya, kita semua sudah tahu, terlalu banyak hotel berdiri. Sementara saya punya kebiasaan, kalau ingin membaca buku dan tidur agak lama, hanya dengan satu tas kecil berisi satu atau dua potong pakaian, dan sebuah buku, saya meluncur ke sebuah penginapan. Di sana, saya hanya membaca buku dan tidur. Itu kebiasaan lama saya sejak masih muda, dan masih saya lakukan sampai sekarang.

Hotel besar, sebagaimana taksi konvensional, sekarang menghadapi penantang penting: penginapan-penginapan kecil yang hanya terdiri dari beberapa kamar, kadang dikombinasikan dengan resto atau kedai kopi. Pelayanannya lebih ramah. Desainnya lebih apik. Orang-orang yang menginap lebih bisa berbagi ruang bersama dan saling menyapa.

Jack Ma bilang, “Era digital yang sangat penting adalah memaksa menggunting kecil-kecil semua yang besar. Semua harus lebih fokus pada konsumen dengan ceruk kecil. Kalau mereka tidak mau berubah, mereka akan kalah.”

Maka lengkaplah sudah struktur semacam ini: memesan penginapan lewat Traveloka (atau aplikasi sejenisnya), pergi ke penginapan dengan Go-car (atau aplikasi sejenisnya), lalu menginap di penginapan-penginapan kecil yang lebih ramah lingkungan dan ramah pengunjung. Lebih hangat, tanpa harus mengganggu privasi satu sama lain.

Mulai hari ini, saya akan me-review pengalaman saya menginap di penginapan-penginapan semacam ini, di Yogya. Saya akan mengajak Kali sebagai rekan. Sebab salah satu hal yang penting di penginapan adalah apakah dia ramah anak atau tidak.

Saya tidak dibayar siapapun untuk melakukan ini, sehingga pendapat saya tak bisa dibeli.

Omah Njonja Bed & Brasserie

Salah satu komentar bernada kritikan dari orang yang pernah menginap di Omah Njonja Bed & Brasserie lewat Traveloka adalah satpam atau petugas parkir kurang sigap. Saya membenarkan hal itu. Penginapan yang berada di Jalan Sawitsari Blok M1, Condongcatur, Depok, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta ini berada persis di jalanan menikung sehingga membuat siapa saja yang mau keluar dari penginapan harus waspada. Sayang, petugas parkir tidak cukup membantu. Selebihnya oke. Kecuali makanannya. Semua menu yang saya pesan, dagingnya alot: bestik, sop empal, dan nasi rames, memaksa gigi-gigi saya bekerja ekstrakeras. Hidup ini sudah alot, kalau bisa daging yang kita makan jangan ikut-ikutan alot.

Kali beristirahat di salah satu kamar penginapan Omah Njonja |© Puthut Ea
Kali beristirahat di salah satu kamar penginapan Omah Njonja | © Puthut Ea
Salah satu sajian menu di Omah Njonja | © Puthut Ea

Kali (5,5 tahun) sangat menikmati menginap di sini. Dia lebih memilih menemani saya makan di taman yang meriah dan berudara segar. Saya memesan gudeg ceker via Go-food, lagi-lagi karena ketika pukul 21.35 menelpon bagian resto, dibilang sudah tutup. Padahal di buku menu yang terdapat di kamar, dikatakan: last order pukul 22.00. Itu menandakan bahwa hal yang perlu dibenahi di penginapan ini adalah soal makanan, baik servis maupun penyajiannya.

Kamar cukup nyaman untuk penginapan dengan harga dalam kisaran kurang dari RP400 ribu permalam. Kamar mandi besar, peralatan mandi lengkap, semua oke.
Kalau saya perhatikan, tamu-tamu yang menginap di sana adalah orang-orang yang memang mau liburan di Yogya. Pagi usai sarapan mereka bergegas. Malam mulai berdatangan lagi, dari jam 23.00 sd 02.00. Semua terlihat capek. Masuk kamar. Tidur. Untuk kemudian pagi harinya pergi lagi.

Saya melihat jarang sekali yang justru menikmati kenyamanan penginapan mungil degan 15 kamar ini.

Kalau di Traveloka ada beberapa orang yang bilang bahwa tempat ini sulit dan tidak strategis, komentar itu tidak sepenuhnya benar. Memang jalanan di Omah Njonja ini tidak besar, tapi justru letaknya strategis. Dekat dengan terminal Condong Catur, dan dekat sekali dengan perempatan Ringroad Jalan Kaliurang. Sekalipun tidak penting, daerah ini dekat dengan rumah Pak Boediono (mantan Wapres) dan kalau belum pindah, dekat dengan rumah Pak Amien Rais.

Remen Room Bed & Breakfast

Kali menikmat sajian menu makanan Penginapan Remen Room Bed & Breakfast | © Puthut Ea

Mari kita mulai dari yang kurang menarik di penginapan yang berada di Jl. Komplek Colombo No.35 Indonesia, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Caturtunggal, Kec. Depok, Yogyakarta ini: Remen Room Bed & Breakfast.

Pertama, tamu masih diminta meninggalkan KTP. Ya, era ini sebetulnya sudah dianggap kadaluwarsa bagi manajemen penginapan. Selain tamu sudah membayar sejak awal (atau meninggalkan deposit), hal seperti ini juga membangun rasa tidak percaya kepada tamu. Sebaiknya, tirulah lazimnya penginapan lain: cukup memfotokopi kartu identitas tamu.

Kedua, tangganya terlampau sempit. Jadi kalau Anda sudah sepuh atau berbadan agak gemuk, apalagi ditambah membawa barang atau anak kecil, tangga penginapan ini membutuhkan kehati-hatian. Untungnya hanya lantai dua. Coba kalau tiga lantai dan tidak ada lift-nya.

Namun selebihnya adalah hal yang positif, bahkan menarik. Kita mulai dari menu sarapannya. Para tamu diberi keleluasaan sarapan dengan aneka menu khas Jawa. Biasanya penginapan dengan harga Rp250an ribu, hanya menyediakan dua atau maksimal tiga jenis lauk. Itu pun rasanya biasa saja. Tapi di penginapan ini, Anda disediakan lebih dari tujuh menu, dan semua enak. Selain itu, ada fasilitas minum kopi dan teh gratis 24 jam. Bebas. Tinggal datang saja ke resepsionis, di sana sudah ada satu pojok yang memanjakan Anda yang mungkin hobi begadang macam saya tanpa perlu repot mencolokkan termos elektrik.

Hal menarik lain, penginapan ini jadi satu dengan warung camilan. Jadi bagi Anda yang suka ngemil, atau mau membelikan oleh-oleh camilan kepada kerabat, langsung bisa masuk ke tokonya. Camilannya lengkap sekali. Mau kue kering, keletikan, sampai aneka minuman. Kali, anak saya yang berusia 5,5 tahun, selama dua hari menginap di sini, hatinya selalu gembira karena bisa mengambil keletikan kesukaannya.

Toko cemilan di Penginapan Remen Room Bed & Breakfast | © Puthut Ea
Toko cemilan di Penginapan Remen Room Bed & Breakfast | © Puthut Ea
Kamar Remen Room Bed & Breakfast |© Puthut Ea
Kamar Remen Room Bed & Breakfast | © Puthut Ea

Kamarnya bersih sekalipun tidak cukup luas. Fungsional tanpa banyak aksesoris. Memang ada sedikit hambatan jika Anda mau bekerja di kamar karena meja dan kursinya tidak cukup ergonomis untuk bekerja. Tapi Anda bisa bekerja di restonya yang ditata apik, dan lebih enak bekerja di sini daripada di kamar.

Penginapan yang terletak di sekitar Jalan Affandi menjelang ujung Selatan ini, selain cocok buat pelancong, juga pas untuk Anda yang ingin bekerja dengan suasana yang berbeda.

***

Ini dua penginapan yang saya singgahi. Dan saya sudah menandai beberapa penginapan lain. Bagi Anda yang pernah merasakan penginapan semacam ini di Yogya, dan memuaskan Anda, silakan rekomendasikan kepada saya.

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com