Jangan Aduk Kopinya Kalau Ampas Sudah Turun

: Untuk Siti Zubaidah

Mata saya tak berkedip. Perempuan yang dulu pernah dengan lembut mengajari saya untuk tidak mengaduk kopi setelah ampasnya turun, itu sedang terbujur lemah di brankar ruang ICU. Banyak sekali selang yang tak saya ketahui fungsinya. Nafasnya bengek. Matanya nanar, masih tajam, meski tak bisa dipungkiri tatapan itu sudah mulai melemah.

Sudah tak terhitung garis keriput di wajah yang masih menyisakan remah kecantikan itu. Rambutnya terburai, mengembang, dan memutih. Pemandangan itu tampak berbeda dari beberapa hari lalu ketika nenek saya itu meminta dimasakkan sop buntut.

“Besok belikan buntut, yang besar. Dua ya,” ujar nenek saya dengan nada yang lucu.

Tetap dengan semua alat bantu medik yang melingkari kesuluruhan tubuhnya. Mulai tangan, dada, hingga hidung. Semua yang hadir disitu tertawa. Tak kecuali saya. Sudah 3 hari nenek saya makin lemas karena tidak mau makan apapun. Meminta sop buntut adalah angin segar bagi semua orang yang begitu khawatir akan kesehatan beliau.

Keesokan harinya, mamak saya memasakkan sepanci besar sop buntut. Lengkap dengan potongan buntut yang berselubung daging dan lemak. Juga ada wortel dan kentang sebagai instrumen pelengkap jenis sop yang datang dari Belanda itu.

Hari itu nenek saya makan dengan lahap. Meski tanpa nasi, hanya kentang. Karena kesehatan beliau yang semakin membaik, maka saya dan mamak memutuskan untuk pulang ke Jember.

* * *

Nenek saya seperti bisa meramalkan takdirnya sendiri. Ia merasa tak akan hidup lebih lama lagi. Bisa jadi, karena itu, nenek minta semua makanan favoritnya. Mulai sop buntut sampai es krim. Hanya satu yang tak dibolehkan: kopi. Entah kenapa. Saya tahu ia pasti rindu kopi.

Selagi menunggu nenek, saya rutin mendengarkan lagu “In the Aeroplane Over the Sea” milik Neutral Milk Hotel. Entah kenapa, lagu itu membuat saya menjadi melankolis luar biasa. Lumajang sedang sepi malam itu. Di luar sedang dingin. Suara Jeff Magnum mengalun mistis melalui earphone. Lalu tiba-tiba berkelebat bayangan ayah saya.

Dulu, seringkali ia bercerita mengenai dunia yang indah. Ia pula yang menganjurkanku untuk melihat dunia yang indah itu, walau kenyataan tak selalu seindah gambar di kartu pos. Lagu ini juga mengingatkan tentang kematian. Perkataan ayah mengenai dunia yang indah, dan juga kematian, seperti pas dengan lirik lagu ini.

And one day we will die.
And our ashes will fly from the aeroplane over the sea.
But for now we are young, let us lay in the sun,
and count every beautiful thing we can see.

Lalu kelebatan kenangan muncul tiba-tiba. Ketika saya kecil, saya sering menginap di rumah nenek di Lumajang, tidur seranjang dengan beliau. Ia sering bercerita mengenai Kaik (Bahasa Banjar untuk kakek) yang tak begitu lama saya kenal.

Kopi Hitam
Minuman kegemaran nenek adalah kopi. Dalam gelas panjang. Rasanya selalu manis. Saya menduga perbandingannya satu sendok makan kopi, dengan dua sendok makan gula. Setiap nenek menuju dapur untuk menjerang air, saya selalu mengikutinya dari belakang. Memegang ujung daster yang sudah kumal itu. Dapur yang selalu beraroma ebi kering itu adalah salah satu tempat favorit nenek. Ia biasa duduk di amben berlama-lama sembari memotong bawang.

Saat air sudah mendidih, ia mendiamkannya barang sejenak. Kemudian kopi diseduh, lalu diaduk. Nenek seperti pertapa yang sabar menanti ampas turun. Tapi saya kecil, selalu mengaduknya kembali, karena menganggap ampas itu adalah kopi yang tidak tercampur. Nenek selalu sabar menasehati agar tidak kembali mengaduk kopi yang ampasnya sudah turun ke bawah.

“Jangan diaduk lagi kopinya kalau ampas sudah turun,” pesannya. Selalu demikian.

Lalu ia menunggu lagi dengan sabar sembari kembali bercerita mengenai hal-hal kecil yang sialnya sekarang sudah terlupakan. Itulah anehnya kenangan. Kadang hal kecil yang tak pernah teringat sebelumnya, tiba-tiba menyeruak tanpa permisi. Bagimana mungkin, saya yang saat itu sepertinya masih berumur 4 atau 5 tahun bisa mengingat kenangan mengenai nenek dan kopi?

Kenangan lantas bersikap seperti cuplikan gambar dalam sebuah layar, yang tiba-tiba muncul sekedipan mata, lalu kembali hilang. Seperti kata Jeff:

What a beautiful dream that could flash on the screen,
in a blink of an eye and be gone from me.
Soft and sweet,
let me hold it close and keep it here with me

Nenek mungkin merasa, bahkan kopi tak akan membuatnya terjaga kali ini. Maka ia rela tak minum kopi lagi, untuk kemudian menyiapkan hati yang lapang. Anak, cucu, hingga cicitnya sudah ikhlas. Mereka semua sudah yakin kalau nenek sudah puas melihat hal-hal indah selama hidupnya. Melihat bagaimana anak-anaknya tumbuh besar, bersekolah, menikah, mempunyai cucu. Lalu melihat bagaimana cucunya juga tumbuh besar, bersekolah, ada yang menikah, dan memberinya cicit.

Saya ikhlas, karena saya yakin suatu hari nanti saya akan dipertemukan kembali dengan nenek. Jika saat itu tiba, saya akan membuatkan kopi untuk nenek. Dengan takaran kesukaannya. Satu sendok makan kopi dan dua sendok makan gula. Tentu, nenek akan menyeletuk, sekadar mengingatkan andai saya silap: “kalau ampasnya sudah turun, kopi jangan diaduk lagi ya.”

Kemudian saya akan memutarkan “In the Aeroplane Over the Sea” untuk menemani kami bercengkrama tentang hal-hal kecil yang menyenangkan.

What a beautiful face
I have found in this place
That is circling all round’ the sun
And when we meet on a cloud
I’ll be laughing out loud
I’ll be laughing with everyone I see
Can’t believe how strange it is to be anything at all

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.