Jalan Panjang Kopi Taiwan

Kedai Kopi. Tempat seluruh kopi diracik untuk pengunjung.
Kedai Kopi. Tempat seluruh kopi diracik untuk pengunjung. | © Farchan Noor Rachman

Saya tak pernah tahu di Taiwan ada kopi, selama ini yang saya tahu soal Taiwan adalah negeri dengan beratus produk elektronik dengan teknologi tinggi. Untungnya saya diberi tahu tentang sebuah area di mana kopi adalah sajian utama di Taiwan, area itu bernama Dongshan.

Yang disebut Dongshan adalah sebuah jalan di pegunungan bagian tengah Taiwan, sepanjang jalan tersebut berjajar banyak sekali coffee shop sehingga disebut Dongshan Coffee Road. Selain itu, Dongshan juga terkenal sebagai daerah tetirah utama di Taiwan, hawanya yang dingin dan panoramanya yang hijau membuat Dongshan menjadi tujuan orang-orang dari kota-kota di Taiwan yang ingin berlibur sejenak.

Selain coffee shop, di Dongshan juga terdapat beberapa perkebunan kopi yang cukup terkenal, salah satunya adalah Fairy Lake Farm. Letaknya ada di salah satu puncak bukit di Dongshan. Jika pagi dan sore, daerah farm akan dikeliling kabut yang serupa danau, itulah mengapa diberi nama Fairy Lake.

Farm ini dikelola turun-temurun dan sekarang sudah generasi keenam. Jika dirunut ke atas, farm ini sudah ada sejak Cina Daratan berada dalam kekuasaan Dinasti Manchu. Generasi pertama pemilik farm memang aslinya berasal dari Cina Daratan yang kemudian menyeberang dan melanjutkan hidup di Taiwan hingga keturunannya beranak pinak.

Selama enam generasi, farm terus menerus memiliki tradisi bertani. Kini, tonggak farm dikelola oleh Strong, generasi keenam dari farm. Strong memegang tampuk pengelolaan farm di usia yang sangat muda, mungkin sekarang usianya baru awal 30-an. Bapaknya memberi kepercayaan lebih padanya, dia ingin farmnya dipegang oleh anak muda, sementara yang tua hanya mengawasi.

Saya menyambangi farm bukan tanpa alasan. Fairy Lake Farm dikenal sebagai tiga besar penghasil kopi terbaik di Taiwan. Hasil kopi dataran tingginya termasuk premium dan dihargai begitu tinggi di Taiwan. Tak heran, Fairy Lake sangat digemari para pecinta kopi di Taiwan.

Strong menyambut saya dengan sumringah, begitu dia tahu saya dari Indonesia matanya berbinar, “Negaramu luar biasa, punya sejarah kopi yang panjang dan banyak kopi enak”.

Strong lantas menunjukkan buku yang ia bawa, buku Sejarah Kopi dalam aksara Mandarin, dia menunjukkan litografi dari era Hindia Belanda yang menunjukkan para petani kopi dari Toraja. Saya tersenyum, dan menjelaskan pada Strong bahwa Toraja memang salah satu penghasil kopi nomor satu di Indonesia.

Leo (Taiwan Farm), Strong dan istrinya.
Leo (Taiwan Farm), Strong dan istrinya. | © Farchan Noor Rachman

Di Taiwan, kopi baru dibudidayakan sejak 30 tahun lalu, berbeda dengan Indonesia yang sudah menjadi komoditi utama sejak 3 abad lampau. Bahkan sejatinya, di lahan farm yang dikelola Strong, kopi bukanlah hasil utama. Hasil utamanya lebih pada hasil pertanian seperti sayuran, buah-buahan dan madu.

Awalnya kopi yang ditanam adalah hasil sampingan. Namun, belakangan mulai menggeliat dan menjadi produk andalan di Fairy Lake Farm. Oleh sebab itu, Strong kemudian khusus membuat sebuah tempat di farm-nya bagi para pecinta kopi untuk menikmati hasil kopi dari farmnya.

“Orang Taiwan suka kopi yang light, yang ringan, makanya hanya ada satu varian kopi di Taiwan, Arabika, tidak ada Robusta di Taiwan, kami rata-rata tidak suka kopi yang berat dan terlalu asam”

Karakter orang-orang Taiwan inilah yang kemudian membentuk budaya minum kopi di Taiwan. Mungkin karena minum kopi bukan budaya utama di Taiwan, sehingga hanya ada dua cara brewing kopi yang dikenal dan diminati luas di Taiwan, Vietnam Drip dan Espresso. Selain itu, tidak ada cara brewing kopi yang lain. Orang Taiwan lebih kental dengan budaya minum teh daripada minum kopi.

Strong menawari saya kesempatan menyicip kopi dari farmnya. Saya diberinya grinder serta disiapkannya alat drip. Ada 2 biji kopi yang disediakan Strong, 1 jenis biji yang lebih gelap warnanya, itu adalah biji kopi yang lebih tua pahit. Sementara 1 jenis biji yang lebih muda warnanya adalah biji kopi yang lebih muda dan tidak terlalu pahit. Kata Strong, begitulah paduan kopi yang disajikan untuk para tamu yang datang.

Ketika sudah selesai digiling, kopi kemudian siap di-brewing, alat drip pun sudah disiapkan. Takarannya sudah pas, tinggal dimasukkan, kemudian menunggu proses drip selesai lantas bisa dicicipi.

Benar saja, ketika dicicipi rasa kopinya memang light. Tak terlalu asam, pun tak terlalu berat. Aromanya sedikit wangi kayu, saya menikmatinya dengan polos, tanpa tambahan gula atau krim, karena benar-benar ingin menikmati pahitnya. Kopi Taiwan seperti yang dibilang Strong di awal, cocok untuk dinikmati mereka yang ingin mencoba kopi ringan.

Seusai menjamu dengan kopinya, kami berdiskusi banyak hal, tentang kopi tentu saja. Strong adalah orang yang mau belajar keras terutama tentang kopi dan segala macamnya. Saya lantas memberitahu bahwa Fairy Tale harus menyajikan ragam brewing kopi yang baru bukan hanya Drip dan Espresso.

Saya lantas membukakan halaman video Youtube, saya sodorkan tentang proses Kopi Joss Lek Man di Yogyakarta. Strong seperti sangat tertarik, dia seolah tidak percaya bahwa ada cara membuat kopi dengan menuangkan bara arang panas ke dalam segelas kopi. Saya bilang kapan-kapan bisa ke Indonesia, mari saya antarkan berkeliling menikmati ragam kopi di Indonesia.

Ngopi di Taiwan
Ngopi di Taiwan | © Farchan Noor Rachman

Keesokan paginya saya sempatkan berkeliling ke area perkebunan kopi, letaknya ada di seberang penginapan yang disediakan oleh Strong pada pengunjung. Wajar jika kopi dari farm ini masuk tiga besar di Taiwan, kebun kopinya benar-benar rapi, bersih dan tumbuhan kopinya pun sehat. Sayang, saya tidak sempat melihat bagaimana pengelolaan pasca panen, karena memang kala saya datang musim panen kopi sudah lewat.

Berikutnya, seusai berkeliling saya disambut olahan kopi dari Strong, kali ini sajian kopi espresso kemudian ditambah madu sari buah kelengkeng, buah yang banyak tumbuh di farm ini. Rasanya manis, paduan kopi, madu dan kelengkengnya unik dan belum pernah saya nikmati sebelumnya. Olahan ini, kata Strong adalah salah satu olahan kopi yang popular di farm dan jadi idola pengunjung, saya mengamini karena memang rasanya luar biasa.

“Bagaimana menurutmu?”

“Enak dan kamu melakukan sesuatu yang luar biasa dengan kopi-kopi ini.” Begitu jawab saya.

Diam-diam saya menyimak bagaimana ketertarikan Strong tentang kopi ini telah membawa Strong berkelana. Dia belajar tentang kopi ke beberapa negara, katanya Indonesia adalah target berikutnya, saya tawarkan nanti saya antarkan ke pusat-pusat kopi di Indonesia.

Kopi di Taiwan memang masih harus menempuh jalan panjang, kopinya jujur belum mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Beberapa hari di Taiwan, justru yang paling popular dan menjadi sajian di penginapan adalah Kopi Mandailing, kopi tenar dari tanah Sumatra Utara.

Tapi, di tangan Strong saya kira kopi Taiwan berada di jalur yang benar. Mungkin sebentar lagi kita akan mengenal Kopi dari Fairy Lake Farm di Dongshan sebagai salah satu kopi yang diperhitungkan.

Tabik.

Farchan Noor Rachman

Pecinta amatir kopi. Lebih suka ngopi di warung daripada di kedai kopi. Tentunya karena urusan isi dompet.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405