Jalan-Jalan Sambil Belajar Sejarah

Ragam cara bisa dilakukan untuk mengenali dan mencintai kota yang kita tinggali. Mulai dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga fasilitas umum, menaati peraturan lalu lintas, atau terlibat aktif dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan pemerintah setempat.

Selain itu, cara mencintai kota yang kita tinggali juga bisa dengan belajar sejarahnya. Dengan mengenal sejarahnya, diharapkan akan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap kota tersebut.

Menyinggung soal sejarah, kalian mungkin akan terbayang buku-buku tebal tanpa gambar yang untuk membayangkannya saja akan membuat ngantuk. Tapi tenang, saya punya solusi untuk mengatasi masalah itu, terutama buat kalian yang tinggal di Bandung.

Sebab, di Bandung ada sebuah komunitas yang dibentuk untuk belajar bersama mengenal sejarah kota Bandung, yakni Komunitas Aleut.

Komunitas ini mengajak anak-anak muda Bandung belajar mengenal kotanya sendiri dengan cara yang kekinian dan menyenangkan. Salah satu caranya dengan mengenalkan sejarah kota Bandung, mulai dari peninggalan gedung-gedung tua berarsitektur kolonial, cerita-cerita zaman dahulu, atau ragam peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Mungkin, kalian orang Bandung pernah berfoto atau melewati Jalan Braga yang mirip jalanan Eropa itu. Tapi, tahukah asal mula Jalan Braga ini?

Dulu, Jalan Braga dikenal dengan Jalan Pedati (Pedatiweg). Sebutan Jalan Pedati muncul karena saat itu jalan ini banyak dilalui pedati-pedati yang membawa hasil kopi dari perkebunan kopi milik para tuan tanah.

Hingga pada dasawarsa 1920-1930-an, muncul beberapa toko-toko dan restoran di Jalan Braga. Bahkan, beberapa toko terkenal saat itu, seperti Au bon Marche menawarkan busana dengan trend mode terbaru dari pusat mode di Paris, yang membuat Bandung dikenal sebagai Parijs van Java. Tak cuma itu, di Jalan Braga, juga berdiri restoran Maison Bogerijen yang terkenal elit karena menyajikan hidangan-hidangan istimewa khas kerajaan Belanda. Kini Maison Bogerijen lebih dikenal dengan Braga Permai. Tak heran jika Jalan Braga selalu dipenuhi noni dan dan tuan Belanda. Sebab di jalan inilah pusat pertokoan saat itu berada.

Di Jalan Braga sebelah selatan berdiri gedung megah tempat diselenggarakannya Konfrensi Asia Afrika, yakni Gedung Merdeka. Gedung ini dulu bernama Societeit Concordia. Sebuah tempat yang dijadikan kumpul dan hiburan orang-orang kaya Belanda, sementara tidak bagi pribumi bahkan hanya untuk mendekati gedung ini.

Hingga setelah kemerdekaan, gedung Societeit Concordia direbut dan menjadi Gedung Merdeka. Hingga kini, gedung itu masih berdiri dan menjadi landmark Kota Bandung selain Gedung Sate.

Nah, pengetahuan mengenai sejarah atau asal mula gedung kolonial itu tidak hanya bisa didapat dari buku, tapi bisa kalian dapat jika kalian mengikuti kegiatan Komunitas Aleut.

Komunitas Aleut memiliki kegiatan yang mengajak anggotanya untuk langsung ke lokasi tempat sejarah. Kegiatan terjun langsung atau belajar di lokasi tempat sejarah itu diberi mana ngaleut. Kegiatan ngaleut dilakukan tiap Minggu pagi hingga selesai.

Kegiatan Ngaleut
Kegiatan Ngaleut | © Rulfhi Alimudin Pratama

Ngaleut sendiri diambil dari bahasa Sunda yang berarti “jalan beriringan”. Memang, kegiatan ngaleut dilakukan dengan berjalan kaki secara beriringan atau bersama-sama sambil menyusuri jejak-jejak sejarah di tiap sudut Kota Bandung.

Kegiatan ngaleut ini sengaja dilakukan dengan berjalan kaki. Sebab, dengan berjalan kaki semua sudut kota seperti gang-gang sempit, jalanan kecil yang kadang luput dari kendaraan bermotor bisa terjamah. Kegiatan ini sangat cocok untuk mengisi hari Minggu kalian.

Dengan ngaleut, kalian bisa jalan-jalan sambil mengenal sejarah Kota Bandung. Bukan cuma itu, kalian juga akan mendapatkan bonus teman baru karena kegiatan ini terbuka untuk siapa saja, mau orang Bandung atau orang luar Bandung. Semua bisa bergabung.

Caranya gampang, bagi yang mau ikutan kegiatan ngaleut, bisa dengan mengikuti lini masa Komunitas Aleut. Di sana akan diberitahukan, rute ngaleut dan cara gabung. Kegiatan ngaleut ini rutin dilakukan tiap Minggu dengan lokasi yang berbeda-beda sehingga di setiap kegiatan akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda pula.

Biasanya, setiap usai kegiatan akan ditutup dengan berbagi pengalaman mengenai keikutsertaannya dalam acara ngaleut. Tidak jarang ada pula anggota Aleut yang menuangkan pengalaman ngaleut-nya ke blog dari Komunitas Aleut ini.

Cara asik menghabiskan minggu pagi kalian bukan? Kalian bisa ajak orang-orang tercinta seperti keluarga, teman atau pacar kalian jika punya yah. Karena ini salah satu kegiatan yang positif untuk mengisi hari Minggu kalian.

Meski awalnya kegiatan ini hanya diikuti segelintir orang, kini anggota Komunitas Aleut sudah mencapai ratusan. Tentu dengan kegiatan yang rutin diselenggarakan diharapkan makin banyak anak muda Bandung dan di luar Bandung yang makin mencintai Kota Bandung. Sebab, kalau bukan anak muda, siapa lagi yang akan menjaganya dan mencintai kota ini.

Rulfhi Alimudin Pratama

Sekarang masih tinggal di Bandung, bergiat, belajar di Komunitas Aleut dan dapat ditemui juga lewat tulisan di upitea.com