Item Kopinya, Italia Rasanya

Kopi Item
Suasana Kopi Item © Danu Saputra

Flavor that is so irresistible.

Dapur terbuka tak terlalu luas terlihat dari luar. Di atasnya terdapat tiga buah french press, sebuah grinder manual bermerek Italia, dan ada gelas yang bergelantungan. Di etalase beberapa jenis rokok tersedia berikut asbak kaca. Majalah-majalah dipajang di bagian muka. Terlihat ada banyak barang tapi tak membuat dapur itu terlihat berantakan.

Ya, saya sedang berada di coffee shop yang terletak area ruko di daerah Babarsari. Tak jauh dari Universitas Atmajaya, Yogyakarta. Kopi Item, nama kedai kopi itu.

Pintu coffee shop ini selalu terbuka. Saat saya masuk tertulis agenda acara di tiang sebelah kiri Tarot Corner. Kegiatan ini digelar di setiap hari Rabu jam 15.00 WIB sampai selesai. Di tiang sebelah kanan ada aneka menu kopi yang disajikan. Espresso, cappucino, caffe latte, machiato, con panna, caffe lunga, dan luwak.

Nuansa perdesaan Italia yang tenang ada di sini. Lampu-lampu temaram menyala redup. Bangunan yang ada semarak. Dinding-dindingnya dibiarkan tidak dilapisi semen. Batu-bata dibiarkan terlihat, di sela-selanya dilapisi cat hitam.

Kopi Item
Kopi Item © Danu Saputra
Kopi Item
Kopi hitam di Kopi Item © Danu Saputra

Seorang perempuan sedang berada di belakang dapur terbuka. Ia hanya tampak setengah badan saja. Sebagian tubuhnya tertutup dapur terbuka. Ia sedang meramu minuman untuk pelanggannya. Di belakangnya ada seorang lelaki yang sedang mencuci cangkir. Perempuan itu bertanya cara penyajian kopi pada lelaki di belakangnya. Lantas si lekaki memberinya sedikit petunjuk. Setelahnya si lelaki melanjutkan mencuci. Di bagian punggungnya ada tulisan Kopi Item. “The Ordinary Coffee Make Your Inspiration.”

Perempuan itu bernama Noni. Ia masih menjalani masa trainning. Sedang Ari, lelaki yang mendampinginya, ia salah satu barista di Kopi Item. Dua orang ini yang siap menyajikan kopi saat saya datang berkunjung.

Seseorang menghampiri. Ia memberi daftar menu yang ada di coffee shop ini. Kopi tradisional Italia menjadi sajian khas di coffee shop yang mulai beroperasi sekita dua tahun lalu ini. Caffe D’angelo. Kopi ini adalah merek kopi yang proses roasting dilakukan di Italia. Negara ini memang bukanlah penghasil kopi, namun seperti biasa Italia telah berhasil mengembangkan teknik penyajian kopi. Jika Anda ingin menikmati secangkir kopi seperti di Italia sana, maka di coffee shop ini bisa menjadi alternatif pilihan.

Saya memesan secangkir kopi tubruk. “Kopi tubruk yang menjadi sajian ini menggunakan kopi D’angelo,” kata Ari, yang bernama lengkap Yunarto Aribowo. Karena nama cofffee shop ini Kopi Item maka kalau saya memesan kopi item, maka yang disajikan adalah kopi dari Italia, tapi ampasnya dipisahkan terlebih dahulu.

Kopi di sini masih dikelola lagi dengan memadukan jenis arabica dan robusta. Perbandingannya 70 : 30. Masyarakat Indonesia kebanyakan lebih terbiasa dengan kopi robusta. Sebagian besar perkebunan kopi Indonesia menghasilkan kopi jenis robusta, yang ditanam di dataran rendah sampai ketinggian sedang. Kopi Item mencoba untuk menyesuaikan dengan kebiasaan yang ada di masyarakat.
Kopi Item
Vietnam drip di Kopi Item © Danu Saputra

“Crema yang dihasilkan lebih pekat,” katanya. Dari espresso ini aneka sajian kopi bisa dihidangkan pada para pengunjung. Dengan menggunakan kopi khusus dari Italia, pengunjung bisa mempunyai referensi kopi yang diproses di Italia. Negara yang banyak memodifikasi cara meminum kopi. Cappucino, Machiato, Con Panna, Caffe Lunga adalah hasil kreasi dari Italia.

Namun lebih pas jika sajian kopi Italia dinikmati bersama Pizza. Pizza di sini disajikan dengan cara khas Italia. Kebanyakan pizza yang ada di Indonesia mengambil kiblat ke Amerika yang lumayan tebal. Gaya pizza Italia lebih cenderung tipis dengan aneka isi di dalamnya lebih banyak dan bervariasi.

Beberapa kopi specialty dari Indonesia dari Aceh Gayo, Toraja, Bali, Papua, dan Luwak, bisa menjadi menu pilihan untuk Anda nikmati.

Kopi Item
Suasana lantai atas © Danu Saputra

Coffee shop yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpul komunitas pencari makluk luar angkasa ini terdiri dari dua lantai. Di bagian bawah suasana lebih akrab disediakan. Jika hendak mencari ruang yang lebih esklusif lantai dua coffee shop ini bisa menjadi pilihan.

Seorang lelaki berada di teras seorang diri dan di depannya ada secangkir kopi. Sigit Cungkring ia dikenal pegawai kedai, dan biasa memesan secangkir kopi Aceh Gayo jika tidak Cappucinno atau Caffe Latte. Ia terbiasa ke datang berkunjung ke kedai ini. Ia bagian dari komunitas fotografi yang sering menggunakan tempat ini untuk berkumpul. Foto-foto yang ada di dinding-dinding adalah hasil dari jepretan pecinta fotografi yang sering nongkrong di kedai ini.

Tak lama kemudian ia beranjak menuju kasir. Ini hari malam Minggu. Noni dan Fitri menggodanya. “Kamu malam Minggu kok sendirian ya?” “Ih, mau galau ketahuan.” Sigit menanggapinya hanya dengan senyum-senyum saja. Ia menjawab, “Lagi cari inspirasi saja.” Setelah digoda Sigit memacu motor meninggalkan Kopi Item.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.