Intisari Kehidupan dari Kopi Cak Rokhim

Banyak senja yang sudah saya lalui di berbagai tempat, dengan segala kondisi dan ketinggian beragam. Bukan bermaksud melankolis atau sok romantis. Entah mengapa, setelah merantau, kini senja terindah adalah di rumah saya. Di Keboharan, Sidoarjo, Jawa Timur. Kalau sedang terbenam di balik masjid di sebelah barat rumah saya, matahari berwarna jingga. Bulat besar.

Senja ini semakin terasa istimewa kala bulan Ramadan. Di bulan suci ini, saya punya satu kecemasan: tidak bisa ngopi di sore hari. Akhirnya agenda ngopi saya geser jadi jam setengah delapan malam. Di Warung Kopi Cak Rokhim. Ini warung kecil. Hanya berukuran 5 x 2,5 meter dengan tambahan 3 teras rumah di belakang sebagai tempat nongkrong.

Suasana ngopinya seperti di rumah sendiri. Karena itu saya betah ngopi di isni. Ngobrol ngalor ngidul. Kebanyakan pelanggan di sini adalah pekerja, buruh pabrik, ataupun pengangguran. Kalau banyak pekerja pabrik, wajar saja. Sebab Sidoarjo sudah disesaki banyak pabrik. Dari skala nasional, hingga skala internasional seperti PT Kapal Api atau PT Manohara Asri.

Warung kopi Cak Rokhim terletak di Desa Terung Wetan, Sidoarjo, Jawa Timur. Dari rumah saya hanya 5 menit dengan menggunakan sepeda motor. Bagi warga Sidoarjo, Terung Wetan sudah dikenal sebagai sentra warung kopi. Warung kopi Cak Rokhim ini sendiri sudah berdiri cukup lama. Waktu saya SMP pun, warung ini sudah ada.

Cak Rokhim sendiri usianya sudah di atas kepala 7, dengan raut muka tenang dan bersahaja. Kopi bikinan Cak Rokhim ini sangat pas di lidah saya. Menu wajib saya ketika ngopi di sini adalah kopi susu.

“Bubuk kopinya itu campuran antara kopi, jagung, sama beras ketan,” ujar Cak Rokhim suatu ketika.

Saya sempat bingung. Kalau dicampur dengan jagung dan beras ketan, berarti ini bukan kopi murni dong?

“Tambahan jagung sama beras ketan itu sudah dari orang-orang tua. Jagung itu agar rasa pahit kopi semakin terasa, sedangkan beras ketan itu biar menambah rasa mantapnya kopi,” lanjut Cak Rokhim.

“Kalau susu kental manis itu yang bikin adonan kopi jadi kental. Jadi bisa dibuat nyethe.”

Saya hanya mengangguk sambil nyeruput kopi susu. Rasanya memang sungguh nikmat—rasa pahitnya seakan tertahan di atas pangkal lidah dan rasa manis bercampur asam meluncur halus melewati kerongkongan.

Saya sudah janjian ngopi malam itu dengan kawan saya: Sembot, Boren, Jon, Agul, Met dan Bejo—semua adalah nama panggilan yang mengakrabkan kami, jika diceritakan asal usul nama itu tentu akan panjang ceritanya. Beberapa dari kawan saya tersebut adalah pekerja pabrik di Sidoarjo.

Malam itu kami ngobrol banyak hal. Mulai dari pemotongan gaji bagi para tenaga kerja outsourcing, hingga tentang perubahan sistem Jaminan Hari Tua yang sedang ramai dibicarakan di media. Obrolan kami jadi semakin hangat, diselingi dengan guyonan khas kami.

Saya amati, Bejo dan Jon sedang mencari sesuatu. Ternyata batang lidi yang mereka cari. Sesaat kemudian Bejo dan Jon asik nyethe. Lethek (ampas) yang dihasilkan dari bubuk kopi memang bisa dibuat nyethe di sini, bisa menghasilkan beberapa bentuk, dari motif batik, telapak kaki, astor, bunga, dan kadang gak jelas.

Tak terasa, sepeda motor yang berlalu-lalang di depan Warung Kopi Cak Rokhim mulai nampak sepi. Benar saja ternyata sudah hampir jam 11 malam.

Kuteguk kopi yang tinggal sedikit, mengalir bersama sedikit ampasnya ke dalam mulutku. Membangunkan dengan paksa indra perasa pahit di pangkal lidah yang sudah sejak tadi beristirahat mencecap rasa.

Mungkin beginilah hidup. Segala intisari kehidupan bisa diwakili oleh kopi susu Cak Rokhim. Segala manis, pahit, dan asam kehidupan ada di kopi susu itu. Ngopi sudah menjadi bagian integral dari hidup kami, tempat bercerita tentang hidup dan menghidupi, tentang hal terpenting dan paling tidak penting sedunia.

Faris Widiyatmoko

Pengagum dan pecinta Nusantara