International Coffee Day Lewat Kopi Bambu Gaya Kebumen

Suasana Diskusi International Coffee Day di Jawa Tengah
Suasana Diskusi International Coffee Day di Jawa Tengah | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Mall, atau yang berbau keramaian jarang aku suka. Tapi aku paksakan diri untuk turut merasakan International Coffee Day di salah satu mall di Semarang. Lha wong ngakunya penikmat kopi, masa nggak ikut-ikutan. Mumpung ada kawan yang rela jauh-jauh dari Magetan, mampir ke Demak, kemudian mengajak ke Semarang. Disanalah digelar International Coffee Day untuk para pelaku usaha dan orang-orang yang ngaku pecinta kopi se-Jawa Tengah!

Melihat gedung tinggi yang menjadi tempat acara saja aku sudah malas masuk. Bakal banyak orang-orang yang tidak aku kenal, aku selalu merasa asing di tengah keramaian. Gedung itu bernama Setos Mall, terletak di pusat kota Semarang. Hanya sekitar lima menit dari Simpang Lima.

Aku dan seorang kawan bernama Yudha menemukan lokasi gedung itu dari aplikasi GPS. Hanya berbekal informasi dari salah satu akun instagram dia nekat berangkat dari Magetan, Jawa Timur ke Semarang, Jawa Tengah. Entah apa yang menjadi motivasinya, yang jelas dia sudah lama sekali suka dengan kopi. Sering stalking akun-akun kedai kopi dan barista terkenal, pernah juga menjadi pemilik dan kepala dapur salah satu kedai kopi di Jember.

Mungkin itulah motivasinya. Ingin mengisi hari-hari di tengah aktifitasnya yang baru; menjadi tenaga kontrak Program Keluarga Harapan (PKH) Dinas Sosial di Magetan sana. Karena itu juga, sebagai kawan yang baik dan tahu akan rasa sepi seorang kawan aku harus menemaninya. Dan kopi adalah salah satu media yang menghubungkan kami berdua.

Masuk ke mall, ternyata aku salah. Mall itu masih sepi dari pengunjung dan stand penjualan. Beberapa bagian masih seperti direnovasi. Stand jualan hanya ada beberapa di sudut-sudut lantai. Kami berdua langsung saja menuju lantai lima, tempat diadakannya acara.

Aku melihat sekitar belasan stand memajang berbagai jenis kopi lengkap dengan alat-alatnya. Semua itu mereka jual. Kopi dalam bentuk biji, dan alat-alat dalam bentuk panci, drip, gelas, sampai dengan red presso (semacam rock presso dengan satu tuas). Bagi yang mau membeli bisa mendapatkannya dengan diskon yang cukup besar. Hingga 30 persen!

Namun hanya satu yang paling aku suka, kopi gratis yang disediakan oleh setiap pemilik stand kopi!

Suasana ruang diskusi International Coffee Day
Suasana ruang diskusi International Coffee Day | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Di sebelah stand penjualan, ada area diskusi. Sebuah panggung dengan sekitar dua ratus kursi penonton. Saat itu sedang dilakukan diskusi dengan barista terkenal yang namanya sudah terkenal luas di kalangan pecinta kopi. Yaitu Vicki Raharja seorang barista dari Tanamera.

Penonton cukup ramai. Aku melihat dari pakaian mereka sepertinya dari perwakilan kedai-kedai dan pengusaha kopi, ditambah para pengunjung lain seperti kami berdua yang berstatus sebagai penikmat kopi.

Kira-kira hanya lima menit aku duduk mendengarkan. Sambil mataku mengamati stand kopi yang berada di kanan kiri area diskusi. Akupun lebih tertarik untuk melihat stand kopi karena menyediakan kopi-kopi lokal dari Jawa Tengah.

Belasan jenis kopi lokal yang ditunjukkan oleh pemilik stand, jelas menggangguku. Betapa ingin sekali aku kumpulkan dan mengoleksi biji-biji kopi lokal. Ada yang berasal dari Muria, Temanggung, Kendal, Dieng, hingga Kebumen. Nah, nama yang terakhir itu menarik kuat perhatianku.

Kopi Luwak produksi UKM Tiga Gunung Kendal turut dipromosikan di acara ini
Kopi Luwak produksi UKM Tiga Gunung Kendal turut dipromosikan di acara ini | © Dian Teguh Wahyu Hidayat
Kopi Bambu Gaya Kebumen sebuah alat dripping kopi
Kopi Bambu Gaya Kebumen sebuah alat dripping kopi | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Stand Kebumen itu juga sama menawarkan berbagai biji lokal dari tempatnya. Yang berbeda adalah sebuah alat dari bambu yang dia gunakan untuk dripping kopi. Bambu silinder berdiameter sekitar 5 cm dengan lubang di bawahnya dia gunakan layaknya Vietnam drip.

“Ini mas coba dulu,” kata Yuri Dulloh. Dialah pemilik stand dari Kebumen itu. Tanpa pikir panjang aku sruput kopinya.

“Ini biji liberika asli Kebumen mas,” lanjutnya. Tak kalah dengan espresso. Biji kopi seperti terekstrak dengan sempurna. Rasa dan aromanya terasa sangat kuat. Aku bukan orang yang sensitif membedakan dan merasakan detail khas kopi. Namun, aku juga tahu perbandingan antara espresso dan bukan espresso.

Tanpa kutanya dia menjelaskan bahwa alat itu memang sengaja dibuatnya untuk tujuan khusus. Dia ingin mengajarkan kepada petani-petani mitranya, bahwa untuk mendapatkan rasa kopi yang enak tidak harus dengan alat yang mahal. “Hanya dengan bambu bisa,” kata Yuri Dulloh.

Alat itu sudah dia temukan mulai 2015 lalu. Dia menyebut alat itu dengan nama Kopi Bambu Gaya Kebumen. Dia mencoba membuat alat yang sederhana namun dengan kualitas yang tidak kalah dengan alat-alat modern.

Ternyata, Yuri Dulloh memang sudah belajar tentang kopi sejak tujuh tahun yang lalu. Sekolah singkat barista juga pernah dia ikuti. Dengan pengalaman itu dia akhirnya mampu berinovasi. Dari bahan baku yang bisa didapat dari mana saja pun mampu menyaingi kualitas racikan kopi dari alat modern.

“Saya ingin agar para petani bisa merasakan kopi enak dari alat yang murah. Karena bisnis kopi itu mahal. Alat-alatnya mahal. Belajarnya juga mahal. Bayangkan untuk tiga hari belajar jadi barista butuh Rp 3 juta,” katanya.

Kopi Bambu milik Yuri Dulloh ini pernah memenangkan kompetisi kopi se-nusantara. Namun dia tidak lantas memperjualbelikannya. Dia takut inovasinya ditiru dan diakui menjadi penemuan orang lain. Makanya baru di tahun 2016 ini dia mendapatkan paten kopi bambunya itu.

Tidak hanya dari dalam negeri, banyak warga Jerman yang tertarik dan membeli kopi bambunya. Menurutnya orang-orang dari Jerman yang sering mampir ke kedainya di Kebumen sangat menghargai kopi bambunya.

Yuri Dulloh mengenalkan Kopi Bambu Gaya Kebumen
Yuri Dulloh mengenalkan Kopi Bambu Gaya Kebumen | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Dia belajar satu hal dari mereka, dan begitu juga sebaliknya. Bahwa enak atau tidaknya kopi itu bukan dari seberapa mahal alat yang digunakan. Namun dari pengetahuan orang tentang kopi dan menghargai upaya orang lain. “Saya dibesarkan oleh para petani kopi. Jadi kita harus bersama-sama membesarkan kopi Kebumen,” ujar Yuri.

Yuri Dulloh juga ternyata mengembangkan inovasi lain. Berupa kopi arabika dataran rendah. Sayangnya, untuk merasakannya aku diminta untuk mampir ke kedainya. Karena stok yang dia bawa hanya dalam bentuk green bean. Tak apalah, aku bakal ke Kebumen. Itung-itung jalan-jalan, dan bergembira.

Yuri Dulloh seakan mengajakku untuk memahami makna dari rasa. Bahwa rasa itu tidak dibentuk dari tampilan saja. Seperti ketika berada di mall yang sempat membuatku terasing ini. Ternyata dengan mengenal cerita dan orang-orang di dalamnya, aku juga bisa menikmati International Coffee Day ini.

Dian Teguh Wahyu Hidayat

Masih jadi jurnalis, dan seorang wiraswasta yang ingin mengeksplor tempat kelahirannya, Demak, Jawa Tengah.

  • Asrida Ulinnuha

    Wow! Terimakasih ulasannya.