Inspirasi dari Kopi dan Rokok

Kopi dan Rokok
Kopi dan Rokok © Eko Susanto

Nyaris semua dari kita mengenal pepatah: ada gula ada semut. Pepatah itu bisa kita modifikasi sedikit: ada kopi ada rokok, maka muncullah inspirasi.

Sering kita jumpai dalam bisnis kopi, dari kelas atas sampai pada pedagang keliling yang ada disetiap pingiran jalanan bahwa mereka menjual kopi selalu ditemani oleh rokok. Bahkan, Sang Legendaris Iwan Fals pun menjadi bintang iklan salah satu dari tiga subjek tersebut, dengan semboyannya Bongkar Kebiasaan Lama! Tidak hanya itu, dalam lirik lagu “Perempuan Malam”, Iwan pun membawa unsur kopi dan sebatang rokok, segurat catatan (inspirasi) tersimpan.

Bahkan Sang Burung Merak, W.S Rendra bahkan menjadikan rokok, kretek lebih tepatnya, dalam karya seninya.

…kreativitas dari para leluhur dan para penduduk indonesia luar biasa.
tembakau dicampur dengan klembak, tembakau dicampur dengan cengkeh,
menjadi rokok klembak, menjadi rokok cengkeh dan ini suatu kreativitas yang luar biasa.

Sejak kapan kopi identik dengan rokok? Tak ada yang tahu. Yang jelas, kedekatan antara kopi dan rokok menjadi pemecah es percakapan. Perpaduan antara dua benda surgawi ini bisa membuat suasana komunikasi menjadi encer ketika berkumpul bersama.

Dalam sebuah pola budaya hasil kreasi masyarakat, terutama di wilayah Jawa Timuran, kopi dan rokok terwadahi dengan sebuah mekanisme cangkrukan. Di daerah seperti Yogyakarta, hal seperti itu bisa terlihat di angkringan.

Semua wadah itu untuk menfasilitasi mereka untuk saling ngobrol, melepas lelah, saling tukar informasi, dari persoalan rumah tangga hingga politik. Semua dilakukan dengan media kopi dan rokok, hingga muncul sebuah inspirasi atau ide.

Satu yang pasti, baik kopi dan rokok, sama-sama punya sejarah yang panjang. Masyarakat Ethiopia sudah mengenal tradisi minum kopi semenjak 800 SM. Oleh pedagang Yaman, kopi dibawa ke seluruh dunia.

Begitu pula rokok yang sudah mulai menjadi ritus keseharian sejak wangsa Maya, Aztec, dan suku bangsa Indian Amerika lain. Tembakau yang dibakar dan dihisap melalui pipa ini hanya dilakukan saat ada pertemuan kelompok. Fungsi tembakau yang dibakar itu adalah mempererat hubungan antar suku, juga sebagai media komunikasi. Para suku Indian Amerika ini juga menggunakan tembakau sebagai pengobatan.

Dari sana, kopi dan rokok menemukan jalannya masing-masing.

Di Indonesia, pertautan antara kopi dan rokok bisa ditemukan di kopi Lasem dan kopi Cethe. Mereka tercipta oleh kelompok budaya masyarakat tertentu dalam menyajikan kopi dan rokok, media kopi diidentikkan dalam rupa feminim dan rokok berperan dalam rupa maskulin. Kopi bertugas untuk menyelimuti kesendirian rokok dan menghiasi tubuh sang rokok. Disini, peran kopi bagi perokok, meski sebagai secondary item, akan tetapi sangatlah penting, dan tidak dapat ditinggalkan atau disubstitusi dengan item yang lain. Keindahan dan kenikmatan menjadi sebuah instrumen dalam pola ngelelet/nyethe.

Modernisasi dari kopi dan rokok mengatakan [minum] kopi dan [me] rokok adalah sebuah tradisi zaman kuno yang kemudian mengalami pergeseran nilai mengikuti gerak laju perkembangan zaman. Rokok bukan lagi sebagai media ritual para dukun/tokoh keagamaan sebuah suku yang menjadi rokok sebagai cara berkomunikasi antara dewa atau roh nenek moyang, dan kopi Sekarang, kopi disajikan dengan cita rasa tinggi dan dinikmati dengan berbagai metode teknologi, tak ayal lagi penikmat kopi bukan dari masyarakat kelas bawah namun juga dinikmati oleh masyarakat kelas atas, kopi dan rokok tak lagi pahit. Selamat [minum] Kopi dan [me] rokok.

Tejo Lumaksono Adi

Bapak dari satu istri dan satu anak, KTP probolinggo domisili Jakarta.