Ingat Bali, Ingat Kopi Kupu-Kupu Bola Dunia

Bhineka Djaya berdiri sejak tahun 1935
Bhineka Djaya berdiri sejak tahun 1935 | © Cisilia Agustina

Denpasar, sulit rasanya menemukan tempat ngopi enak dengan kisaran harga 10 ribu rupiah ke bawah. Enak dalam artian tempatnya relatif nyaman dan tentunya secara citarasa, kopi yang disajikan juga punya kualitas. Tapi sulit bukan berarti tidak ada. Karena di jantung kota Denpasar, ternyata masih ada tempat ngopi yang demikian.

Adalah Bhineka Djaya, tempat ngopi sederhana yang berada di antara deretan ruko-ruko tua di jalan Gajah Mada, Denpasar. Seperti bangunan-bangunan di kanan kirinya, Bhineka Djaya sejatinya memang bukan tempat ngopi. Tempat ini awalnya hanya sebuah toko yang menjual biji dan bubuk kopi serta beberapa jenis teh berkualitas.

Namun lambat laun, tempat ini kemudian menyediakan meja dan beberapa kursi untuk para pengunjung yang ingin menyeduh kopi di lokasi. Arsitektur bangunannya yang relatif sempit dipermak sedemikian rupa sehingga memberi kesan unik nan menghadirkan kesan nyaman. Berbagai macam jenis kopi dan beberapa jenis teh dipajang di hapir semua etalase. Ada juga beberapa buah mesin giling dan alat seduh kopi yang dipamerkan di etalase depan.

Dinding bangunan bagian atas, beberapa lukisan khas Bali yang katanya dibuat dengan memakai kopi sebagai tinta semakin mempercantik ruangan. Ada juga beberapa kliping surat kabar dan majalah berisi cerita tentang Bhineka Djaya dibingkai rapi dan menempel agak landai di tembok. Dari artikel itu, kita juga bisa meraba-raba perihal sejarah panjang Bhineka Djaya yang ternyata sudah ada sejak tahun 1935 ini.

Ragam sajian biji kopi dan kopi bubuk khas Bali
Ragam sajian biji kopi dan kopi bubuk khas Bali | © Cisilia Agustina
Pelanggan Bhineka Djaya menikmati sajian khas Kopi Bali
Pelanggan Bhineka Djaya menikmati sajian khas Kopi Bali | © Cisilia Agustina

Dalam salah satu artikel milik Jawa Pos terbitan 9 Agustus 2007, tertulis bahwa Bhineka Djaya merupakan anak perusahaan dari pabrik pengolahan kopi bernama Kupu-kupu Bola Dunia milik Bian Ek Ho. Pada artikel setengah halaman yang menempatkan Djuwito Tjahjadi–anak dari Bian Ek Ho– sebagai sumber utama ini, menyebutkan jika perusahaan kopi ini sejak awal memang konsen mengembangkan kopi Bali. Djuwito menganggap kopi Bali secara kualitas tidak kalah dengan jenis-jenis kopi lain baik di Indonesia maupun di manca Negara.

Berbekal pengalaman Djuwito mencicipi kopi di berbagai belahan dunia, ia kemudian berhasrat ingin mensejajarkan kopi Bali dengan kopi-kopi berkualitas lainnya. Sehingga ia mulai disiplin betul dalam urusan memilah dan memilih biji kopi hingga memantau secara ketat proses pengolahannya. Hasilnya memang luar biasa. Kopi Kupu-kupu Bola Dunia semakin punya nama. Bahkan menurut Djuwito, Presiden Soekarno kala itu secara rutin memesan kopi hasil produksinya.

“Saya ingin menganggat nilai kopi Bali hingga setara dengan kopi-kopi berkualitas lainnya. Selain itu saya juga berkeinginan untuk menyandingkan kopi Bali dengan keagungan nama Bali itu sendiri,” kira-kira begitu kata Djuwita Thahjadi dalam artikel tersebut.

Keinginan Djuwita Thahjadi untuk menyandingkan kopi Bali dengan Bali itu sendiri kemudian kekal dalam bentuk slogan. Kopi Kupu-kupu Bola Dunia punya slogan “Ingat Bali Ingat Kopi Bali, Don’t Leave Bali Whitout Bali Coffee”.

Bian Ek Ho dan Djuwita Thahjadi kini telah tiada. Bisnis kopi Kupu-kupu Bola Dunia dan turunannya kini dikelola oleh Wirawan Tjahjadi, cucu dari Bian Ek Ho.

Sekilas kemudian saya berpikir, apakah Wirawan Tjahjadi sadar betul bahwa dia seolah telah mengingkari cita-cita luhur kakeknya yang menular pada ayahnya tentang nilai jual kopi Bali dengan menjual kopi hanya seharga 10 ribu rupiah?

Sajian Latte khas Bhineka Djaya
Sajian Latte khas Bhineka Djaya | © Cisilia Agustina
Sajian khas kopi dan latte dipersiapkan terpisah lengkap dengan gula
Sajian khas kopi dan latte dipersiapkan terpisah lengkap dengan gula | © Cisilia Agustina

Ternyata saya salah menduga. Usut punya usut, ternyata Pak Wira–panggilan keseharian Wirawan Thahjadi– sudah punya warung kopi yang sebenarnya di bilangan jalan By Pass Ngurah Rai, Sanur. Sebuah warung kopi berkelas yang menawarkan berbagai jenis olahan kopi Bali, tentu dengan harga yang relatif mirip dengan kopi-kopi di café. Di sana, cita-cita mendiang kakek dan ayahnya sepertinya sudah diterjemahkan Pak Win dengan sangat baik.

Lalu setelah ngobrol panjang dengan beberapa pelanggan dan pegawai di Bhineka Djaya, saya kemudian mendapat jawaban tentang alasan Pak Win menyediakan beberapa meja dan kursi di sini. Kesimpulan sederhana saya mengatakan, bagi Pak Win, Bhineka Djaya ibarat teras rumahnya. Sehingga baginya, siapa saja yang singgah di sini, dia anggap sebagai teman bahkan keluarga. Dan apa yang dia sajikan di Bhineka Djaya seolah tak punya tarif sesuai. Kira-kira begitu lah.

Karena secara perhitungan ekonomis, sepertinya tidak masuk akal jika kopi Bali kualitas super hanya dihargai 10 ribu rupiah, di Denpasar. Itu pun sudah masuk tarif terbaru. Beberapa bulan yang lalu, harga kopi di sini masih delapan ribu rupiah.

Anda juga bisa menikmati kopi susu dengan menambah dua ribu rupiah saja dari harga kopi hitam. Cappuccino juga ada, harganya 15 ribu rupiah. Penyuka espresso juga bisa mendapatkannya di Bhineka Djaya dengan kisaran harga 20 ribu rupiah.

Siang lalu, Om Bir, satu di antara beberapa pelanggan setia Bhineka Djaya merapat ke meja saya dan kawan-kawan. Ia menegur Ical, kawan saya yang lebih rajin ngopi di sini. Katanya, si Ical telah melewatkan informasi penting perihal ritual minum kopi luwak gratis. Om Bir mengaku sempat menunggu kehadiran Ical beberapa hari berturut-turut yang lalu. Tapi Ical tak kunjung hadir dan pastinya dia juga melewatkan ritual minum kopi luwak gratis di Bhineka Djaya, bersama kumpulan orang-orang tua yang belakangan sudah seperti keluarga.

Begitulah Bhineka Djaya. Sebuah toko yang menjual biji dan bubuk kopi sekaligus warung kopi bagi keluarga dan calon keluarga Pak Win.

Muhammad Qomarudin

Nulis sekenanya. Minum kopi secukupnya. Sementara ini tinggal di Bali.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405