In Caffeine We Trust!

Three things that I want to be strong and durable: my man (when I have one), my booze, and my coffee.
-Pito-

Entah kapan saya mulai suka kopi. Sejak Mbak Bule klien saya dari Belanda memperkenalkan cara menyiapkan kopi dengan direbus, saya mulai maniak kopi hitam tanpa gula. Rasanya menyegarkan. Beneran deh. Tapi saya nggak percaya bahwa kafein penyebabnya. Karena campuran satu mug air mendidih dan dua sendok makan kopi yang saya aduk sampai rata itu sering saya seruput panas-panas sampai ujung lidah menghitam. ITU yang bikin segar.

Saya sempat berpikir bahwa nutrisi saya sehari-hari dicukupkan dengan bergelas-gelas kopi pahit-hitam-panas-mengepul dan rokok. Lupakan lotek, lupakan mie ayam dan gado-gado. Saya bisa hidup tanpa mereka namun melemah tanpa cairan pekat berkafein.

Sampai ketika saya bekerja di pabrik topeng nan santai dengan celana pendek dan kaos oblong mengharuskan saya melek seharian dan berkejaran dengan tenggat. Suatu hari yang apes saya sadar sudah dua belas kali saya bolak-balik ke pantry untuk menyeduh kopi dan membuat toilet juga beraroma kopi setiap saya habis pipis.

Man… that was verrrrrry wrong.

Kopi - iStockphoto

Tapi saya bangga dengan kopi Indonesia. Lupakan espresso bikinan orang-orang Italia yang memampatkan saripati kafein dalam secangkir imut cairan pekat-pahit sempurna, menyerap semua rasa manis berkilo-kilo gula dengan formulasi e = 1 seperti Dementor menghisap kebahagiaan manusia di seluruh dunia. Bentang alam Indonesia dengan ketinggian bervariasi membuat aroma kopi juga bermacam-macam.

Nggak usah jauh-jauh. Ambil contoh kopi Aceh. Dengan komposisi yang sama, cara merebus yang sama dan hasil yang sama, jika hidung dan pencecapmu mampu, kamu bisa rasakan perbedaan antara aroma Gayo dan Ulee Karaeng. Aroma Gayo lebih “primitif” sementara rasa Ulee Karaeng lebih tebal. Geser jempolmu sedikit dari Google Map, coba bedakan antara kopi dari Banyuwangi dan Toraja, akan kamu dapati kegetiran lebih tebal pada Kopi Banyuwangi.

Sudah coba Kopi Sorong? Hati-hati buat yang berjantung lemah. Sesendok makan kopi ini, sekalipun direbus sempurna, masih membuat saya deg-degan nggak karuan, macam lagi ngobrol sama cowok ganteng-pintar-unyu-cakeup yang saya cuma bisa bengong sambil keringetan.

Apalagi? Vietnam drip dengan kopi asli Vietnam? HUAHAHAHA! Kopi palsuuu! Apa-apaan itu, kopi kok rasanya kecoklatan?! Kalau mau merasakan sensasi ngopi cara Aceh asli di Jakarta yang penyajiannya mirip Teh Tarik, datang ke Jambo Kupi dekat Pasar Minggu. Bapak peracik kopinya menatap saya bangga waktu saya pesan kopi gelas besar tanpa gula. Dia bilang, “Adek ini penikmat kopi sejati rupanya. Harusnya memang begitu menikmati kopi.” Dan saya cuma nyengir.

Dan Kopi Arab? Waduh… Meskipun syahdan menurut konon—yang saya lupa baca di mana—orang Arab lah yang membawa kopi ke Indonesia dan menyebutnya dengan kahwa, mereka mencampurnya dengan rempah dan rasanya kentang. Kena-tanggung. Semacam udah berkonde tapi nggak kondangan.

Oke, salah terminologi. Berkonde-nggak-kondangan itu untuk menyebut mabuk alkohol yang kentang. Lha wong rasanya sama kok. Tau kan? Semacam baru masuk ujungnya dan tiba-tiba pintu kamar digedor Ibu Kos.

Oke, saya ngelantur lagi.

Saya cuma mau bilang bahwa Indonesia, negara gemah-ripah-loh-jinawi ini, yang bisa tanam kayu jadi tanaman—menurut survey Koes Ploes di jaman kuda gigit kuda—dan sumber-sumber mata airnya nan kaya memaslahatkan kehidupan desa sudah dikangkangi perusahaan air minum kemasan dari Perancis semacam Danone dengan Aqua, yang penduduknya ramah dan terbuka dan membuat Nusantara digerogoti perusahaan Belanda pencari rempah dan kekayaan demi memenangkan perang selama tiga ratus lima puluh tahun, yang rakyatnya gampang diprovokasi oleh isu agama karena malas cari tahu, yang mau dijelek-jelekkan sebagaimanapun tetap juga saya bela sampai titik darah dan jigong penghabisan, adalah produsen kopi dengan aroma paling kaya, paling beragam, paling enak sejagad-raya.

Lupakan Starfucks yang rasa kopinya berteriak “GENGSI! PRESTISE! GAYA!” Bandingkan dengan Kopi Aroma di Jalan Banceuy no. 61, Bandung, dengan Pak Widjaja yang—jika kamu beruntung mendapati dia sedang ada di situ—akan mengantarmu keliling pabrik dan bercerita penuh semangat tentang usaha nenek moyangnya, tentang sepeda pertama pengangkut karung-karung kopi yang bertengger di dinding, tentang gerumbul-gerumbul kopi harum setelah disangrai.

Lupakan Kopi Amerika Latin dan Afrika. Meskipun nasib petaninya seragam—dibayar murah demi keuntungan kapitalis pabrik kopi kemasan—namun kita boleh bangga karena kopi-kopi terbaik Indonesia justru nggak sanggup kita beli. Kemasan ukuran 100 gram itu diekspor ke Jepang, Eropa dan Cina dengan harga gila-gilaan.

Lupakan kopi-kopi sachet cupu bikinan Nestle, karena Liong Bulan bikinan Depok punya efek lebih gahar. Tapi jangan lupa jaga kesehatan. Untuk segelas kopi, sertakan dengan minum dua gelas air. Kasihan ginjalmu. Jangan siksa dia lebih jauh.

Jadi? Silakan eksplorasi kopimu, kenali negaramu.

Because In Caffeine We Trust!

Pitoresmi Pujiningsih

Perempuan, bangga menjadi jomblo di usia 30 sekian karena lajang dan berpasangan adalah konstruk sosial yang nggak penting-penting amat. Percaya? Masalahmu. Karya-karya lainnya bisa dilihat di pitopoenya.blogspot.com dan learnerwithoutborder.wordpress.com


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • kok nggak ada yang komen sih?! 

    oke. ini komentar sampah. silakan diapus ya, min!
    mwah!

    • tukangpolesweb

      Tapi sudah ada 20 orang yang ngeshare lho jeng..
      Dan kalau sampah biasanya tidak akan ditampilkan. Langsung diblok 🙂

      • hwaaa! dibales! dibales! iiih.. ngadiminnya baiiik! 
        makasih ya, min… semoga enteng jodoh, banyak rejeki dan cepet mbathi webnya.
        hihi.

  • Konon, menyesap secangkir kopi sama dengan menikmati sejarah sejak biji kopi ditanam hingga siap saji.

  • Alhamdulillah, karena belas kasih temen-temen saya bisa merasakan kopi dari berbagai penjuru dunia. Kopi Indonesia tentu punya kharisma tersendiri yang bisa dibanggakan. *ngomyang apa ini?*

    • Lhaini orangnya yang ngajarin saya kopi… *menjura*

  • hey, you two! get a room! 
    =P

  • Tulisan ini unik banget, nendang n nyubit banget, mirip dosis kopinya panjenengan mbakyu! nendang banget! 😀

    banghen

  • Setuju, kopi di negri ini ancep sipp. Ngepens mbak pito. Sayang pas k jmber gak ikut gabung ngupi bareng. Hehehhe…

  • ah jancuk. serasa sy ini kuper tentang kopi. maklum mahasiswi kelas petani bisanya cuma seruput kopi Gresik paling pol Kopi Gayo. ah agomes bisa jalan2 menikmati kopi senusantara nanti kalau sudah besar. hidup kopi hitam!!!
    btw keren mbak yg nulis di atas. semoga bahagia hidupmu mbak!!! salam dari Ngalam.