HR Coffee: Kafe Vintage Sarat Sejarah

Tampak foto almarhum Harry Roesli dalam gambar ini, berkacamata menggunakan topi serta di dalam meja terdapat gitar yang dulu digunakan oleh beliau.
Tampak foto almarhum Harry Roesli dalam gambar ini, berkacamata menggunakan topi serta di dalam meja terdapat gitar yang dulu digunakan oleh beliau. © Yuni Kusuma Wardani

Cuaca Bandung siang hari yang selalu mendung, membuat saya ngide untuk ngajak pergi ngopi mas-mas saya di malam hari: Ocol dan Tukul (bukan nama sebenarnya). Waktu menunjukan pukul 21.14 WIB saya, Mas Ocol, Mas Tukul, Desri, Fika dan Tablo masih tidak jelas akan pergi kemana. Tapi saya percayakan saja semuanya kepada Mas Ocol yang sudah memiliki banyak referensi tempat ngopi di Bandung, akhirnya dia mengantarkan kami ke sebuah kafe di Jl. Supratman No. 59 Bandung, HR Coffee.

Sebenarnya acara nongkrong kali ini untuk memenuhi tugas saat saya interview magang pada sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang mobile application; Seeties,aplikasi ini memberikan rekomendasi seputar gaya hidup di kota (aplikasi bisa diunduh di playstore yah, hehehe). Saya disuruh mencari tempat hangout untuk dijadikan bahan dengan minimal 5 foto dan dilengkapi dengan artikel minimal 500 kata, jadi perjalanan kali ini adalah membawa misi untuk tugas magang yang lebih baik!

Dari luar suasana terasa sepi, sepertinya hanya kami yang berkunjung waktu itu, ada 2 spot di dalam dan di bagian teras depan. Sang waiters menjemput kami di depan pintu, dan menyapa dengan ramah.

“Silahkan, mau di dalam atau di luar”

“Di dalam saja,” jawab saya singkat.

Saya sebenernya juga bingung, tapi saat saya lihat-lihat lebih sepertinya lebih enak di dalam. Pertama kali yang ada di pikiran saya saat memasuki kafe ini—unique. Desain interiornya bernuansa musik, banyak terpampang alat musik seperti gitar, ukulele, drum, gamelan, ada juga piringan hitam dan masih banyak lagi. Saya jadi penasaran, akhirnya saya coba bertanya sama waiters-nya:

“Saya boleh nanya-nanya nggak aa? Ya wawancara kecil sih seputar kafe ini.”

“Oh bisa, sebentar ya.”

“Ke aa nya juga gak apa-apa kok.”

“Oh gak bisa, ke pengurusnya saja langsung.”

Akhirnya saya dipertemukan dengan bapak-bapak yang sedang duduk santai di luar. Setelah perkenalan dan berbincang singkat, ternyata beliau ini adalah bagian keuangan di kafe ini beliau bernama Pak Orin. Saya bertanya seputar sejarah, desain, dan kopi andalan di kafe ini. Beliau menjelaskan sesuai permintaan saya dengan begitu selow nya.

“Jadi ini kafe sebenarnya baru 7 bulan, kalau dibilang aktif baru sekitar 5 bulan. Namanya HR Coffee. HR itu dari nama Harry Roesli, adek tahu nggak?”

“Wah saya belum tahu pak, maaf pak itu siapa ya?” Jujur saya nggak tahu siapa di balik nama Harry Roesli.

“Jadi Harry Roesli itu seorang seniman memang aktif dalam bermusik tapi itu dulu, anak muda jaman sekarang sepertinya memang gak tahu. Tapi coba cari saja di internet, pasti ada”

“Siap pak, nanti saya coba saya cari-cari lagi”

RMHR tampak dari depan
RMHR tampak dari depan. © Yuni Kusuma Wardani

Lalu Pak Orin menjelaskan bahwa HR Coffee ini dibuat oleh keluarga Harry Roesli, jauh sebelum kafe ini didirikan, terlebih dahulu lahir Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Rumah musik ini sengaja didirikan oleh almarhum sebagai tempat membina seniman jalanan. Hingga saat ini kegiatan pembinaan masih berlangsung, bahkan para musisi jalanan yang tergabung dalam RMHR ini disediakan studio untuk latihan. Berdasarkan penuturan Pak Orin para seniman jalanan yang dibina juga mengaransemen lagu, melakukan rekaman bahkan mereka juga sempat mendapatkan tawaran manggung atau masuk di acara talkshow di beberapa TV.

Jika dilihat desainnya, kafe ini memang bernuansa musik dan vintage. Pria yang memiliki background manajemen ini menuturkan: “tidak ada hal yang berarti mengenai desain, namun sengaja dibentuk sedemikian rupa karena memang menyesuaikan dengan latar belakang Harry Roesli sendiri sebagai seorang komposer.”

Dekorasi ruangan kental akan nuansa music dan vintage.
Dekorasi ruangan kental akan nuansa music dan vintage. © Yuni Kusuma Wardani
Menikmati menu di HR Coffee.
Menikmati menu di HR Coffee. © Yuni Kusuma Wardani

Orange coffee dan dark chocolate adalah minuman andalan. HR Coffee menyediakan beberapa jenis kopi Indonesia dan banyak menu makanan lainnya. Harganya cukup terjangkau dimulai dari kisaran Rp 12.000. Sayang, HR Coffee hanya beroperasi dari jam 2 siang hingga jam 11 malam. Karena waktu sudah menunjukkan jam setengah 11 malam akhirnya saya pun, menyudahi pembicaraan dengan Pak Orin dan kembali bergabung dengan teman-teman yang sedang menanti pesanan mereka.

Tak lupa saya pun memesan kopi andalan seperti yang kata Pak Orin tuturkan—­orange coffee. Namun tidak bisa dipungkiri, saya yang seleranya kuno ini selalu menyukai yang original, bagi saya tetap saja kopi hitam yang menjadi favorite. Tak beberapa lama waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 kami pun terpaksa menyudahi acara ngopi hari ini.

Saat pulang tidak sengaja saya membaca quote yang tertempel di dinding: “I like my coffee black, like my soul”. Saya terdiam dan berhenti sejenak, sepertinya saya sepakat dengan kalimatini. Lalu saya pun kembali melangkah pulang.

Yuni Kusuma Wardani

Mahasiswi yang merindu akhir pekan.