Hormat Kami pada Kiarostami

Salah satu scene film Take Me Home - Tokyo International Film Festival
Salah satu scene film Take Me Home | Sumber: Tokyo International Film Festival

Ada sebuah rumah yang dibangun di tempat yang sangat tinggi. Pada sekelilingnya dipenuhi anak-anak tangga. Saat itu pintu sedang tertutup dan sebuah bola teronggok di sampingnya. Tak lama, angin bertiup dan perjalanan pun dimulai. Bola itu menggelinding. Dari tangga atas menuruni tangga-tangga di bawahnya. Melompat-lompat dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya. Berbelok ke kanan, ke kiri, lalu tergelincir ke bawah. Melompat-lompat lagi, lagi, dan lagi. Seorang anak kecil membuka pintu dari dalam rumah dan mengejar bola itu. Hap! Hap! Tertangkap!

Menurut Anda, apakah cerita itu harus berhenti sampai di situ? Tunggu dulu. Anak itu membawa bola itu ke tempat semula dan masuk lagi ke dalam rumah. Dan kisah si bola berulang ke cerita semula. Angin bertiup dan perjalanan bola itu terus berlanjut.

Secuplik kisah di atas adalah bagian dari film Take Me Home. Film terakhir seorang Abbas Kiarostami, filmmaker dari Iran, sebelum kematian memanggil namanya. Take Me Home adalah kisah menggelindingnya sebuah bola, berdurasi tak kurang dari 15 menit dengan gambar hitam putih. Tak ada percakapan di sana, hanya bunyi pantulan bola dengan anak-anak tangga juga desir gelindingnya. Kisah bola itu cukup menarik, membuat penonton bergeleng-geleng kepala, berdecak kagum dan gelak tawa. Dalam film ini Kiarostami membawa kameranya ke bagian selatan Italia dan menunjukkan gambar gerak yang indah dan penuh keceriaan dari jalanan sempit dan berbagai tangga di sekitarnya.

Pada 2003, The Guardian membuat daftar 40 sutradara terbaik dari seluruh dunia versi mereka. Dari daftar itu saya menemukan beberapa nama yang cukup akrab di telinga saya, seperti Spike Jonze, Quentin Tarantino, Richard Linklater, Hayao Miyazaki dan Abbas Kiarostami. Sekali lagi, Abbas Kiarostami! Dalam daftar itu Kiarostami berada di nomor enam, dua level lebih tinggi dari filmmaker Studio Ghibli kesukaan saya, Hayao Miyazaki. Saya pun bertanya-tanya: sebenarnya, apa yang menarik dari Abbas Kiarostami? Saat mendengar berita kematiannya pada bulan Juli lalu, rasa penasaran itu semakin menjadi.

Abbas Kiarostami saat menyutradarai film Certified Copy - The Guardian
Abbas Kiarostami saat menyutradarai film Certified Copy | Sumber: The Guardian
Badii saat sedang mengendarai mobilnya, mencari seseorang untuk mengubur jenazahnya dalam film Taste of Cherry - Moviestore-REX Shutterstock
Badii saat sedang mengendarai mobilnya, mencari seseorang untuk mengubur jenazahnya dalam film Taste of Cherry | Sumber: Moviestore-REX Shutterstock

Saya baru kali pertama mengenalnya saat menonton Taste of Cherry, film yang membuat Kiarostami menyabet piala Palme d’Or dalam Festival Cannes di tahun 1997 itu. Berkisah tentang seseorang bernama Badii yang ingin mengakhiri hidupnya lantas mencari seseorang yang cocok untuk menguburkan jenazahnya dan akan memberikan seluruh harta yang ia miliki padanya setelah ia berhasil melakukan bunuh diri. Ada nafas putus asa dalam diri Badii, dan kemudian ia mulai bimbang saat seseorang menceritakan kisah tentang buah mulberi.

Saya tambah mengenal Kiarostami tatkala menonton film dokumenter yang dibuat oleh Seifollah Samadian, sahabat baik Kiarostami yang sudah berkerja bersamanya selama 25 tahun. Film itu berjudul 76 Minutes and 15 Seconds with Abbas Kiarostami. Film itu menceritakan 76 menit dan 15 detik kehidupan, karya, dan metode kreatif Abbas Kiarostami yang belum pernah terungkap, dalam rangka memperingati 76 tahun dan 15 hari perjalanan hidupnya. Film dokumenter tersebut diputar bersamaan dengan Take Me Home pada acara Jogja Asian Film Festival (JAFF-Netpac) awal Desember lalu dalam sesi Tribute to Abbas Kiarostami. Sebuah penghormatan bagi sang seniman serbabisa sekaligus keindahan karyanya. Saya bilang seniman serbabisa karena selain menyutradarai film dan menekuni fotografi, Kiarostami juga seorang penyair dan pelukis.

Dalam 76 Minutes and 15 Seconds with Abbas Kiarostami, banyak diputarkan footage yang mengisahkan fase-fase hidup dan karier Abbas Kiarostami. Oleh karena kumpulan footage, kisah-kisah di dalamnya tidak bisa fokus pada satu hal, melainkan acak. Hal itu karena film ini dibuat mendadak setelah meninggalnya Kiarostami pada 4 Juli 2016 lalu dan demi menghormatinya. Kematiannya benar-benar tak diduga oleh para penggemarnya dan para pembuat film yang sangat dipengaruhi oleh karya-karyanya di seluruh dunia. Terlebih, penyebab kematiannya sempat menjadi perdebatan pihak keluarganya dan rumah sakit.

Film ini membuat saya menjadi penggemar Abbas Kiarostami. Dalam dokumenter tersebut diperlihatkan betapa Kiarostami sangat menyukai fotografi. Ia memotret hal-hal sederhana, tetapi menjadi sangat indah ketika cahaya-cahaya itu tertangkap kamera Leica miliknya.

Abbas Kiarostami yang selalu memakai kacamata hitam karena memiliki penglihatan yang sensitif cahaya - Tokyo International Film Festival
Abbas Kiarostami selalu memakai kacamata hitam karena memiliki penglihatan yang sensitif cahaya. | Sumber: Tokyo International Film Festival

Selain fotografi, banyak hal yang juga disukai Kiarostami, salah satunya puisi. Banyak adegan yang menunjukkan Kiarostami sedang membaca buku puisi, lantas membaca dengan lantang bagian-bagian yang ia suka dan menceritakan kepada semua yang berada di dekatnya tentang begitu dalamnya makna kata-kata itu. Ia pun sempat membacakan dengan lantang salah satu puisi Umar Kayam. Namun, ia pun tak kalah jago membuat puisi, akan ada puisi balasan darinya pada margin kosong buku yang ia baca, atau pada lembaran terakhir buku yang ia baca.

On a snowy morning

I run out

hatless and coatless

as happy as a child

Begitulah penggalan puisi yang ia tulis dalam buku catatannya, yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Ia menulisnya dalam bahasa Persia. Tidak seperti Badii yang murung dan muak kepada hidup dan orang-orang di sekelilingnya. Kiarostami adalah sosok dengan pribadi yang ceria, penuh senyum dan tertawa, selalu perhatian pada orang-orang di sekelilingnya dan mencintai keindahan alam. Di setiap kesempatan ia selalu memakai kacamata hitam. Itu karena ia memiliki penglihatan yang sangat sensitif terhadap cahaya.

Yang paling berkesan dalam dokumenter tersebut adalah ketika Kiarostami membuat film dokumenter bertajuk Five, yang mana ia menampilkan adegan bebek-bebek sedang memenuhi pantai. Orang bilang yang paling menonjol dari karya Kiarostami adalah kesan minimalisnya. Dan ketika membuat Five, ia sangat cerdik dalam mengisi suara. Ia mengambil gambar di pantai, maka akan mustahil mendapatkan suara langkah kaki bebek-bebek itu. Akhirnya, ia memiliki ide untuk mengisi suara itu dengan menggunakan beras. Ia ajak rekan-rekannya, dan memberi mereka instruksi kaki bebek manakah yang akan mereka buat suaranya dengan memutar video tersebut tanpa suara. Ketika mereka sudah mendapatkan bagian bebek-bebeknya, dubbing pun dimulai. Mereka mengganti suara itu dengan beras yang dipukul-pukul dengan tangan. Metode serupa ia buat saat mengisi suara untuk kepakan-kepakan sayap bebek. Kiarostami menggantinya dengan mengenakan kaus basah dan mengebas-gebaskan baju itu di depan mikrofon. Hasilnya? Luar biasa! Sangat mirip dengan suara aslinya. Kecerdikan ini yang membuat saya terkagum-kagum sekaligus terkekeh saat menontonnya.

Pada adegan terakhir dokumenter tersebut, terdapat footage ketika ia mengunjungi kembali tempat syuting film Through the Olive Trees (1994). Pada sebuah bukit yang subur, Kiarostami menirukan tokoh dalam film miliknya. Berjalan menuruni bukit yang dikelilingi rerimbunan pohon hijau. Meneriakkan nama tokoh perempuan dalam film tersebut: “Tahereh!” Seperti yang dilakukan tokoh pria dalam filmnya. Kemudian ia kembali ke bukit sambil tertawa-tawa.

Tak lama, layar menjadi gelap dan lebih gelap dan lebih gelap lagi. Film telah berakhir, pun dengan hidup Kiarostami. Ada sedikit rasa haru setelah menonton film itu.

Rahmawati Nur Azizah

Penerjemah partikelir, bercita-cita untuk tamasya ke antariksa.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405