Hok Lay, Lunpia, dan Nostalgia Rasa Cinta-cinta

Wajah Hok Lay yang sederhana
Wajah Hok Lay yang sederhana © Indah Ciptaning Widi

Barangkali kota Malang adalah tempat singgah bagi Anda untuk memecah penat atau sekadar berbagi pilunya hidup. Dengan menghirup udaranya yang sejuk, melihat pemandangan gunung Semeru maupun Arjuno yang membingkai sudut langitnya, atau sekadar menikmati malam dengan bintang-bintang di bukit Paralayang. Namun sayang jika hanya sebatas itu bayangan Anda pada kota ini.

Sebab, kota ini juga menyimpan banyak jejak peninggalan sejarah semasa kedudukan wong-wong Londo hidup di sini. Tak heran, jika kebetulan tengah mengitari pusat kota, Anda akan menjumpai banyak bangunan bergaya khas kolonial Belanda, baik rumah, perkantoran, bangunan publik atau tempat makan. Kawasan bersejarah tersebut ditandai dari Jalan Ijen lalu menerus ke arah timur, Balai Kota, Alun-Alun Malang, hingga sampai pada daerah sekitar Pasar Besar. Rute itulah yang membawa Anda merasakan betapa kota ini pantas dijuluki sebagai kota seribu kenangan.

Jika begitu, ada baiknya Anda menyempatkan diri untuk menyuburkan kerinduan di tempat makan ini: Depot Hok Lay.

Mengunjungi Depot Hok Lay yang berdiri sejak tahun 1946 ini membuat Anda belajar, bahwa sesuatu yang tua, kuno, atau lawas tak selamanya tak bisa digunakan. Justru sebaliknya, akan menjadi antik dan bisa dilegendakan asal terpelihara. Begitu kurang lebih gambaran ketika kali pertama kaki menginjak tempat makan ini.

Depot yang berada di jalan KH. Ahmad Dalan No. 10 itu berada di kawasan Pasar Besar Malang. Tepat berada di pinggir jalan, Anda bisa langsung menemukan depot yang dihiasi dua jendela kaca berukuran cukup besar dan dua daun pintu di tengahnya. Muka bangunan sebenarnya nampak biasa saja dari depan, namun setelah memasuki bangunan, Anda akan merasakan suasana bergaya Belanda dengan lantai tegel dan langit-langitnya yang tinggi. Begitu juga mebelnya yang didominasi oleh material kayu dan anyaman rotan.

Entah mengapa, merasakan interior bangunannya, saya seakan sedang diajak berpulang ke rumah Eyang Uti: rumah kampong yang menyejukkan dan damai. Mungkin karena penataannya yang sederhana dengan masing-masing tiga set kursi dan meja di samping kanan kiri yang diletakkan secara apik, rapi, dan bersih.

Ruang dalam Hok Lay bergaya seperti rumah Belanda
Ruang dalam Hok Lay bergaya seperti rumah Belanda © Indah Ciptaning Widi
Suasana pengunjung yang sedang menikmati makanan
Suasana pengunjung yang sedang menikmati makanan © Indah Ciptaning Widi

Kami berdua lalu memilih duduk di meja yang pada sisinya disekat oleh papan kayu berkelambu. Iya kami, saya dan kawan baik saya. Saya pikir mengajak seorang kawan ke tempat seperti ini lebih masuk akal ketimbang mengajak pacar. Tempat bagus seperti Hok Lay ini patut diamati lalu dikomentari. Jika dengan pacar, bukannya menikmat isi ruangan, malahan wajah pacar kelewat lebih indah untuk dipandangi daripada berceloteh soal bercak-bercak pada tegel depot yang terkikis waktu dan menjadi artistik. Sehabis puas dipandangi, lalu kami mulai grepe-grepe tangan, mringis-mringis tipis, lalu mengambil secarik kertas dan mulai menuliskan serentet nama-nama islami untuk bayi-bayi imajiner kami. Halaah.

“Kita pesan Lunpia dan Pangsit Cwimie yah”, celetuk kawan saya membuyarkan bayangan pada sang pacar mantan. Lunpia Semarang dan Pangsit Cwimie adalah menu andalan depot Hok Lay. Setelah mengiyakan dan ia mencatat makanan kami berdua, saya kemudian berganti memilih minuman. Sejuknya kota Malang kalau siang ya tetap saja panas, terik sekali bahkan. Jadi siang itu saya memutuskan pesan minuman yang paling segar dan enak. Kawan saya yang sudah pernah kemari sebelumnya menyarankan untuk pesan Fosco. Fosco adalah minuman yang terbuat dari susu sapi murni segar dicampur dengan coklat. Tertarik mendengarnya, saya pun memesan Fosco dan ia memesan Es Cincau.

Selagi menunggu pesanan datang, perhatian saya tercuri pada botol-botol yang menyerupai botol kecap berjajar rapi di tepi meja. “Linggardjati”, merk yang tertera di label kertas tepat melingkar di perut botolnya. Botol-botol itu berisi liimun jadul atau minuman bersoda. Rasa yang ditawarkannya juga cukup unik dan beragam, ada rasa lemon, strawberry, coffee cola, sari jahe dan sari temulawak. Namun sayang, saya tak bisa mencobanya. Dan kalau Anda ingat betul dengan rasanya lalu menuliskannya dengan begitu riang dan fasih, bisa dipastikan sekarang ini Anda sudah kelewat sepuh karena minuman yang berasal dari Pasuruan ini telah berproduksi sejak tahun 1948.

Limun jadul Linggardjati dengan berbagai rasa yang unik
Limun jadul Linggardjati dengan berbagai rasa yang unik © Indah Ciptaning Widi
Makanan kami datang!
Makanan kami datang! © Indah Ciptaning Widi

Tak perlu menunggu lama, pesanan kami pun datang. Saya mengelus perut, kawan saya juga begitu. Lalu kami tertawa bersama melihat makanan-makanan itu didaratkan di atas meja oleh pelayan. Bagaimana tidak tertawa, kami berdua akan menghabiskan makanan sebanyak ini. Awalnya kami membayangkan memesan dua buah lunpia, sedang yang datang malah dua piring yang masing-masingnya berisi dua buah Lunpia, total di atas meja kami ada empat buah Lunpia. Ah, ya sudahlah pikir kami. Lagipula hanya dengan harga Rp 15.000, saya sudah dapat dua buah Lunpia Semarang komplit dengan saus tauco, daun bawang, cabe dan selembar daun selada segar disematkan di tepi piring.

Tapi beruntung, sebelumnya kami mencukupkan untuk memesan satu mangkok Pangsit Cwimie seharga Rp 18.000. Minuman kami justru datang belakangan, segelas Es Cincau seharga Rp 7.500 dan segelas Fosco seharga Rp 10.000. Oh bukan segelas, tapi sebotol. Ini yang unik dan membuat Depot Hok Lay semakin tersohor karena penyajian Fosco ini menurut saya kelewat sederhana namun unik. Jadi Fosco ini disajikan dingin-dingin di dalam botol klasik Coca-Cola. Sehingga ketika menyeruput Fosco, mendadak saya seperti Eva Celia yang wajahnya terpampang besar-besar di Billboard dan bikin pengendara pria keder.

Tanpa Bismillah, saya segera memakan potongan pertama Lunpia yang dicelup saus tauco. Sontak, kawan saya mengingatkan untuk berdoa dulu. Saya jawab “sudah dalam hati” sambil terus mengunyah potongan Lunpia yang berisi irisan rebung, wortel dan ayam yang sudah terlanjur ambyar di dalam mulut. Begitu keambyaran itu terus memanjakan lidah sampai potongan Lunpia titik penghabisan. Belum selesai urusan kami dengan perut, semangkuk Pangsit Cwimie di atas meja itupun sudah kami pelototi.

Tak buru-buru, kami mengatur nafas dan mengelus perut kembali. Karena ternyata dua buah Lunpia gendut-gendut itu tadi cukup mengenyangkan. Namun apa daya, Pangsit Cwimie dengan taburan ayam cincang, bawang goreng, daun bawang dan dua potong pangsit goreng itu rasanya juga sudah minta dibelai dilahap. Hingga mangkuk dan piring-piring itu bersih sudah, mulus isinya berpindah ke perut kami berdua.

Lunpia Semarang dan Pangsit Cwimie
Lunpia Semarang dan Pangsit Cwimie © Indah Ciptaning Widi

Ditanya soal rasanya? Ah lidah saya terpuaskan jika bicara soal rasa. Lunpia Semarang memiliki rasa gurih manis. Isiannya dibalut dengan kulit yang kriuknya bikin bumi bergoyang. Sementara Pangsit Cwimienya menurut saya memiliki rasa yang sederhana. Sederhana dalam artian pas, tak ada rasa asin berlebihan, tak ada juga rasa MSG yang dominan. Malah sepertinya Cwimienya memang tidak dibubuhkan MSG ataupun penyedap macam-macam, supaya terjaga rasa originalnya seperti 66 tahun silam.

Bayangkan saja, di panas terik begitu dengan keadaan super kenyang, kemudian tenggorokan Anda disiram dengan Fosco, susu coklat yang kental dan dingin. Duduk bersandar, melonggarkan sabuk untuk perut yang terisi penuh lalu melihat suasana orang-orang yang sedang menikmati makanannya.

Meja sebelah diisi dengan satu keluarga yang asik melahap Lunpia, sambil sesekali bertukar cerita. Atau meja sebelahnya lagi yang diisi oleh Oma Opa yang mungkin ketika muda sering mengunjungi tempat ini, memadu cinta memadu kasih.

Betapa perasaan kenyang dan lega ini memang sepadan jika kemudian pikiran mulai merujuk pada yang indah-indah dulu alias bernostalgia. Saya pun ingin begitu, tapi apa yang mau dikenang, kalau kunjungan ke Depot Hok Lay baru sekali ini. Sayang juga, dulu saat mantan kawan baik saya jauh-jauh berkunjung dari kota seberang, belum sempat saya ajak kemari. Kalau sempat, pasti Lunpia yang saya makan tadi mendadak menjadi rasa nostalgia dan cinta-cinta.

Indah Ciptaning Widi

Menulis, melamun dan mencinta dalam sekali waktu.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405