Hilangnya Empu Kopi Kothok di Cepu

Meme Mak Pi
Meme Mak Pi © Kukuh Purwanto

Anggaplah Anda sedang nongkrong di sebuah kafe ternama saat ini. Anda disambut dengan ramah oleh pramusaji yang mengekor Anda sambil membawa buku menu dan meletakkannya dengan satu gerakan santun di atas meja yang Anda pilih. Beberapa meter dari meja Anda, barista menganggukkan kepala pada Anda sambil terus meracik kopi pesanan pelanggan. Anda mencium gurih aroma kopi, Anda melihat indahnya latte art pada cappuccino di meja sebelah, dan Anda memang penyuka kopi meski alasan Anda duduk di sini tak hanya untuk memenuhi tuntutan tubuh akan kafein. Maka, Anda memesan caffe latte, beserta camilan sebagai pelengkap. Calamari atau onion ring tampaknya cocok.

Ritual berlanjut dengan kemudahan yang sama. Anda memanggil pramusaji untuk meminta bill, lalu Anda membayarnya dan meninggalkan sedikit uang tip di atas meja. Selesai. Anda pulang.

Namun, Anda tak tahu bahwa di sebuah kedai di pelosok Jawa, para pelanggan harus melalui ritual yang tak pernah sederhana untuk sekadar menikmati secangkir kopi—hanya untuk meminum kopi, bukan untuk menikmati dekorasi atau berfoto selfie. Letaknya di jantung kota Cepu, di sebuah gang pasar yang diapit oleh rumah-rumah penduduk yang tak menyisakan sepetak tanah untuk pohon bisa tumbuh. Pemilik kedai itu, yang oleh para pelanggannya dijuluki mother of earth, Ibunda bumi, bernama Mak Pi.

Mak Pi
Mak Pi © Kukuh Purwanto

Mak Pi adalah ikon kopi kothok di Cepu, predikat yang ia sandang bersama rival abadinya yang bernama Mbah Seger. Keduanya sama-sama janda dan telah begitu tua, tetapi perangai kedua maestro itu berbeda. Mbah Seger, yang membuka kedai di timur stadion, melayani pelanggan dengan santun, mirip gerak laku pramusaji kawakan di gerai Excelso. Kedainya dapat menampung tiga puluh pengunjung yang selalu penuh sejak subuh. Mbah Seger juga menyediakan menu minuman lain beserta camilan dan rokok eceran.

Kebalikannya, Mak Pi mengejawantahkan paham totalitarian di kedainya. Ia menjadikan ruang tamu sebagai warung, yang hanya mampu menampung beberapa pelanggan. Berani duduk di sembarang sudut rumahnya adalah petaka, sebab Mak Pi tak segan untuk melempar apa pun yang teraih oleh tangannya ke pelanggan tak tahu adat itu, plus bonus cacian panjang. Tak ada camilan apa pun, bahkan tak ada menu selain kopi.

Mak Pi membuka kedai sekehendak dirinya saja dan menutupnya berdasarkan suasana hati, tak seperti Mbah Seger yang mempunyai jam operasional yang pasti. Saat mood-nya baik, ia buka pukul enam dan tutup menjelang dhuhur untuk ia buka kembali pada sore hari hingga malam. Itu jika suasana hatinya tak sedang mendung. Ketika mood-nya berantakan, yang amat sering terjadi, ia buka pukul delapan dan mulai mengusiri pelanggannya dua jam kemudian, tak peduli kopi di cangkir masih utuh atau tidak. Sore hari hingga malam ia mengunci pintu dan menyalakan radio dengan volume suara tertinggi dan mengabaikan pelanggannya yang menggedori pintu rumahnya.

Congkak? Memang. Seorang maestro yang sadar bahwa dirinya adalah maestro kadang menyebalkan, sebab pada tingkatan itu hanya orang awam saja yang membutuhkannya, bukan sebaliknya. Sadar bahwa para pelanggan tak mampu berpikir lurus tanpa meminum kopi bikinannya, Mak Pi menerabas pakem relasi antara pembeli dan penjual dengan memperlakukan pelanggannya sebagai hamba sahaya. Sudah pernah melihat pembeli mencuci sendiri gelas kopinya? Atau, pernahkah mendapati pelanggan didamprat habis-habisan oleh penjual akibat salah mengucap salam?

Pengunjung kedai Mak Pi
Pengunjung kedai Mak Pi © Kukuh Purwanto

Di balik sikap menjengkelkannya itu, Mak Pi adalah empu peracik kopi yang ulung. Wedang kopi bikinannya kental, dan ia hafal selera tiap pelanggannya, dengan catatan sang pelanggan telah memesan sekurang-kurangnya dua kali. Kejadian kopi si Fulan yang terlalu manis atau pahit berprobabilitas satu banding seratus enam ribu—yang sebaiknya Anda artikan dengan sesuatu yang amat, sangat jarang terjadi. Mengingat kesederhanaan proses pembuatan kopi kothok, yang berarti mengurangi peluang diferensiasi, kemampuan Mak Pi membuat citarasa kopi yang sesuai dengan selera per individu pantas dianggap sebagai sesuatu yang ajaib. Cita rasa kopi bikinannya juga tak berubah oleh emosinya yang labil. Kopi kothoknya tetap kental dan nikmat apa pun sumpah serapah yang ia semburkan ketika membuatnya.

Mak Pi adalah pengayom yang sempurna meski memelihara sosok Hitler di dadanya. Ia memperlakukan tiap pelanggan dengan cara yang sama, dan melindungi hak mereka untuk minum kopi dengan tentram. Bagi Mak Pi, hak untuk menyakiti hati pelanggan adalah mutlak miliknya, sehingga tak heran ketika serombongan Satpol PP menggeruduk kedainya untuk merazia bocah sekolah dan PNS bandel, yang kebetulan keduanya memang selalu ada di sana. Mak Pi malah mengusir satpol PP dengan makian lengkap dengan sapu lidi di tangan sambil berujar bahwa hanya presiden yang boleh merazia kedainya—saya menyaksikan sendiri kejadian ini ketika bolos pelajaran matematika.

Sayang sekali. Tak ada drama yang berakhir bahagia.

Mak Pi dan Mbah Seger telah amat sepuh sehingga memutuskan untuk gantung panci di waktu yang hampir bersamaan. Mbah Seger mewariskan kedainya pada sang anak, yang segera mengganti tungku arang dengan elpiji sehingga tak butuh dua bulan untuk membuat para pelanggannya lari. Mak Pi, setelah lelah berpuluh tahun direcoki pelanggannya, pindah ke Surabaya, ke rumah anaknya yang entah nomor berapa dari suami yang entah keberapa—menelusuri galur keluarga dari seorang wanita yang pernah menikah sembilan kali adalah sesuatu yang rumit.

Tutupnya dua kedai itu tak berpengaruh signifikan terhadap jumlah total kedai kopi di Cepu. Tetapi, kedai kopi memiliki komunitasnya sendiri, yang tak akan terganti oleh kedai lain. Semacam rumah dengan begitu banyak anggota keluarga. Maka, tak heran teman saya yang menghambakan diri di kedai Mak Pi sejak berseragam putih-biru berkabung sebulan penuh sejak penutupan kedai junjungannya. Ia merasa Cepu masih ada, tapi tak lagi bernyawa. Saya pikir ia benar.

Kukuh Purwanto

Tukang kaca


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • ecko

    Bener bro, tapi trakhir q mudik ning cepu jek iso ngrasakno kopine mbah seger (ning omahe putune)