Hidangan Timur Tengah di Yogyakarta

Saya dan suami menikah tidak terlalu lama setelah kami berkenalan. Tak banyak kesamaan yang kami miliki. Umur kami terpaut delapan tahun, memori masa kecil yang kami miliki jauh berbeda. Kami sama-sama menyukai film, namun selera genre kami berbeda. Pun begitu mengenai selera buku kami. Satu hal yang kami sepakati, kami sama-sama suka kambing.

Di keluarga saya, kambing adalah makanan yang wajib hadir dalam setiap perayaan. Hari raya, pernikahan, ataupun ulang tahun belum lengkap tanpa hidangan kambing. Berbeda lagi dengan keluarga suami saya, setidaknya seminggu sekali hidangan kambing hadir di meja makan. Maka, sejak kami menikah dan tinggal di Yogyakarta, kami rutin mengunjungi tempat-tempat makan yang menyediakan olahan kambing.

Selain hidangan sate dan tongseng yang banyak dijumpai di Yogyakarta, hidangan timur tengah juga menjadi kesukaan kami. Setidaknya ada dua rumah makan timur tengah yang rajin kami kunjungi, di Jalan Palagan dan Jalan Affandi. Sayangnya rumah makan di Jalan Affandi itu sudah berganti dengan rumah makan ayam geprek yang kini juga telah berganti entah dengan apa. Umumnya masakan-masakan yang ditawarkan tidak jauh berbeda; nasi kebuli, nasi briyani, atau kebab. Rasanya juga sudah dimodifikasi untuk menyesuaikan lidah orang Indonesia.

Lalu secara tak sengaja saya menemukan rumah makan timur tengah di bilangan Gejayan. Spanduk besar yang memampangkan menu hidangan kambing dengan nama-nama yang asing di muka toko menarik perhatian saya. Esoknya saya mengajak suami mengunjungi rumah makan tersebut. Jika tidak berhati-hati atau sengaja mencari rumah makan ini, mudah sekali kita melewatkannya. Bangunannya kecil saja, jauh dibanding percetakan yang terletak di sebelahnya. Setiap pengunjung memarkirkan kendaraan di halaman belakang rumah makan sehingga tidak nampak keramaian. Namanya: Umar Restaurant and Shisha Cafe.

Umar Restaurant and shisha cafe
Umar Restaurant and shisha cafe | © Sheila

Sederhana dan hangat adalah kesan pertama yang saya tangkap ketika memasuki Umar Restaurant and Shisha Cafe. Tidak ada dekorasi berlebih yang menarik anak-anak muda untuk berfoto, tidak ada pelayan dengan seragam-seragam rapi. Pengunjung disambut dengan ramah oleh pelayan. Namun, bisa jadi tidak ada yang menyambut, karena semua pelayan sedang sibuk menyiapkan hidangan di dapur atau melayani tamu lain.

Bagian dalam rumah makan dibagi dua, sisi barat untuk lesehan dan sisi timur untuk meja berkursi. Di setiap meja terdapat daftar menu. Tak usah takut dengan nama-nama asing di daftar menu, tanya saja pada pelayan, mereka akan bersenang hati menjelaskan tiap makanan di daftar menu.

Siang itu saya dan suami memesan menu hanith lamb dan mandi lamb. Keduanya olahan kambing, hanith lamb adalah kambing panggang sedangkan mandi lamb adalah kambing kukus. Hidangan dilengkapi dengan nasi, sambal, dan kuah kaldu kambing. Nasinya bukan nasi biasa, namun nasi yang berasal dari beras basmati. Beras basmati butirnya lebih panjang-panjang dibanding beras biasa, populer di kalangan masakan timur tengah. Sebagai penyegar, kami memesan minuman kashmiri pink tea. Setiap hidangan disiapkan oleh sang pemilik rumah makan, Umar yang berasal dari Pakistan.

Ketika hidangan datang, aroma rempah-rempah merebak menggoda air liur untuk menetes. Nasi berbumbu jintan dengan warna kuning dari kunyit dan ditaburi kismis sudah cukup sedap dimakan tanpa tambahan lauk. Dengan proses pengolahan yang tepat, tidak ada sedikitpun bau prengus daging kambing. Dagingnya sangat lembut, tidak perlu bersusah payah untuk memisahkan daging dari tulang. Bumbunya benar-benar meresap hingga ke inti. Ketika menyeruput kuahnya, kaldu kambingnya benar-benar terasa dan membuat segar. Sebagai penutup, tak lupa saya meneguk kashmiri pink tea. Tampilannya yang terlihat seperti susu stroberi cukup menipu, bukan rasa manis yang didapat tapi rasa kapulaga langsung memenuhi mulut. Kapulaga yang digunakan bukan kapulaga putih yang banyak didapat di pasar, namun kapulaga berwarna hijau yang sering dikenal sebagai kapulaga India. Warna merah muda pada teh didapat dari campuran teh, garam, dan susu. Campuran ini juga menghasilkan teh yang creamy.

Hanith Lamb dan kashmiri pink tea
Hanith Lamb dan kashmiri pink tea | © Sheila
Kashmiri pink tea
Kashmiri pink tea | © Sheila

Selain hanith lamb dan mandi lamb, terdapat juga hidangan dum pukht, yaitu sejenis sop. Untuk pengunjung yang kurang menyukai kambing, jangan khawatir, ada pilihan hanith chicken dan mandi chicken.

Semua menu ditawarkan dengan harga yang relatif murah, 15-28 ribu untuk menu kambing dan 18-20 ribu untuk menu ayam. Di menu, terdapat juga pilihan shawarma, hidangan yang mirip kebab. Sayangnya, menu tersebut belum tersedia saat ini karena menurut pemilik susah menemukan kulit yang pas untuk shawarma di Yogyakarta. Rumah makan ini memang belum lama buka, sejak 30 September 2016, jadi maklum saja bila masih banyak menu yang belum benar-benar tersedia. Bagi pengunjung yang tak ingin makan, dapat juga menikmati shisha dengan berbagai rasa yang ditawarkan.

Jika Anda juga ingin merasakan kenikmatan hidangan timur tengah otentik, Anda dapat mengunjungi Umar Restaurant and Shisha Cafe di Jl. Bougenville No. 1, Selokan Mataram. Tampaknya, saya dan suami menemukan tempat favorit terbaru, di mana kami dapat menikmati kesukaan kami bersama.

Sheila

Pengangguran paruh waktu.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Pandi Anggita

    Wah makanan buatan orang Pakistan nih …harus coba kalau balik ke Jogja!!^^