Hanyut dan Tenggelam di Roemah Coffee Loe Mien Toe

Gerbang depan Roemah Coffee Loe Mien Toe.
Lihat Galeri
7 Foto
Gerbang depan Roemah Coffee Loe Mien Toe.
Hanyut dan Tenggelam di Roemah Coffee Loe Mien Toe

Gerbang depan Roemah Coffee Loe Mien Toe. © Indah Ciptaning Widi

Suasana Roemah Coffee
Hanyut dan Tenggelam di Roemah Coffee Loe Mien Toe

Suasana Roemah Coffee © Indah Ciptaning Widi

Suasana Roemah Coffee
Hanyut dan Tenggelam di Roemah Coffee Loe Mien Toe

Suasana Roemah Coffee © Indah Ciptaning Widi

Suasana Roemah Coffee
Hanyut dan Tenggelam di Roemah Coffee Loe Mien Toe

Suasana Roemah Coffee © Indah Ciptaning Widi

Suasana tenang di tengah rumah dengan berbagai koleksi barang antik.
Hanyut dan Tenggelam di Roemah Coffee Loe Mien Toe

Suasana tenang di tengah rumah dengan berbagai koleksi barang antik. © Indah Ciptaning Widi

Lampion merah Roemah Coffee menambah syahdu suasana.
Hanyut dan Tenggelam di Roemah Coffee Loe Mien Toe

Lampion merah Roemah Coffee menambah syahdu suasana. © Indah Ciptaning Widi

Pintu gebyok di dalam rumah kopi sebagai transisi ruang.
Hanyut dan Tenggelam di Roemah Coffee Loe Mien Toe

Pintu gebyok di dalam rumah kopi sebagai transisi ruang. © Indah Ciptaning Widi

Pertama-tama saya harus berkata jujur kepada Anda sekalian, bahwa sejatinya saya bukanlah penikmat kopi. Tak lihai jika bicara tentang rasa asam-pahitnya secangkir kopi hitam macam gayo, mandailing, atau luwak yang harganya mahal. Bukan apa-apa, karena kepayahan saya ketika menikmati minuman ini perkara lambung yang kadar asamnya terlalu mengada-ngada. Jadi saya cukupkan untuk memesan teh tawar hangat atau jahe panas saja jika berkunjung di sebuah kedai atau warung kopi.

Hingga suatu pertanyaan muncul. Beraninya tulisan ini lahir dari seorang bukan penikmat kopi? Memang bukan suatu keberanian yang dimunculkan dari tulisan ini, melainkan adanya rasa tak tahan saja untuk tak pamer. Bagaimana cara orang sini menikmati kopi. Teruntuk orang-orang Malang khususnya.

Di Malang sendiri, budaya nyangkruk dan ngopi memang sangat kental dan tak lagi mengherankan. Bergumul dengan kumpulan manusia sembari melepas lelah, sembari menutup hari. Sore hingga malamnya kota Malang diisi oleh riuh warung-warung kopi yang mulai menggelar lapaknya di sudut-sudut kota. Emperan, warungan, ruko, kedai modern hingga teras rumah sekalipun menjadi tempat singgah dan melahirkan cerita berbeda. Tapi menikmati kopi tak melulu harus beradu kepala atau bertatap wajah dengan banyak orang. Sebab beberapa dari mereka para penikmat kopi sengaja menghabiskan waktunya dengan damai, meniadakan keramaian, dan akur dengan keadaan diri.

Begitu kiranya yang mampu tergambar dari sebuah rumah kopi yang hendak saya pamerkan ini, Roemah Coffee Loe Mien Toe. Loe Mien Toe yang dalam bahasa Jawa berarti berkelanjutan atau tak pernah putus. Tempat ini berada bukan di tengah kota, pinggir jalan ataupun ruko mentereng.

Saya perlu menerabas permukiman warga sampai mblasuk-mblasuk, hingga akhirnya menemukan tempat ini. ‘Surga tersembunyi’ kata beberapa teman sambil berbisik. Mereka meminta saya tak banyak bercerita kepada banyak orang tentang tempat ini. Karena biar ditelan sunyi dan sepi, agar ngopi terasa lebih hikmat, katanya lagi. Namun apalah, saya tak tahan dan menumpahkannya lewat tulisan ini.

Pertama kali menginjakkan kaki di pelatarannya, tempat ini tak sedikitpun nampak seperti warung atau kafe, melainkan seperti rumah tinggal dengan eksteriornya yang sedikit nyentrik. Depan bangunannya ditumbuhi pohon-pohon kamboja yang membuat saya mendadak feminim dan syahdu. Belum apa-apa saya sudah disambut oleh dua patung singa yang seolah-olah diutus si empunya untuk menerima tamu sekaligus menjaga pintu gebyok yang dihiasi oleh tirai dan lampion merah khas etnik Tionghoa. Terpampang pula papan bertuliskan Roemah Coffee Loe Mien Toe disertai huruf Mandarin yang entah artinya apa, bisa saja berbunyi Roemah Coffee, Loe Mien Toe atau malah assalamualaikum. Hmmm, tak tahu juga, saya hanya mencoba menerka artinya. Lalu saya melangkahkan kaki masuk sambil menundukkan kepala, sebab tinggi pintu gebyok ini terbilang cukup rendah.

Memasuki rumah kopi ini seakan saya sedang bertamu ke rumah seseorang, seorang kolektor barang antik tepatnya. Sejauh mata memandang, terpasang barang-barang antik di setiap sudut ruangan, di dinding, langit-langit, lantai tegel, hingga segala perabot di dalam ruangannya. Perabot seperti kursi dan mejanya pun ditata apik dan alami, juga tanpa polesan. Pernak-pernik yang terpajang juga begitu beragam, mulai dari koleksi lampu, lukisan, radio, lonceng, tumbukan padi cangkir dan gelas, teropong, dan banyak lagi. Menyebutkannya satu per satu akan membuat tulisan saya ini seperti lapak jualan barang online nantinya.

Dengan begitu banyaknya barang antik yang saya temui justru barang tersebut terkesan bukan sebagai dekorasi, melainkan benda-benda tersebutlah yang lebih dulu ada sebelum rumah kopi ini dibuka. Ternyata benar! Setelah beberapa kali menyambangi tempat ini, saya mulai main selidik, berbincang dengan pengelolanya, mendapat kudapan gratis saat ngobrol, bertukar nomor Whatsapp, pedekate lalu pacaran. Baiklah, yang terakhir itu saya bercanda. Karena pengelolanya adalah seorang perempuan cantik bernama Anita.

Mbak Anita, begitu saya biasa memanggilnya, adalah anak dari sang pemilik rumah. Ayah Mbak Anita ini, Pak Bowo Wasito ialah seorang Arsitek sekaligus kolektor barang antik sejak tahun 80-an. Koleksi-koleksi antik didapatkan Pak Bowo dari berbagai kota, daerah, hingga pelosok Indonesia. Walaupun ceritanya beliau seringkali plesir ke luar negeri, tapi ternyata pesona barang antik di Nusantara jauh lebih menggairahkan ‘jeh’ katanya, untuk dijadikan koleksi ketimbang membawa pulang barang dari negeri orang.

Sehingga gaya yang tercipta dari rumah kopi ini sangat kental dengan nuansa Jawa. Ah pantas saja! Yang saya masuki ini bukanlah macam kedai apalagi kafe modern kebanyakan, melainkan rumah pribadi seorang kolektor yang merelakan sebagian dari rumahnya dibuka untuk publik dengan kopi yang menjadi relasinya.

Sajian caffe latte berbentuk hati dan hot lemon siap untuk saya habiskan seorang diri.
Sajian caffe latte berbentuk hati dan hot lemon siap untuk saya habiskan seorang diri. © Indah Ciptaning Widi
Salah satu ruangan ngopi yang kental dengan suasana jawa.
Salah satu ruangan ngopi yang kental dengan suasana jawa. © Indah Ciptaning Widi

Bicara lagi soal kopi, namanya juga rumah kopi. Menu kopi yang disediakan di sini terbilang cukup variatif, seperti yang menjadi andalan yaitu kopi blend arabika dan robusta, kopi latte, kopi rempah dan cappucino. Atau yang bukan kopi sekalipun seperti greentea latte, frappe, milkshake, mojito atau yang biasa saya pesan, hot lemon tea yang sangat segar. Makanan beratnya juga ada seperti kwetiau seafood, nasi goreng dan nasi bebek. Seperti yang saya katakan sebelumnya, rumah kopi Loe Mien Toe yang telah berdiri hampir dua tahun ini menjanjikan seribu ketentraman dan ketenangan jiwa. Oh tentu ini bukan bualan. Selain dimanjakan dengan secangkir kopi nikmat, suasana jawa siap ‘ngayomi’ siapapun yang berkunjung ke sini. Anda pun akan dibuai dengan suara deru air mengalir dari anak Sungai Brantas yang tepat berada di belakang rumah kopi ini. Tak ada musik buatan manusia apalagi lagu macam top 100 charts Billboard.

Yang tersisa hanyalah sensasi syahdu. Bahkan saat musim hujan seperti ini Anda dijamin akan kewalahan saat membedakan yang mana suara hujan dan mana deru air sungai. Dan satu lagi! Jika Anda berencana datang kemari dan berniat ngopi dalam keadaan jomblo dan tak ada yang menemani, jangan khawatir. Karena di sudut ruangan, di atas meja kayu yang setengah lapuk itu telah disediakan toples besar berisi kacang sangrai yang bisa digaruk barang segenggam dua genggam bahkan lebih secara gratis. See!

Indah Ciptaning Widi

Menulis, melamun dan mencinta dalam sekali waktu.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405