Getuk Nyimut dan Kopi Muria Mbah Min

Getuk Nyimut dan Kopi Asli Muria
Getuk Nyimut dan Kopi Asli Muria | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Bertemu dengan warung getuk nyimut Mbah Min semakin melengkapi suasana sunyi dan sakral gunung Muria. Cocok bagi orang yang ingin plesir merasakan ketenangan dan lezatnya rasa getuk dan kopi yang benar-benar nyimut di mulut.

Suasana Gunung Muria yang sejuk dan sunyi membuat orang betah lama-lama di warung Mbah Min. Apalagi dengan hidangan tradisional yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Getuk nyimut dan kopi asli Muria.

Dua menu itu saling melengkapi satu sama lain. Rasa getuk nyimut yang empuk, dipadu dengan rasa kopi manis, semua adalah buatan tangan Mbah Min. Keduanya tidak pernah membohongi lidah yang merasakan.

“Semua asli buatan tangan. Nggak pakai mesin,” kata mbah Min.

Para pembeli sudah tahu, mana getuk yang dibuat secara tradisional, dan yang pakai mesin. Rasanya jauh berbeda. Getuk yang ditumbuk langsung dengan tangan rasanya lebih enak. “Kalau bahasa jawanya ora ampang mas.”

Mbah Min menggunakan alu terbuat dari kayu dan lumpang batu. Ketela pohon yang sudah direbus kemudian dihancurkan hingga lembut di lumpang. Setelahnya, getuk dibentuk bulat-bulat dan digoreng.

Sebenarnya getuk nyimut adalah getuk goreng biasa. Ada lima warung getuk goreng yang berada di Desa Kajar Kecamatan Colo Kabupaten Kudus. Hanya sekitar tiga kilometer dari puncak Muria, letak makam Sunan Muria.

Namun, nama getuk nyimut hanya milik Mbah Min. Nama itu berawal dari celetukan seorang pelanggan setianya. “Ada orang (keturunan) Cina (Tionghoa) sering datang ke sini. Waktu awal nyoba getuk goreng dia bilang nyimut tenan iki,” ceritanya.

Dari nama itulah kemudian getuk goreng Mbah Min semakin terkenal. Banyak orang datang ke Muria hanya untuk mencari getuk nyimut buatan Mbah Min. Banyak juga yang dari ziarah makam Sunan Muria kemudian mampir ke warung getuk nyimut Mbah Min. Tidak hanya dari Kudus saja, mulai dari Pati, Jepara, Demak, bahkan pernah ada rombongan dari daerah lain datang ke getuk nyimut itu.

Spanduk penanda Warung Getuk dan Kopi milik Mbah Min
Spanduk penanda Warung Getuk dan Kopi milik Mbah Min | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Mbah Min sendiri juga tidak pernah menyangka getuk nyimutnya laris manis. Setiap hari dia membuat sekitar 50 kilogram ketela pohon. Dia buka mulai pukul dua siang, dan magrib sudah habis. Itu pun masih banyak yang datang ke sana untuk membeli. Namun dengan terpaksa Mbah Min menolak.

Saya sendiri masih beruntung menjadi pelanggan terakhir Mbah Min. Hanya tersisa lima getuk nyimut untuk saya. Kelima getuk tersebut terpaksa harus saya bagi dengan dua teman saya. Lebih tepatnya lagi kunjungan kami itu adalah keberuntungan bagi kedua teman saya. Karena di kunjungan pertama, saya harus gigit jari. Tak apalah, saya bagi untuk kedua teman yang jauh-jauh dari Banyuwangi dan Magetan.

Getuk nyimut itu semakin lengkap dengan sajian kopi khas Muria. Kopi asli kebun Muria yang diramu sendiri oleh Mbah Min. Habib, teman dari Banyuwangi, dan Yuda dari Magetan juga memesan kopi yang sama.

Habib dan Yuda terlihat puas bisa merasakan pasangan sajian getuk nyimut dan kopi legendaris milik Mbah Min. Apalagi ditambah bisa mengobrol banyak dengan Mbah Min sendiri.

Mbah Min bercerita, dia memulai buka getuk nyimutnya lima tahun lalu. Warungnya adalah warung kedua yang didirikan di Desa Kajar. Warung pertama milik tetangganya, jauh lebih lama lagi, sekitar 2003. “Itu disana, jarak satu gang,” kata Mbah Min sambil menunjuk sebuah arah dengan tangannya.

Dari tangan Mbah Min, warung getuk goreng di Desa Kajar mulai dikenal luas. Sehingga tidak lama setelah warung Mbah Min buka, beberapa warung lain juga ikut buka. Hanya saja, tidak selaris milik Mbah Min. Saya sendiri melihat sekitar sepuluh menit saja sudah ada lima rombongan datang. Di sela-sela obrolan kami, Mbah Min terpaksa menolak para calon pembeli getuk nyimutnya itu.

“Mau gimana lagi mas. Lha wong sudah habis. Kadang-kadang mereka itu ada yang ke warung lain. Ada juga yang kembali nggak jadi beli,” katanya.

Bukti lain yang menunjukkan populernya warung Mbah Min adalah berbagai stiker yang tertempel di dinding warung. Puluhan stiker dari berbagai organisasi pemuda, dari kumpulan remaja, dari lembaga pendidikan, memenuhi hampir di salah satu dinding berukuran sekitar 2 x 1,5 meter. Di dinding itu pula ditempel berbagai info kegiatan. “Katanya buat bukti kalau pernah kesini. Ya saya biarkan ditempel di sana,” ujar Mbah Min.

Dinding khusus tempat Stiker di warung Mbah Min
Dinding khusus tempat Stiker di warung Mbah Min | © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Anehnya, Mbah Min tidak pernah mau menambah jumlah produksinya. Cukup dengan 50 kilogram ketela saja. Alasannya, Mbah Min sudah tidak mampu membuat lebih banyak lagi.

“Pagi sudah harus beli ketela di kebun. Terus ngolah, dideplok pakai alu. Itu saja kalau anak tidak bantu, tidak kuat mas,” katanya.

Saya masih penasaran. Kenapa Mbah Min tidak mempekerjakan orang? Karena melihat begitu banyaknya jumlah pelanggan. Masih banyak peluang yang sebenarnya dimiliki Mbah Min untuk menambah keuntungan. “Kalau 2 kwintal saja juga habis. Nggak mas 50 kilo saja. Semakin cepat habis kan semakin cepat bisa istirahat,” kelakarnya.

Mungkin saja, Mbah Min masih memberikan kesempatan bagi warung-warung lain agar juga laku. Itu terlihat dari kebiasaan Mbah Min yang masih membuka warungnya hingga pukul 11 malam. Dia juga mempersilahkan pelanggannya untuk membeli getuk goreng di tempat lain, kemudian dimakan di tempatnya.

“Di sini sampai malam, sampai jam 11 biasanya. Yang biasa ngopi di sini juga ngopi sampai malam. Tapi jangan malam Jum’at. Saya libur,” kata Mbah Min.

Baru kali ini saya menemukan seorang yang sama sekali tidak tergiur dengan banyaknya keuntungan. Malah sebaliknya, Mbah Min sepertinya ingin agar orang-orang di sekitarnya juga mendapatkan keuntungan yang sama dengannya. Atau bahkan malah banyak yang melebihi dirinya.

Bagi kedua teman saya yang jauh-jauh datang ke sini juga merasa puas. Mereka berdua merasa beruntung mendapat kesempatan yang langka ini. “Kalau ke rumahmu lagi, kesini lagi cuy,” kata Habib yang juga diamini Yuda.

Dian Teguh Wahyu Hidayat

Masih jadi jurnalis, dan seorang wiraswasta yang ingin mengeksplor tempat kelahirannya, Demak, Jawa Tengah.