Getar Jiwa Sang Musisi pada Cermin Ketujuh

God Bless
God Bless Booth | © Fadly

Sekitar jam delapan malam, pelataran God Bless Cafe 2 yang terletak di daerah Blimbing, Malang, tampak penuh dengan kendaraan roda dua dan empat yang parkir. Hujan yang turun sedari sore nyaris berhenti. Hanya menyisakan rintikan kecil air hujan dari langit. Tanah di bumi masih basah menyisakan genangan. Langit tampak gelap diselimuti awan mendung. Tanpa bintang. Suhu dingin mulai menusuk tubuh.

Di bagian dalam kafe, suasananya terasa lebih hangat. Beragam jenis manusia lalu-lalang dan asyik bercengkerama. Mulai dari bapak-bapak tua berusia lebih dari setengah abad hingga remaja belasan tahun ada di situ. Saling menyapa, bercanda, dan berbincang. Sebagian besar lainnya malah saling kenal satu sama lain. Saling menegur dan menanyakan kabar. Seperti reuni saja.

Minggu malam, 29 Januari 2017, adalah momen promo album Cermin 7 sekaligus ajang meet & greet dengan personel God Bless. Selaku band rock dengan riwayat karir paling panjang di negeri ini, tentu saja tidak perlu diceritakan lagi siapa itu God Bless. Terlalu panjang cerita dan rekam jejaknya. Lagi pula, hampir semuanya sudah terekam dalam berbagai kliping sejarah musik Indonesia. Dan cerita itu masih akan terus berlanjut…

Memasuki sisi ruangan bagian depan, sederet meja kayu panjang berubah menjadi lapak dadakan. Terlihat sejumlah booth sederhana yang memajang aneka rekaman musik –mulai dari kaset sampai CD. Di salah satu sudut, terdapat stan khusus yang menjual CD, kaus dan merchandise God Bless. Komplet dengan photobooth berlatar para personel God Bless di sampingnya.

God Bless
God Bless Booth | © Samack
God Bless
God Bless Cermin 7 | © OOXSinergi

Dari atas panggung kecil God Bless Cafe, salah satu band lokal Malang sedang beraksi menyanyikan repertoir lagu-lagu rock mancanegara. Mereka juga mengkover “Musisi”-nya God Bless, lagu fenomenal yang kerap terdengar di setiap ajang festival musik sejak era 80-an.

“Dalam musik kutuangkan jerit sanubari
Ooh, luapkan kalbu
Semua kata hati tertuangkan dalam lirik
Ooh, alunan kisah
Dengarlah, ketuk nada dalam birama
Inilah, getar jiwa bagi musisi…”

* * *

Jarum jam sudah mendekati angka sembilan ketika Achmad Albar, Ian Antono dan Donny Fattah datang dan berjalan memasuki kafe. Ketiga personel God Bless itu tampak santai berjalan masuk sembari mengumbar senyum. Sesekali juga berhenti untuk sekedar menyapa kawan lama mereka atau dicegat para fans yang ingin berfoto bersama. Semua mereka layani dengan tenang dan ramah.

Malam itu, Achmad Albar (70 tahun) masih tampak gagah memakai kaos Guns N’ Roses berdesain vintage. Sementara Donny Fattah (67 tahun) yang memakai kaos berlogo God Bless dengan desain album Cermin 7 berjalan tenang bersama Ian Antono (66 tahun) yang juga memakai kaos yang sama. Ketiga musisi itu datang ditemani Denny MR, salah seorang jurnalis musik kenamaan di negeri ini.

Tidak lama kemudian, ketiga personel God Bless tersebut diarahkan ke area panggung. Acara meet & greet dalam rangka promo album Cermin 7 pun dimulai. Dipandu oleh Ega (Radio MFM) selaku MC, mereka bertiga mulai bercerita soal proses produksi album terbaru, inspirasi dalam menulis musik dan lirik, hingga kondisi terakhir yang terjadi di tubuh band.

“Itu sebenarnya berawal desakan dari teman-teman musisi sih. Sama usulan dari para penggemar juga…” jawab Ian Antono ketika ditanya apa yang mendasari God Bless untuk merekam ulang album Cermin. “Akhirnya ya kita rekam lagi dengan nuansa baru. Proses produksinya sendiri memakan waktu sekitar enam bulan…”

Dari kutipan rilisan pers yang beredar, keputusan untuk merilis kembali album Cermin memang sudah cukup lama direncanakan. Menurut para personel God Bless, Cermin dianggap menyimpan sejumlah karya kuat yang masih menantang kreativitas untuk digarap ulang. “Banyak lagu bagus yang pada waktu penggarapannya dulu masih menggunakan perangkat teknologi yang sederhana,” jelas Ian Antono.

Sekedar catatan, Cermin merupakan album kedua God Bless yang dirilis tahun 1980. Album itu cukup fenomenal, bahkan bisa dibilang salah satu karya terbaik Ahmad Albar dkk –selain album perdana God Bless (Pramaqua, 1976) dan Semut Hitam (Logiss, 1988). Cermin selalu dianggap memuat nomor-nomor klasik dengan visi dan idealisme kuat, serta kadar musikalitas dan tingkat kesulitan yang tinggi.

Lagu-lagu seperti “Musisi” atau “Anak Adam” itu dulu selalu jadi patokan di setiap festival band. Kalau ada band yang bisa mengkover lagu itu dengan baik, berarti skill bermusiknya cukup mumpuni, begitu selentingan yang sering terdengar di telinga. Dua lagu hits lainnya, “Balada Sejuta Wajah” dan “Selamat Pagi Indonesia”, juga sudah sangat dihafal oleh setiap penggemar God Bless yang taat.

Jika berbincang soal album Cermin dengan para kolektor musik atau pedagang kaset/CD, kita bakal menemukan fakta yang lebih seru lagi. Menurut mereka, versi rekaman awal Cermin (dalam format kaset) adalah salah satu album Indonesia yang cukup langka dan masih diburu oleh para kolektor. Otomatis kalau ada pun, harganya pasti mahal. Bahkan, tempo hari sempat muncul versi bajakannya –yang menjadi kontroversi di antara kolektor dan pedagang rekaman musik yang biasa bermukim dalam tagar #jajanrock.

“Setelah teman-teman beres rekaman, saya dikontak Ian Antono. Giliran saya yang take, katanya,” tutur Donny Fattah menceritakan proses rekamannya di studio. “Saya take bass itu cuma sehari saja. Langsung kelar semua dua belas lagu. Gak tahu ya, mood saya pas lagi bagus hari itu,” imbuhnya sambil tertawa.

“Pas rekaman ulang, kami tidak berniat mengubah musik dasar yang sudah ada di album Cermin,” kata Ian Antono. “Tapi sebagian memang perlu disesuaikan dengan zaman. Terutama dalam hal sound atau produksinya. Seperti misalnya ada lagu yang durasinya 12 menit lalu kami jadikan 8 menit…”

“Kemarin kami mencoba banyak teknologi baru. Sama eksplor sound yang lebih modern…” tambah Ahmad Albar seraya menyatakan bahwa kehadiran drummer baru Fajar Satritama (eks Edane) turut mendorong musik God Bless menjadi lebih segar dan bertenaga.

God Bless
God Bless Sesi Legalisir CD | © OOX
God Bless
God Bless Fans Legalisir CD | © OOX

Album Cermin 7 dikemas dalam format double-disc yang eksklusif dan mulai dirilis resmi ke pasaran sejak tanggal 27 Januari 2017 yang lalu. Selain merekam ulang lagu-lagu lawas, materi Cermin 7 juga berisi tiga tembang terbaru God Bless yang belum pernah dirilis sebelumnya.

“Lagu itu intinya soal perdamaian. Tentang kondisi bangsa yang suka gontok-gontokan,” ujar Ian Antono tentang lagu “Damai” yang dijadikan single perdana album Cermin 7. Setiap baitnya memang sangat relevan dengan kondisi negeri akhir-akhir ini. “Musik dasarnya saya yang bikin. Untuk liriknya saya minta bantuan teman saya, Teguh Esha. Ia adalah penulis novel terkenal, Ali Topan Anak Jalanan…”

Ketika disuruh memaparkan kisah di balik lagu ciptaannya yang berjudul “Kukuh”, Donny Fattah hanya perlu mengutip rangkaian baitnya sambil mengepalkan tangan dengan penuh semangat, “Seribu badai silih menghempas / Seribu luka perih membekas / Kutetap berdiri / Ada di sini…”

Sudah jelas, tembang tersebut berbicara soal perjuangan dan daya tahan (mereka) dalam mengarungi kehidupan. Semangat membara seperti itu memang kerap ditunjukkan oleh sosok Donny Fattah. Seperti yang pernah tergambarkan melalui buku biografinya 40 Tahun Dalam Godbless, Bersama Godbless, Untuk Godbless (Unifikata, 2013), yang ditulis oleh Asriat Ginting.

Satu lagu anyar God Bless lainnya adalah “Bukan Mimpi Bukan Ilusi” yang musiknya diciptakan oleh Ian Antono dan liriknya dikerjakan Teguh Esha. Dengan raut wajah serius dan kalimat filosofis, Ian Antono menuturkan, “Lagu Itu saya bikin pas lagi mikir mau ngapain sih saya main musik selama 43 tahun ini? Apa lagi yang mau saya cari? Itu mungkin pertanyaan besar bagi sebagian musisi yang sudah mengalami karir musik yang panjang…”

“Memang sih industri musik dan penjualan CD agak lesu belakangan ini. Tapi ya kita jangan menyerah…” kata Ahmad Albar ketika ditanya ‘kenekatan’ God Bless untuk tetap merilis album fisik di era digital saat ini. Konon, Cermin 7 memang mereka garap dengan semangat ke-seniman-an yang terus menyala. “Kami tidak memusingkan hasil penjualannya. Yang penting tetap berkarya. Dari dulu sampai sekarang God Bless adalah band panggung, bukan band rekaman…”

God Bless
God Bless Meet and Greet | © Samack

Tahun ini, God Bless sudah mencapai usia 43 tahun. Band ini sudah merilis tujuh album studio dan pengalaman manggung yang tidak terhitung lagi. Itu masih di luar proyek musikal para personelnya masing-masing –yang bersolo karir atau sering membantu sesi rekaman musisi lain. Mereka masih tegak berdiri dan terus berkarya. Sepertinya enggan untuk berhenti.

“Saling menghargai. Masing-masing punya ide, semuanya bisa lepas di God Bless. Saling menghormati…” tutur Ian Antono dalam sebuah artikel di Rolling Stone Indonesia tentang resep mereka bisa panjang umur dan tetap bertahan sampai sekarang. “Kami itu adalah partner dalam bekerja sebagai musisi. Cuma hubungan keluarga rapat. Satu hal yang bikin awet adalah kami itu udah kayak keluarga, bukan band lagi. Tali ikatannya di situ. Kalau mau ngapa-ngapain kami mikir juga. Sudah 43 tahun yang mesti dijaga adalah kebersamaan.”

Donny Fattah juga menambahkan, “Sebuah keajaiban, karena kami sendiri nggak pernah menyangka atau bermimpi akan dapat bertahan sekian lama. Kalau secara duniawinya sih, rahasianya sederhana, saling menghormati satu sama lain. Saya, Ahmad dan Ian itu dunianya sama. Kami sama-sama mencintai musik.”

* * *

“Dari dulu kami selalu suka kalau ke Malang. Sudah seperti rumah sendiri, ya kan ‘Yan?!…” ujar Ahmad Albar sambil melirik Ian Antono dan tersenyum. Tentu saja tidak perlu ditanyakan kalau Ian Antono yang notabene Arek Malang asli. Ia merupakan mantan personel Abadi Soesman Band dan Bentoel Band –sebelum kemudian hijrah ke ibu kota dan bergabung dengan God Bless di awal ’70-an.

Malam itu jadi semakin menarik karena Ian Antono dkk seperti ditakdirkan ‘pulang’ ke God Bless Cafe. Tempat itu spesial karena konon didirikan oleh dua orang penggemar berat musik rock asal Malang –Rudi Mbelur dan Eko Purnomo– sebagai bentuk apresiasi serta penghormatan atas eksistensi God Bless selama ini. Kebetulan, ketiga personel – Ahmad Albar, Donny Fattah, dan Ian Antono –pernah datang dan ikut meresmikan God Bless Cafe pada tanggal 11 November 2015 lalu.

God Bless
God Bless Poster | © Samack

Wajar jika di dinding kafe itu ada banyak sekali memorabilia yang berkaitan dengan karier musik God Bless. Mulai dari foto-foto manggung, ilustrasi kartun wajah para personel, sampai kliping pemberitaan God Bless dari berbagai media. Logo kafe ini pun bergambar semut hitam yang komikal –dan kita sudah tahu dari mana inspirasi gambar itu muncul.

Saat ini, ada dua cabang God Bless Cafe yang terus beroperasi dan sering jadi venue untuk beragam pertunjukan. Mulai dari sesi diskusi, video screening, showcase, konser musik, sampai gigs punk/hardcore yang paling liar sekalipun pernah dihelat di tempat ini. Tak ayal, peran God Bless Cafe cukup penting dalam memantik kreativitas anak muda, sekaligus menjaga frekuensi musik rock supaya tetap lantang di kota Malang.

* * *

“Wah, kudunya ini cuma meet & greet aja. Bingung nih mau nyanyi apa?” kata Ahmad Albar kikuk ketika disodori mikrofon dan ditodong untuk menyanyi malam itu. Ian Antono juga tampak tidak siap saat sebuah gitar akustik tiba-tiba sudah berada di pangkuannya. Tapi mau tidak mau, terpaksa ia genggam dan mulai di-stem juga.

“Oke, tapi ikut nyanyi semua yah?” kata Ahmad Albar kemudian. Sontak disambut teriakan antusias dari penonton.

Intro “Balada Sejuta Wajah” langsung mengalun lembut dari petikan jemari Ian Antono. Sekitar 25 detik kemudian disambut oleh vokal Ahmad Albar pada bait pertama. Donny Fattah hanya duduk tenang sembari berperan serius sebagai backing vocal.

Penonton ikut menyanyi, atau tepatnya bergumam pada tembang yang syahdu ini.

God Bless
God Bless Liveset | © Samack
God Bless
God Bless Liveset | © Samack

Baru pada dua lagu selanjutnya, “Syair Kehidupan” dan “Panggung Sandiwara”, tugas Ahmad Albar lebih ringan. Hampir semua penonton ikut bernyanyi lantang. Sang vokalis yang pernah berambut kribo itu cukup berdiri sambil menyodorkan mikrofon ke arah penonton.

Pada lagu terakhir, seorang vokalis band lokal Malang diajak ikut naik ke atas panggung dan diberi tugas mengambil alih mikrofon Ahmad Albar. Malam itu, “Rumah Kita” memang paling pas dijadikan sebagai nomor pamungkas. Orang-orang yang pernah tumbuh dan besar bersama God Bless tentu kenal lagi itu dan pasti ikut bernyanyi.

Wajah-wajah manusia malam itu tampak puas dan bahagia. Menyungging senyum lebar yang memang pantas dibawa pulang ke rumah.

“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya, ada di sini
Rumah kita…”

Samack

Penulis lepas yang suka ngopi, membaca buku dan mendengarkan musik. Tinggal di Malang.