Gendar dan Perihal Selera Rasa

Gendar dan Sambal Kacang
Gendar dan Sambal Kacang | © Ardhi Setiawan

Ketika hujan turun dengan derasnya, salah satu kesenangan yang paripurna adalah bermalas-malasan di dalam ruangan sambil menyantap gendar dicocol sambal kacang. Tak boleh lupa di temani segelas kopi hitam atau teh hangat.

Gendar adalah nasi yang diuleni bersama bleng dan sedikit garam. Cemilan ini hadir di rumah oleh sebab ibu saya tidak ingin membuang nasi sisa kemarin malam. Tidak boleh dikonsumsi terlalu banyak, karena bleng sendiri adalah boraks yang tidak baik bagi tubuh. Tapi seperti semua hal, baik dan buruk adalah perihal batasan.

Gendar dapat dibuat tanpa bleng, asal lebih telaten saat menguleninya dan diberi sedikit garam sebagai perasa. Ebi atau pun ikan teri juga lezat jika dijadikan campuran pembuatan gendar. Di daerah saya di Wonogiri, gendar disebut dengan puli. Imut bukan?

Saya punya cara khusus untuk menikmati gendar. Dengan mengirisnya lebih tebal daripada saat membuat kerupuk gendar, saya menggorengnya sebentar di minyak panas. Lebih kurang selama empat menit, jangan lupa dibolak-balik. Efek yang terjadi adalah luaran yang krispi dengan efek empuk di dalamnya. Tak lupa cocolan sambal kacang pedas yang membuat kenikmatan ini menjadi paripurna.

Sajian gendar atau puli goreng ini jarang sekali ditemukan di warung-warung. Acapkali bentuknya sudah berupa krupuk yang dijual di dalam bungkusan plastik. Di kota saya, Wonogiri, menemukan penjual pecel gendar lumayan sulit. Saya hanya menjumpai satu tempat, yaitu di pintu selatan Pasar Wonogiri. Hal ini lantaran masyarakat sudah semakin tahu tentang bahaya penggunaan bleng atau boraks yang digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan gendar. Padahal gendar sendiri dapat dibuat tanpa menggunakan boraks, rasanya yang berbeda sedikit dapat disiati dengan penggunaan garam maupun ebi sebagai campuran.

Seperti yang saya kemukakan di atas, baik dan buruk adalah perihal batasan. Mengonsumsi gendar dalam jumlah banyak juga tidak baik, sama buruknya dengan mengonsumsi cemilan atau pun junkfood, apalagi yang berasal dari restoran cepat saji luar negeri.

Sajian gendar boleh bersua pecel, boleh dicampur ebi, tapi selamanya tidak akan cocok dipaksakan dengan keju lumer atau mayones yang menjadi citra masakan kekinian. Boleh jadi gendar dicocol sambal kacang akan selalu menjadi sajian kuliner ndesa. Tapi bagi saya, menyantap gendar dari sisa kemarin sore dengan dicocol sambal kacang yang seluruh bahan bakunya berasal dari petani sendiri di kala hujan berteman seduhan biji kopi hasil panen petani kopi nusantara adalah cara menikmati kesejukan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Ardhi Setiawan

Pembelajar di persimpangan jalan.