From 9 to Eight Coffee

Eight Coffee
Eight Coffee © Anggara Gita

“Eh, ndes, nek aku numpak bus seko Tanah Abang-Bekasi, mudun’e endi?”

“Mau ke mana?”

“Jatibening”

“Mudun pintu tol Jatibening ae”

Notifikasi WhatsApp (WA) cukup mengganggu sore itu. Damiana Nitya, salah seorang teman SMA, melempar pertanyaan ke grup WA, dan kemudian sahut-menyahut chat tidak berhenti hingga tengah malam.

Saat itu, Tea, begitu ia biasa disapa, sedang dalam perjalanan menuju rumah kakaknya di Bekasi. Dia bersama sang ibu, berangkat dari Yogyakarta menggunakan kereta api dengan tujuan stasiun Tanah Abang, Jakarta. Dari sana mereka naik bus tujuan Bekasi.

Ini kali pertama Tea menginjakkan kaki di Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan ibunya sudah pernah ke Jakarta, tetapi dulu sekali. “Jakarta sudah banyak berubah, tante sudah lupa,” cerita ibunya kepadaku.

Kedatangannya ke Jakarta, membuat teman-teman SMA yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya berebut mengajaknya reuni, begitu juga dengan saya. Apalagi setelah mengetahui bahwa rumah kakaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal.

Oh, ya, saya dan Tea adalah teman sekelas sewaktu bersekolah di SMA Sedes Sapientiae, Bedono, Ambarawa. Setelah lulus, Tea melanjutkan studi di UGM, Yogyakarta, sedangkan saya di Atma Jaya, Jakarta. Sejak saat itu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi.

Akhirnya, Jumat itu, setelah pulang bekerja, saya segera menemui Tea. Setiba di rumah kakaknya, pamitan sebentar, lalu kami langsung pergi mencari makan malam. Saya memang berjanji mentraktir dia, dengan embel-embel, jika suatu saat saya ke Yogyakarta, dia harus mentraktir saya. Hehe.

Setelah hampir 20 menit berkeliling mencari tempat makan, akhirnya kami memutuskan untuk bereuni ria di sebuah kedai kopi, bernama Eight Coffee. Saat itu sudah pukul 10 malam, rumah makan banyak yang tutup, dan jujur saja saya sudah malas untuk mencari tempat yang lebih jauh lagi. Lucunya, lokasi Eight Coffee hanya beberapa blok saja dari rumah kakaknya Tea.

Eight Coffee, terletak di dalam perumahan Taman Galaxy. Tidak hanya lokasinya yang berada di dalam perumahan, bentuk kedainya pun seperti rumah-rumah lainnya. Sebenarnya di dekat situ terdapat ruko-ruko yang biasa digunakan untuk berjualan, tetapi Eight Coffee malah menggunakan rumah biasa untuk dijadikan kedai.

Selain tampilan luarnya, tata letak tempat duduk dan ruangan di Eight Coffee pun disusun seperti ruangan rumah pada umumnya. Bagi saya, Eight Coffee adalah rumah yang dijadikan kedai kopi bersama. Ada teras, ada ruang tamu, dan ada ruang keluarga. Selain itu, Eight Coffee juga menyediakan satu ruangan khusus yang dapat digunakan untuk meeting. Namun ruangan tersebut dapat digunakan juga untuk pengunjung biasa, jika tempat duduk lainnya sudah full.

Selain muda-mudi, saya melihat ada beberapa orangtua yang datang membawa anaknya ke sini. Mungkin karena Eight Coffee juga menyajikan teh, chocolate, dan juice, sebagai alternatif bagi pengunjung, terutama anak-anak, yang belum menyukai kopi. Nama Eight Coffee sendiri dipilih karena bentuk angka delapan yang menyerupai sirkuit. Salah seorang pelayan kedai bercerita bahwa bosnya adalah penggemar olahraga balapan.

Kopi tubruk jadi pilihan saya saat itu, dan Tea memesan teh chamomile.

“Orang Yogya jarang ada yang ngopi. Lagian aku dipanggil Tea, karena Ibuku penggemar teh,” jelas Nitya kepadaku.

Tidak terasa dua jam sudah kami bercerita panjang lebar mengenai kehidupan. Eight Coffee menjadi saksi sejarah bertemunya dua sahabat yang terpisahkan oleh jarak selama sembilan tahun. Tentu saja masih banyak cerita yang belum kami luapkan saat itu, namun waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Kedai sudah harus ditutup.

Kopi Gula Aren
Kopi Gula Aren © Anggara Gita

Saya mengantarkan Tea kembali ke rumah dengan perasaan waswas, karena pulang terlalu larut. Selama perjalanan, saya sudah menyiapkan seribu satu alasan jika nanti ditanya-tanya oleh keluarganya.

Namun kopi berkata lain. Setiba di rumah kakaknya, saya malah disuguhi Kopi Gula Aren. Walau sudah lewat tengah malam, ternyata rumah kakaknya masih ramai oleh gelak tawa dan canda. Saya dipersilakan mampir sejenak dan menyesap kopi oleh-oleh dari salah seorang sepupu Tea yang baru saja pulang dari Desa Kasepuhan, Sukabumi.

Aku menyesap kopi, maka reuni ada.

Anggara Gita Arwandata

Perakit balon di @nf.nellafantasia dan perajut kata di @kedaikataid.