Fine-Dining di Kunstkring Menteng, Membuat Darah Inlander Menggelegak

Berjalan kaki menyusuri Menteng pukul sembilan pagi. Sunyi di hari Minggu. Bersih dan rimbun pohon besar. Decak kagum bercampur fantasi ngeri, ketika melewati rumah-rumah kuno model kolonial. Terutama waktu melewati jalan pendek dengan plang yang dulu terdengar sakti: Jl. Cendana.

Sulit dibayangkan bahwa pada tahun 1890, Menteng adalah daerah seluas 73 hektar yang dihuni 3562 petani padi dan kebun kelapa. Tahun 1910, perusahaan real estate N. V. De Bouwploeg di bawah pimpinan Pieter Adriaan Jacobus Moojen.

P. A. J Moojen, seorang arsitek dan pelukis lulusan Antwerp (Belgia), membangun daerah Menteng untuk perumahan orang-orang Belanda dan para pejabat tinggi dengan konsep garden city. Dia merupakan arsitek pelopor Modernism New Indies Style yang mengadaptasikan gaya klasik Eropa dengan iklim lokal.

Daerah Menteng dan Gondangdia dirancang menjadi perumahan strategis di tengah pusat denyut Batavia: Tanah Abang (di Barat) – Jatinegara (di Timur) – Kebon Sirih (di Utara) – selatan Jakarta yang dipisahkan kanal banjir.

Sebagai landmark di depan Menteng Residential Area, dibangunlah Fine Arts Circle of the Dutch East Indies (Nederlandsch-Indishce Kunstkring of the Dutch East Indies) pada tahun 1914. Lantai dua dijadikan pusat pameran seni, sedangkan lantai dasarnya disewakan secara komersil sebagai sumber penghasilan rutin. Pada masa kejayaannya, galeri Kunstkring pernah memamerkan karya-karya pelukis legendaris Vincent van Gogh dan Pablo Picasso.

Di akhir kekusaan pemerintah Belanda, pada tahun 1942-1945 bangunan itu dijadikan kantor pusat Majelis Islam A’la Indonesia. Lalu menjadi Kantor Imigrasi Jakarta Pusat pada tahun 1950-1997.

Nasib mengantarkan gedung itu dibeli Tommy Soeharto hanya setahun sebelum Dinasti Cendana runtuh. Akibatnya, bertahun-tahun Kunstkring ditelantarkan dan dirampok habis-habisan. Kaca, kusen, dan meja kursi asli bermunculan di black market. Baru pada tahun 2003, di bawah petunjuk gubernur Sutiyoso, Kunstkring dipugar dan dibangkitkan dari kubur.

Tahun 2008, Kunstkring hampir dijadikan bar mewah. Hal ini memicu protes keras bahkan dari Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia). Tapi bukan karena tempat itu akan menjual minuman keras. Bukan juga karena sejarah gedung itu. Melainkan karena nama bar tersebut: Buddha Bar. Padahal itu merupakan nama merk franchise internasional.

Mereka lalu mendesain ulang. April 2013, gedung itu dibuka kembali menjadi Tugu Kunstkring Paleis. Sebuah restoran dengan konsep fine dining, di bawah sayap grup hotel Tugu.

Kunstkring di pagi hari
Kunstkring di pagi hari | © Fransisca Agustin
Pintu masuk Kunstkring di malam hari
Pintu masuk Kunstkring di malam hari | © Fransisca Agustin

Di pagi hari ketika restoran belum buka, tempat ini menenteramkan. Di malam hari? Menjelma potongan cerita dalam novel kolonial. Bentuk luarnya sangat terasa jaman Belanda. Namun interiornya? Bergaya Old Shanghai (bekas konsep Buddha Bar). Khas campuran gaya Tiongkok kuno dan pop, yang dikawinkan dengan gaya Eropa awal abad ke-20.

Ruangan Diponegoro di tengah resto luas seperti hall dansa. Lukisan penangkapan Diponegoro sebesar 9 x 4 meter nampak di belakang. Meja kursi dan alat makan disusun seperti makan malam di istana. Jangan harap mendapat tempat di akhir pekan kalau Anda belum reservasi. Penuh. Kebanyakan orang asing.

Para pelayannya mengenakan pakaian Betawi: baju ujung serong putih untuk lelaki dan kebaya putih untuk perempuan. Lampunya sungguh temaram. Perlu kejelian ekstra untuk membaca buku menu. Dan perlu keberanian ekstra untuk melihat daftar harganya.

Ruang Diponegoro, dengan lukisan penangkapan Diponegoro di belakang
Ruang Diponegoro, dengan lukisan penangkapan Diponegoro di belakang. | © Fransisca Agustin

Anda pernah mengunjungi suatu restoran dan mendadak ingin menyelinap kabur setelah melihat daftar menunya? Belum? Ya, saya juga belum pernah. Ini yang pertama kali. Sebagai bayangan, satu piring makanan rakyat seperti lodeh, karedok, dan oseng genjer, dibandrol 68.000. Begitu pula dengan colenak dan es campur.

Menu makanan Eropanya? Pasta ravioli 198.000, fillet ikan kakap panggang 228.000, steak kambing 348.000, rib eye steak 398.000, lobster 588.000. Itu semua harga sebelum pajak. Kami memesan dengan siasat: seunik mungkin, sesedikit mungkin, untuk hasil sekenyang mungkin.

Pilih jatuh pada makanan Indonesia. Rendang pakis (78.000), tumis daun pepaya dan ikan tuna cakalang (68.000), serta ikan panggang daun pakis (108.000). Bitterballen 58.000 yang kami pesan, datang paling awal. Isi 3 buah. Darah inlander saya tiba-tiba menggelegak.

Rasa masakan cukup enak. Tapi tidak sampai nikmat bukan kepalang. Jus strawberry yang besar tapi terlalu encer buat darah Bandung, dibandrol 38.000. Hot cappucino (40.000) cukup wangi dan tidak terlalu pahit.

Hidangan penutup Banana Flambe Split (78.000) cukup unik, dengan es krim pistachio gurih (rasanya semacam es puter) dan kualitas pisang yang baik. Makanan ditata bagai karya masterchef: indah dipandang, namun jauh dari mengenyangkan.

Rendang pakis (kiri), ikan panggang (atas), dan tumis daun pepaya ikan tuna cakalang (bawah)
Rendang pakis (kiri), ikan panggang (atas), dan tumis daun pepaya ikan tuna cakalang (bawah). | © Fransisca Agustin
Bitterballen
Bitterballen | © Fransisca Agustin
Banana Flambe Split
Banana Flambe Split | © Fransisca Agustin

Lampu yang sangat temaram membuat tidak banyak orang selfie. Orang yang keukeuh ingin foto akan terpaksa menggunakan blitz, dan hal itu akan menarik banyak perhatian orang dan manager. Meja-meja dipisahkan gebyok. Cocok untuk pasangan makan berdua. Para tamu asing sepertinya merasa sangat nyaman.

Tempat mewah ini memiliki beberapa ruang VIP: Soekarno 1950, Multatuli, dan Colonial Rijsttafel. Juga ruangan khusus smoking area yang luas dan sangat artistik: Suzie Wong Bar. Diambil dari nama karakter ikonik dari novel karya Richard Mason yang populer pada tahun 1950an.

Aura mewah yang sangat privat membuat saya canggung untuk berfoto-foto. Di kalangan orang Indonesia, tidak pernah ada yang melotot marah jika saya mengambil foto mereka sedang makan atau mengobrol. Tapi di tengah orang-orang asing? Saya harus sangat berhati-hati. Bisa saja teman makan mereka adalah orang yang tidak ingin diketahui publik. Atau pasangan resmi mereka.

Terdorong insting “tidak mau rugi”, saya foto segala sudut. Setelah puas mendapat foto yang cukup terang, kami keluar. Di dekat meja resepsionis, baru saya amati, terpampang pengumuman: If you want to take photos, please consult our manager.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.