Filosofi Kopi: Keliling, Musik, Dan Puisi

Apa yang paling penting bagi sebuah rumah kopi? Nuran Wibisono pada tulisannya yang berjudul Musik untuk Rumah Kopi, menyebutkan bahwa kualitas kopi, kebersihan, furniture, dan juga musik adalah hal-hal yang menjadi daya tarik pengunjung.

Tentu saya sendiri mengamininya. Ngopi di sebuah kedai yang nyaman dengan musik yang bagus adalah surga yang tertinggal di bumi. Lalu apa jadinya jika kopi hadir di sebuah tempat yang tidak kita sukai? Apa rasanya ngopi di tengah alunan lagu yang bukan kita banget?

“Musik itu sama seperti kopi, kok. Sangat lentur, bisa dinikmati dengan berbagai cara,” tutur Mas Nuran pada paragraf akhir tulisannya tersebut. Lagi-lagi saya setuju dengannya. Ini karena saya sendiri sering mengalaminya.

Saya adalah penyuka kopi yang tidak menjadikan kopi sebagai objek yang harus dikeliling hal-hal baik agar kenikmatannya menjadi bertambah. Bagi saya justru sebaliknya. Kopi adalah teman yang sempurna bagi segala suasana. Menyejukan yang panas, menghangatkan yang dingin, meramaikan yang sepi, menenangkan yang gelisah. Kopi dilahirkan untuk menemani, bukan ditemani. Kehadiran kopi, membuat sekelilingnya menjadi lebih baik.

Pada tanggal 6, 7, 8 Maret yang lalu festival musik Java Jazz kembali dihelat. Seorang teman dari Bali yang kebetulan sedang berada di Jakarta karena urusan pekerjaan, mengajak saya untuk pergi ke festival musik tahunan tersebut. Karena satu dan lain hal, akhirnya kami hanya dapat datang di tanggal 7 saja.

Saya adalah penikmat reggae, dan bagi saya, jazz sama sekali tidak bisa membuat bahu dan lutut bergoyang. Jika bukan karena teman datang dari jauh, saya tidak akan nonton Java Jazz. Ini adalah pengalaman pertama saya menyaksikan konser musik tersebut.

Hari itu acara digelar dari sekitar pukul tiga sore sampai tengah malam. Kami tiba di sana selepas maghrib. Penggemar jazz sudah memadati JIExpo Kemayoran, tempat Java Jazz diadakan, sejak siang hari. Saya tidak menyangka seramai itu. Sayangnya, hujan tiba-tiba turun dan membuat mood menjadi tidak karuan. Berdesak-desakan dan hujan, apalagi yang lebih buruk dari itu?

Java Jazz
Pemain terompet Chris Botti. © Anggara Gita Arwandata

Chris Botti, pemain terompet asal Amerika Serikat, menjadi destinasi pertama kami. Melihat antrean panjang di hall-hall yang menampilkan musisi-musisi lainnya, kami bergegas menuju ke tempat Chris Botti manggung. Dengan harga tiket yang mahal, saya tidak ingin kebagian tempat paling belakang.

Setelah tergopoh-gopoh menuju venue, ternyata hall belum dibuka. Jengkel rasanya harus berdesak-sedakan, padahal tidak suka jazz. Ditambah lagi, hujan, pengap, dan keringat mulai menetes. Mood sudah sampai titik terendah. Sempat terpikirkan oleh saya untuk menunggu di mobil saja.

“Udahlah, kamu masuk aja. Musik bisa membuat hati tenang kok,” ujar teman saya kala itu.

“Gue gak suka jazz!” batin saya dalam hati. Kalimat itu urung saya lontarkan. Saya tidak ingin merusak suasana.

Teman saya ini seorang psikolog klinis yang berpraktek di Bali. Musik adalah media yang sering ia gunakan dalam pekerjaannya. Ia memutar musik untuk membangun suasana tenang bagi klien (pasien).

Tapi saya bukanlah kliennya. Lagipula, saya tidak suka jazz. Alih-alih menjadi tenang, nanti malah makin buruk mood ini. 30 menit sebelum acara dimulai, belum ada tanda-tanda tempat pertunjukan dibuka. Saya menyempatkan berkeliling foodcourt untuk mencari sesuatu yang dapat saya kudap nanti ketika menyaksikan penampilan Chris Botti.

Filosofi Kopi
Kedai Java Jazz Coffee. © Anggara Gita Arwandata

Dan Bingo! Ternyata yang saya temukan adalah kios yang menjual kopi. Sejauh mata memandang, saya melihat ada tiga pilihan: Starbucks, Kopi Padang, dan Java Jazz Coffee. Nama ketiga yang akhirnya jadi pilihan saya. Alasannya sederhana: menyesuaikan nama acaranya.

Saya mengira Java Jazz Coffee hanya buka saat acara Java Jazz digelar saja. Ternyata sehari-harinya kafe ini dapat ditemui di Mall Pacific Place-SCBD. Suasana yang ditawarkan saat ngopi di kedai mereka yang berada di mall, dengan suasana ngopi di kedai yang berada di tengah hiruk pikuk pengunjung Java Jazz, pastilah sangat amat berbeda. Lantas mengurangi kenikmatan kopinya? Saya rasa tidak.

Kopi, baik Mellow Caramel Macchiato yang saya pesan, ataupun jenis lain dari kedai berbeda yang ada di situ, akan menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi setiap pengunjung. Namun yang pasti, kopi sangat lentur. Bisa menyesuaikan suasana.

Dengan kopi di tangan, saya yang tidak suka jazz dan moodnya sempat drop kala itu, malah tenggelam dalam alunan musik yang dibawakan Chriss Botti, Mocca, dan Fusion Stuff malam itu.

Kopi Keliling

“Starling… Starling… Starbucks Keliling,” Mas Isak berseru dengan lantang sambil mengayuh sepedanya. Sehari-harinya ia bekerja sebagai “barista Starbucks” keliling di Taman Menteng.

Starbucks Keliling, atau yang lebih beken disebut starling, adalah penjaja kopi yang menawarkan kopi dengan berkeling. Biasanya mereka menggunakan sepeda. Penjaja starling ini akrab ditemui di Jakarta. Saya sendiri tidak tahu, apakah ada penjual serupa di daerah lainnya.

Walau terlihat mobile dengan sepeda yang dilengkapi sachet kopi dan minuman lainnya, beserta air panas dan es batu, Mas Isak tidak dapat berjualan sesukanya. Ada jam-jam kerja yang sudah ditentukan oleh bosnya.

“ini saya baru keluar yang jam 4. Biasanya yang pagi. Kita ganti-gantian sama temen yang lain,” cerita Mas Isak kepada saya. Mereka bekerja bergantian agar tidak terjadi penumpukan penjual starling di Taman Menteng. Saya kira ini strategi yang baik. Saya bahkan tidak menyangka ternyata ada yang mengoordinir pedagang kopi keliling semacam ini.

Segelas kopi sachet bergambar kapal laut seharga Rp 4 ribu, menemani saya menikmati puisi demi puisi yang dibacakan pada acara pembukaan ASEAN LITERARY FESTIVAL 2015 bertajuk Poetry in The Park.

Inilah kelenturan kopi. Ia bisa dinikmati sambil mendengarkan musik, enak juga dinikmati sembari menonton pembacaan puisi. Cocok dinikmati sambil bergurau dengan sahabat, atau duduk sendiri saja sambil membaca buku.

Filosofi Kopi
Combi yang Menggunakan Nama Filosofi Kopi. © Anggara Gita Arwandata

Jika pada festival Java Jazz saya melihat 3 kedai kopi di tengah keramaian musik, di Taman Menteng saya disuguhi dua pilihan. Selain starling, ada juga penjaja kopi keliling lainnya, yaitu Kedai Combi Filkop on The Road. Kedai kopi dalam mobil Combi yang berkeliling menawarkan pengalaman ngopi yang berbeda, sekaligus bagian dari promosi film Filosofi Kopi. Kedai Combi berganti tempat mangkal pada setiap pekannya. Berhubung sedang berada pada lokasi yang sama, tentu saya tidak mau ketinggalan untuk mencicipi.

Kopi Macchiato dan bonus sebungkus rokok dari Kedai Combi Filosofi Kopi, menutup sore saya dengan sebuah filosofi: ”Sendirian atau berdampingan, hidup sepatutnya tetap penuh arti”

Keesok harinya, sambil bersantai ria, membaca buku, dan menyesap kopi, saya tuliskan pengalaman saya ini di kafe Angel in Us Coffee. Ruangan ber-AC, sofa yang nyaman, dan koneksi wifi yang cepat. Jauh berbeda dengan suasana yang sebelumnya, namun rasa kopi tetaplah sama. Enak.

Anggara Gita Arwandata

Perakit balon di @nf.nellafantasia dan perajut kata di @kedaikataid.