Festival Budaya ke-31 : Segumpal Keriaan di Penghujung Tahun

Festival Budaya ke-31
Festival Budaya ke-31 | © Caesar Giovanni

TTak ada sepi, tak mungkin ada lara, begitulah selalu dari tahun ke tahun, seperti juga Festival Budaya 2016. Kebetulan sekali, acara ini diadakan oleh fakultas tempat penulis berkuliah dulu, Fakultas Ilmu Pengetahuan budaya Universitas Indonesia. Di tahun ini, Festival Budaya diam-diam sudah diadakan untuk yang 31 kalinya.

Sebuah gumpalan keceriaan di bulan penghujung tahun ini benar menggembirakan banyak pihak. Mahasiswa senang, pengunjung senang, para peserta acara senang dan para pedagang kantin sastra pun senang karena hingga malam pembeli tak kurus atau setidaknya calon pembeli.

Sedikit kesedihan terbesit dalam raut dan celetukan beberapa orang karena parade teater sepanjang hari atau biasa disebut Petang Kreatif, yang ditiadakan di acara kali ini. Namun itu tak menjadikan acara ini kalah meriah dan megah dari tahun-tahun sebelumnya. Rentetan teater seharian, diganti dengan jajaran grup musik.

Acara tahunan ini berani tampil beda di tahun ini dengan dua panggung yang terletak bersebelahan. Adalah salah satu personil band yang mengatakan bahwa dua panggung ini adalah panggung ‘David’ dan ‘Goliath’. Panggung besar tak berarti lebih, panggung kecil bukan berarti kurang. Entah apa yang menjadi tolok ukur panitia dalam menentukan band yang bermain di tiap panggungnya.

Dua panggung membuat acara ini hampir tanpa jeda menunggu persiapan band, sebab satu band selesai main, langsung disambut oleh band lain yang telah siap untuk beraksi di panggung lainnya. Penonton bergerak mengarah panggung sambil beberapa bingung akan siapa yang tampil selanjutnya.

Dimulai sejak siang, hampir sepuluh band tampil di satu panggung secara bergantian. Mulai band-band kampus yang baru lahir, band yang hampir sedasawarsa, hingga para pemain lama dengan bungkusan baru.

Festival Budaya ke-31
Festival Budaya ke-31 | © Caesar Giovanni
Festival Budaya ke-31
Festival Budaya ke-31 | © Fyza Ghaniya

Matahari pulang, panggung semakin terasa megah dengan lampu panggung yang cahayanya kini dapat dinikmati. Hingar-bingar panggung semakin tersambut dengan pengunjung yang terus berdatangan.

Kemeriahan panggung ‘Goliath’ dibuka dengan sebuah band dengan pengaruh kuat dari kaum dekil Seattle, MRT. Aksi lincah para personilnya membuat moshpit ramai dengan mereka yang saling menabrakkan diri berjingkrakan.

Tak jauh berselang, setelah irama Grunge mengudara, tampil sekelompok anak muda yang memainkan musik sedikit british, sedikit rock dengan lirik bahasa Indonesia yang menceritakan berbagai sisi kehidupan. Mereka menyebut komplotan mereka dengan CSH. Setelah itu, tampillah sebuah band yang baru-baru ini berganti nama menjadi ‘Batavian Summer’ membawakan lagu koleksi mereka.

Di tengah acara, suasana kembali memanas di panggung ‘David’ dengan penampilan dari Filosofi 4 Negara yang membawakan lagu, Rage Against The Machine yang membuat penonton kembali berjingkrakan, belingsatan dan bernyanyi bersama.

Selain hingar bingar belingsatan, acara ini dipadati dengan baris urut band pembawa semangat untuk berjoget. Sebut saja Skastra yang tampil di panggung ‘Goliath’. Band lain dari vokalis orkes Hamba Allah ini, terbukti bisa membuat penonton berjoget ria sepanjang pentas.

Parade dansa di panggung besar berlanjut dengan bintang tamu yang tak bisa menuruti jadwal acara yang melebar dan memanjang, The Upstairs. Naik panggung baru pada sekitar tengah malam tidak membuat para pengunjung duduk tidur kelelahan. Dansa resah tengah malam berkat alunan band yang pernah jadi raja pensi ini. Kemeriahan tidak berkurang sedikit pun karena di lewat tengah malam acara ini masih menyimpan orkes kaliber tinggi, Hamba Allah, yang kembali membuat penonton lupa dan berjoget sampai pagi.

Begitu banyak band yang tampil, tumpah ruah rasa dan keseruan dari panggung. Tidak dapat pula penulis memberikan gambaran satu per satu band yang tampil karena tulisan ini akan terlalu panjang dan mungkin tiada akhir. Simak profil band dan keseruan di atas panggung dengan mengunjungi twitter Festival Budaya UI atau simak foto-foto dari seorang kawan bernama Fyza Ghaniya yang memotret sepanjang jalannya acara.

Acara panjang hasil karya mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan berakhir dengan seru. Pengunjung ramai, acara pun berjalan lancar, terbayar sudah semua jerih payah para panitia. Terima kasih kepada Bayusvara yang telah menyajikan sound dan panggung sebegitu meriah demi para penikmat musik hari itu.

Sampai jumpa di Festival Budaya selanjutnya.

Caesar Giovanni Simatupang

Peminum segala kopi yang percaya bahwa rasa tergantung pada kondisi, konteks dan konsekuensi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405