Faktor X Usaha Warung Kopi

Sejak memasuki Jember pada 2006, saya sedikit tahu ada ritme yang berulang di Kota Seribu Gumuk ini. Setidaknya tempat tongkrongan anak-anak mudanya, terutama di sekitaran kampus, daerah Tegalboto.

Kawasan kampus, yang nama jalannya banyak menggunakan nama pulau-pulau di Indonesia, memang lokasi strategis sebagai tempat usaha. Ada ribuan mahasiswa yang beraktivitas di sana. Tak ayal harga sewanya serupa dengan harga sewa jalanan utama kota.

Semacam uji nyali bagi yang berniat membuka usaha namun modal pas-pasan. Tapi bisa dibilang pantas dengan perhitungan omset yang akan diterima. Ingat! Perhitungan ya bukan kepastian. Toh, bisnis seperti bermain judi. Selain hitung-hitungan bisnis dan manajemen, bisnis masih membutuhkan faktor X. Yup, Faktor keberuntungan dan pertemanan.

Jember
Warung kopi yang didirikan Cak Oyong. © Cak Oyong

Pada periode 2006-2008 ada tempat tongkrongan yang cukup terkenal. Cafe Pojok atau lebih dikenal dengan CAPO terletak di depan Gedung DPRD Jember, di Jalan Mastrip terdapat Warung Prenk, Bale Blank di Jalan Riau, dan di depan gerbang Universitas Jember ada kafe dengan konsep eksklusif yang saya lupa namanya.

Pada 2008 saya sempat buka usaha sejenis di dalam kampus dengan nama Coffee Break. Tak sampai seumur jagung usaha itu kolaps dan menyisakan kenangan yang menyesakkan.

Sebuah tempat tongkrongan akan menjadi ramai sebenarnya ada banyak faktor. Faktor-faktor itu mulai dari tempat yang nyaman untuk sendiri maupun beramai-ramai, punya hal pembeda dari usaha lain yang sejenis, makanan dan minuman murah dan pastinya enak (maklum ekonomi anak kos menuntut untuk irit tapi eksis). Selain faktor-faktor itu, untuk saat ini yang juga tak kalah penting, adalah akses WiFi.

Cukup itu saja? Kalau sekadar faktor di atas tentu kafe saya tidak segera kolaps. Dari segi tempat, walaupun kecil sudah cukup strategis karena ada di perempatan yang diapit tiga fakultas (Fakultas Kesehatan Masyarakat, Farmasi dan Pertanian). Pembeda? Di kafe saya bahkan ada banyak buku bacaan dan mainan pengasah otak (catur, remi, scrabble). Makanan dan Minuman? Cukup 15 ribu sudah bisa menikmati sajian spesial kami yaitu cappuccino blend dan nasi bakar sambal teri. Lalu?

Faktor kunci dari tempat tongkrongan adalah seberapa banyak temanmu. Lalu, bagaimana bisa CaPo dan Warung Prenk yang mampu menggandeng anak-anak musik di Jember pun akhirnya kolaps? Jawabannya adalah bosan. Karena kemudian matinya hampir berbarengan dengan munculnya KFC dan Pizza Hut di Jember.

Jember
Kedai Gubug © Nody Arizona

Kafe Mantra pada 2011 saja yang mampu bertahan, walaupun terseok-seok langkahnya. Mungkin karena menyasar anak-anak Fakultas Kedokteran Umum dan Gigi yang mayoritas memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.

Pada 2012 adalah angin segar bagi para pengusaha warung kopi atau kafe di Jember. Sebenarnya pada 2011 sudah banyak yang berdiri seperti Kedai Gubug, Warung Kopi Cak Wang, Campus Resto, Smart Cafe. Tapi gaungnya mulai terasa, sehingga makin bermunculan kafe baru di kawasan kampus. Bahkan saat ini, jari tangan dan kaki tak cukup lagi menghitung.

Karena Jember adalah kota kopi? Ah, bukanlah…. Ini hanya lebih pada ikut-ikutan untuk mencicipi lezatnya bisnis tempat tongkrongan. Karena coba-coba, tentu ada yang kolaps.

Tengok saja di Warung Kopi Cak Wang yang sekarang sudah memiliki cabang di tiga kota. Kekuatannya yang utama adalah komunitas. Rachmad Hidayatullah, si pengelola Warung Kopi Cak Wang adalah sosok humble, memiliki kawan bejibun. Selain itu, ia mampu menjaga perkawanan dan membuat mereka bertahan sekalipun lokasinya harus berpindah karena habisnya masa kontrak. Ada lagi Kedai Gubug yang bahkan berada di sana seperti berada di rumah sahabat.

Jember
Macapat Cafe, tempat nongkrong anak pers mahasiswa. © Nody Arizona

Nongkrong di dua tempat tersebut, maka kita akan melihat beberapa sosok pengunjung yang sama setiap waktunya. Hal tersebut dapat dirasakan juga jika mengunjungi Cafe 1991 di Jalan Karimata yang banyak dikunjungi anak-anak Universitas Muhammadiyah Jember. Macapat Cafe mampu menjadi hunian anak-anak Pers Mahasiswa (Baca juga: Ngopi Sambil Belajar di Macapat).

Tahun-tahun ke depan ini masih menjadi tahun-tahun yang baik untuk berbisnis tempat tongkrongan. Selama kamu memiliki beberapa faktor yang saya sebutkan, dan kuncinya berupa jaringan pertemanan yang luas, maka selamat datang di dunia tongkrongan.

Cak Oyong

Lelaki yang bercita-cita menjadi SuperDad.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • HLS

    Pada akhirnya bisnis adalah bisnis, semua penuh perhitungan meski tidak semua bisa dihitung,
    njuk

    • Yang paling penting dipikir sambil ngopi Bro