Es Selendang Mayang, Tak Pernah Tua di Kota Tua

Gerobak Pikulan Es Selendang Mayang Khas Betawi Kota Tua
Gerobak Pikulan Es Selendang Mayang Khas Betawi Kota Tua | © Anggun Puspita

Dulu saya selalu keliru saat menyebut nama es ini. Es Selayang Pandang begitu tiap kali membicarakan minuman ini, padahal yang benar adalah Es Selendang Mayang.

Beberapa kali melancong ke Jakarta belum pernah saya mencicipinya. Baru pagi itu saat matahari bersinar melankolis alias mendung syahdu, ketika saya jalan-jalan di kawasan Kota Tua saya bertemu dengan penjual es legendaris itu. Dari kejauhan sudah terbaca di gerobak pikulan itu tertulis, “Es Selendang Mayang Khas Betawi Kota Tua”.

Langsung saja saya hampiri gerobaknya. Saya menarik kursi plastik yang disediakan untuk pembeli dan duduk di depannya. Saya order tanpa delivery sama Pak Mamat (53), penjual Es Selendang Mayang.

Membeli Es Selendang Mayang di Kota Tua Jakarta
Membeli Es Selendang Mayang di Kota Tua Jakarta | © Anggun Puspita

Sambil dia membuatkan es saya bertanya, “Di sini cuma bapak ya yang jual Es Selendang Mayang?”

Lelaki asli Betawi dari Kampung Balokan Jakarta Utara itu curcol ke saya. “Sekarang sudah sedikit yang menjual Es Selendang Mayang. Sudah jarang! Di sekitar sini aja cuma tinggal 3 penjual,” tuturnya sambil menuang sirup merah ke gelas plastik es pesanan saya.

Pak Mamat adalah generasi kedua, ia meneruskan usaha ayahnya berjualan Es Selendang Mayang sejak 30 tahun lalu. Berkeliling dari kampung ke kampung, hingga sekarang mangkal di kawasan Kota Tua Jakarta. Ya, sebuah kesetiaan profesi yang tidak bisa ditandingi.

“Sudah lama saya jualan beginian. Coba hitung, kalau sekarang umur saya 53 tahun, berarti saya mulai berjualan umur 20 tahun,” ungkapnya dengan logat Betawi.

Sehingga tidak heran ketika saya bertanya, bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat Es Selendang Mayang dia menuturkan dengan fasih. Es jadul nan legendaris itu terbuat dari tepung sagu aren dan tepung beras yang dicampur dengan air dengan tambahan daun pandan dan garam. Setelah menjadi adonan, kemudian dibagi tiga dan diberi warna hijau, putih, serta merah. Saat adonan sudah jadi, maka teksturnya menjadi kenyal seperti agar-agar tapi lebih liat.

Adonan yang mirip agar-agar tersebut dipotong dengan bambu tipis, lalu ditambah es batu, santan, sirup merah, nangka, dan susu. Tidak butuh waktu lama, Pak Mamat dari Kampung Balokan itu mewujudkan pesanan saya dengan waktu kurang dari 5 menit.

Es Selendang Mayang buatan Pak Mamat. Slurrrppp…
Es Selendang Mayang buatan Pak Mamat. Slurrrppp… | © Anggun Puspita

Untuk suapan pertama, saya menyeruput kuah santan manis campuran sirup merah dan susu itu. Hmmm..segarrr! Kemudian pada suapan berikutnya, potongan selendang mayang masuk ke mulut beserta kuahnya. Rasa manis yang berpadu dengan selendang mayang yang lumer di mulut itu makin pecah ketika potongan nangka hadir di dalamnya.

Harga 5.000 rupiah terlalu murah untuk melunasi sebuah kepuasan menikmati Es Selendang Mayang pertama dalam hidup saya itu. Apalagi, saya mendapat bonus kuliah 2 SKS dengan materi cara membuat Es Selendang Mayang dari Pak Mamat.

Sebelum saya pamit, saya sempat bertanya kenapa disebut Es Selendang Mayang kepada Pak Mamat. Jawabnya, karena es tersebut berwarna-warni seperti selendang penari. Warna yang meriah dan rasa yang tidak bisa dilupakan membuat Es Selendang Mayang terus dicari oleh penggemarnya, baik untuk pelepas dahaga ataupun ingin klangenan dengan kenangan yang pernah mereka alami. Seakan dijual di kawasan Kota Tua, Es Selendang Mayang tidak akan pernah tua.

“Kalau masih banyak yang suka, pasti dicari. Selain dijual pakai pikulan seperti saya, minuman ini masih bisa ditemui kalau ada orang Betawi punya hajatan nikahan,” katanya sesaat sebelum saya beranjak pergi dari tempat Pak Mamat.

Anggun Puspitoningrum

Penyuka jalan-jalan, penggila drama Korea, dan peminum kopi disaat rindu.