Es Cream Tip-Top: Es Krim Rasa Top Yogyakarta

Mempertahankan cita-rasa dan tata ruang adalah pekerjaan yang tak mudah bagi gerai kuliner. Namun, masih ada kedai es krim yang mampu mempertahankan dua hal tersebut malah mampu menawarkan suasana nostalgia masa lampau di tengah-tengah pembangunan pesat gedung-gedung modern di sekitarnya.

Tiba-tiba gawai saya berdering, saya lihat, ada pesan masuk dari kawan saya. Ojan, ngeWhatsapp saya,”Ci, kamu di mana? Aku udah di depan gedung Student Center (SC) nih”. Hampir lupa, hari ini saya punya janji dengannya untuk wisata kuliner. Biasanya saya dan Ojan berwisata ke berbagai angkringan kota, dari Angkringan Pak Panut yang dibilang murah di GOR Klebengan hingga angkringan yang berkelas seperti Angkringan Mojok di Kaliurang sana. Namun, sepertinya hari ini berbeda.

Setelah saya di depan Gedung SC UNY, saya celingak-celinguk mencari Ojan, tapi tak ada Ojan. Saya kira ia sudah pergi meninggalkan saya. Saya hubungi Ojan, benar saja, ternyata ia telah berada di kedai Es Cream Tip-Top yang berada di Jalan Mangkubumi Nomor 24 Jogja. Ojan menambahkan, kalau ia di sana telah bersama Ipeh dan Nurul, kawan sekelas saya di Ilmu Sejarah. Tanpa tedeng-aling-aling, saya langsung cabut menuju kedai Es Cream Tip-Top yang telah disebut tadi. Hanya dalam waktu perjalanan sepernanakan nasi, kira-kira pukul 7 malam, sampailah saya di kedai itu.

Gerai es cream Tip-Top tampak depan.
Gerai es cream Tip-Top tampak depan. | © Arfrian Arci Rahmanta

Tampak dari depan, saya seperti melihat gedung tua tak terawat yang merupakan peninggalan kolonial. Kedai Es Cream Tip-Top tampak seperti sebuah gedung lama dengan rasa classic yang masih dipertahankan. Ciri khas gaya bangunan lama, bangunan ruko dua lantai dengan dinding putih yang tampak telah usang. Di kedai ini, kata Ojan, kita dapat menemukan secuil nostalgia masa lampau dalam semangkok es krim yang khas. Dan terbalut pula suasana kedai yang masih mempertahankan interior dan furnitur masa lalu.

Memasuki ruangan, saya disuguhi dengan ornamen kaca pada dinding-dindingnya dan deretan kursi serta meja bercat putih dengan postur yang dibuat pendek. Terkesan sederhana, kedai ini hanya memiliki tujuh buah meja dengan empat kursi yang mengelilinginya. Bagi Anda yang berpostur tinggi, mungkin akan sedikit terganggu dengan postur kursi yang pendek tersebut. Dan penerangan yang tak terlalu terang juga membuat suasana masa lampau begitu terasa.

Suasana ini mengingatkan saya saat berkuliner di Kedai Ragusa Es Krim Italia, di Jakarta Pusat sana. Tegel yang sedikit berbecak. Di sudut-sudut ruangan yang terdapat sedikit tembok terkelupas. Pembedanya, di Ragusa lebih ramai pengunjungnya. Di Kedai Es Krim Tip-Top begitu tenang dan damai.

Setelah saya membaca daftar menu, saya memesan es krim Tip-Top rasa strawberri, seharga Rp22 ribu untuk saya cicipi. Kawan saya, Ojan juga memesan menu sama namun dengan rasa berbeda, Cokelat yang ia pilih. Terlihat di daftar menu, terdapat menu paling murah ialah es cone seharga Rp17 ribu dan yang paling mahal ada es banana split seharga Rp48 ribu. Jika mau camilan, ada juga. Ojan yang masih punya sisa duit mingguan itu memesan kentang goreng seharga hanya Rp9 ribu rupiah.

Salah satu pegawai Es Cream Tip-Top yang saya temui, Lisa (21) mengatakan selama sembilan bulan ia bekerja, menu paling laris ialah es krim tutti frutti. Menurut cerita Lisa, pelanggan yang kebanyakan orang tua suka dengan tekstur dan cita-rasa tutti frutti.Berbentuk persegi empat, dengan balutan cokelat di bagian luarnya yang di bagian tengahnya diberi taburan sukade begitu memikat mata. Setelah ditelan, tak membikin serak tenggorokan adalah kelebihan yang khas dari es krim buatan kedai ini.

Sebab dalam pembuatan es krim, kedai yang berdiri sejak tahun 1932 ini masih menggunakan bahan-bahan alami pilihan sehingga tidak menimbulkan batuk atau rasa serak di tenggorokan. Itu pula alasan harga es krim di kedai ini berbeda dengan es krim semisal Campina atau Walls di minimarket, tentu saja.

Es krim tip-top rasa strawberiyang saya pesan memiliki warna merah-muda pucat, aromanya tidak terlalu kuat, serta memiliki rasa yang tidak terlalu manis, namun terasa nikmat saat lumer di dalam tenggorokan. Taburan sukade pun menambah sensasi rasa “krenyes“. Lisa berbilang menu ini termasuk baru dan salah satu menu yang paling disukai juga.

Enak untuk membaca novel di gerai yang sepi dan sederhana ini.
Enak untuk membaca novel di gerai yang sepi dan sederhana ini. | © Arfrian Arci Rahmanta

Kedai Es Cream Tip-Top dibuka dari pukul 9 pagi sampai setengah 2 siang, kemudian tutup untuk istirahat. Dibuka kembali pada pukul setengah 5 hingga pukul 9. “Hari-hari ramai pelanggan biasanya di akhir pekan, tapi bukan hari Minggu, karena hari itu kita libur,” kata Lisa menutup percakapan.

Dibandingkan dengan kedai es krim jadul lainnya, Es Cream Tip Top merupakan salah satu kedai dengan penampilan dan pelayanan yang cukup sederhana. Namun, kesan suasana yang eksklusif serta dengan resep yang autentik membuat saya merasa betah berlama-lama di kedai ini. Tempat yang cocok untuk membaca, batin saya. Ojan tak sepakat dengan saya. “Gak ada Wifi nya Ci,” cetusnya sambil ngusap-ngusap gawainya.

Arfrian Arci Rahmanta

Kuli tinta dari LPM Ekspresi UNY