Es Bogado: Peredam Panas di Kota Lama Semarang

Gerobak itu bertengger anteng di tepian gereja Blenduk Kota Lama Semarang. Warna merah muda yang mencolok membalut tampilan gerobak yang bertuliskan Bogado Es Tempo Doeloe. Melihat hal tersebut, saya seolah mendapat gayung bersambut, —karena memang tengah kelelahan— setelah berputar-putar mengelilingi Kota Lama. Sekelebat aku mengira kalau es ini layaknya es biasanya. Namun, ternyata dugaanku salah. Es ini benar-benar berbeda.

Pedagang Es Bogado yang bernama Abdul Wahid menuturkan: kuliner satu ini hanya tersisa segelintir penjual di Semarang. “Padahal, dahulu banyak sekali yang menjajakan es ini,” ujarnya. Sembari meracik es untuk saya, Wahid bercerita banyak seputar sejarah yang memang dia gemari. Mulanya, ia mengisahkan asal-usul nama Bogado yang merupakan singkatan dari Boga yang berarti kuliner dan Gado yang bermakna campur.

Abdul Wahid sedang menyerut Es pesanan pelanggan
Abdul Wahid sedang menyerut Es pesanan pelanggan | © Shela Kusumaningtyas

Bisa dibilang, es bogado merupakan sisa warisan penjajahan Belanda. Ini terlihat dari alat serut yang digunakan dibuat tahun 1939. Selain itu, tape yang dipakai lebih mirip dengan enting-enting. Rupanya, tape itu mengalami proses pengovenan terlebih dahulu sebelum akhirnya dicampurkan dengan bahan lain. Sirup yang dipilih sebagai pemanis pun merupakan sirup legendaris. Wahid menuturkan, bahan-bahan yang diramu dalam es itu akan menciptakan kenikmatan yang tepat diseruput saat panas-panasnya Kota Lama, Semarang. Kombinasi kacang hijau rebus, agar-agar, santan, pacar cina, biji selasih, cincau, tape, biji mutiara berwarna merah muda, dawet, dan es serut siap membasahi kerongkongan yang tengah kering.

Apabila penasaran, silakan datang saja ke Gereja Blenduk. Setiap hari kecuali Jumat, Wahid biasa berjualan dari pukul 10.00 WIB hingga 16.00 WIB di sekitar Gereja Blenduk. Dengan harga sepuluh ribu rupiah, semangkuk es bogado bisa diseruput kelezatannya.

Shela Kusumaningtyas

Penjelajah yang gemar menulis, membaca, dan berenang.