Es Bathil Warung Hj. Bayanah dan Kenangannya

Warung Es Bathil Hj. Bayanah
Warung Es Bathil Hj. Bayanah | © Awid Adi Cahyadi

Lamongan menyimpan banyak kuliner khas yang harus dicoba. Tak hanya terkenal dengan Soto Lamongannya yang dapat meningkatkan hasrat makan kita, melainkan minumannya yang mestinya harus dicoba. Salah satunya adalah Es Bathil Hj. Bayanah yang berada di desa Bulubrangsi Kec. Laren Kab. Lamongan.

Dulu, semasa masih sekolah, saya sering ke tempat warung es bathil hj. Bayanah bersama teman satu kelas. Bisa Anda bayangkan bagaimana ramenya. Belakangan saja saya jarang untuk mencicipinya karena kesibukan kuliah.

Namun, sejak lulus sekolah, kami hanya bisa berkumpul dan nge-es bathil kalau teman-teman sedang libur kuliah saja. Karenanya, ajakan yang benar-benar saya rindukan dari teman-teman sekolah adalah, “Ayo bathil cah mumpung aku dek omah,” atau “kapan kumpul, terus kita bathil.” Duh, jadi kangen.

Beberapa hari lalu saya benar-benar ikhtiar untuk bisa mencicipi es bathil yang sudah lama tidak membasahi kerongkongan ini. Saya akhirnya mengajak teman semasa Tsanawiyah untuk menikmati semangkuk es bathil.

Kami janjian pukul 1 siang. Jarak dari rumah ke warung es bathil sekitar 15 menit perjalanan dengan sepeda motor.

Sesampainya di sana saya disambut deretan sepeda motor milik pelanggan warung es itu. Tanpa pikir panjang saya langsung pesan dua mangkuk es bathil dan mengambil beberapa gorengan. Oh ya, menikmati es bathil paling enak ditemani gorengan.

Selain es bathil sebagai menu andalan, warung es bathil ibu Hj. Bayanah menyediakan es ental (siwalan), dan aneka gorengan. Biasanya kami menyebutnya gimbal ote-ote, gimbal tempe dan godo gedang atau gedang goreng.

Suasana antri di warung es bathil
Suasana antri di warung es bathil | © Awid Adi Cahyadi

Sembari menunggu pesanan datang, saya bercakap-cakap dengan kawan saya mengenai kabar skripsinya. Maklum, dia sedang berkutat dengan mega proyek skripsinya. Hahaha.

Sembari menunggu pesananan datang, saya mencoba memperhatikan ibu penjual meracik es bathil. Pertama es batu dimasukkan. Kemudian kacang ijo, serutan agar-agar, cendok ijo, irisan buah siwalan, bathil, sirup atau yang kami biasa menyebutnya juro yang terbuat dari legen. Es lalu disiram dengan kuah santan. Saya jadi ngiler.

Oh, rupanya itu adalah racikan pesanan saya. Saya segera menuju bangku. Kawan saya sudah menunggu. Tak butuh waktu lama saya segera menikmati es bathil. Satu sendok. Dua sendok. Membasahi kerongkongan ini. Betapa rindu saya terobati dengan es ini.

Semangkok Es Bathil
Semangkok Es Bathil | © Awid Adi Cahyadi

Saya kembali mengingat teman-teman saya yang lain. Ada yang kurang rasanya. Saya enggak bisa bayangkan kalau ada mereka, pasti akan lebih seru dan rame. Biasanya, saat nge-es bathil bareng mereka, kami selalu ngobrol kenangan-kenangan semasa sekolah, bab mantan pacar salah satunya. Oke cukup. Tidak usah membahas itu lebih dalam. Kita kembali ke es bathil.

Pesan saya, kalau sampean ingin menikmati es bahtil jangan di akhir pekan atau saat liburan. Pasti tempatnya ramai, bahkan sampean rasanya tidak akan dapat tempat duduk. Saking ramainya ada juga yang sampai menggelar terbal.

Untuk masalah harga. Tenang! Murah meriah, pas dikantong. Satu mangkuk es bahtil di bandrol hanya Rp 5.000 saja. Dan aneka gorengan dihargai Rp 500.

Jadi kapan kita bisa ngees bathil bareng-bareng?

Awid Adi Cahyadi

Anak terakhir dari 8 bersaudara yang pernah ngatlet bulutangkis waktu mahasiswa.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405