Ekspedisi Munduk

Tahun lalu, di bulan Agustus, Miko melakukan Ekspedisi Kopi untuk kali pertama. Daerah yang dijelajahi meliputi empat tempat: Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi. Perencanaan dan pembentukan tim Ekspedisi Miko kami lakukan cukup singkat, hanya dalam waktu sebulan.

Keempat kabupaten itu kami jelajahi dengan hati riang gembira, sesuai tagline situs web ini. Maklum, kami di-support beberapa informan handal tentang dunia perkopian dan perkebunan di sekitar area tapal kuda itu. Apalagi, keempat awak tim Ekspedisi Miko waktu itu juga sudah cukup lama mengenal dan hidup di Jember, sehingga untuk persoalan jalur tempuh misalnya, tak jadi masalah. Eh, tapi kalau dipikir-pikir lagi, Ekspedisi Miko pertama itu dilakukan agak nekat. Modal ekspedisi yang pas-pasan, perencanaan yang tak terlalu cepat, motor ekspedisi yang tak cukup layak digunakan berjalan jauh, hingga persoalan sinyal komunikasi dan internet yang tak kami pikirkan matang. Belum lagi soal tempat kami menginap dan bekerja setelah seharian menggali data dan informasi. Sungguh kami tak ingin mengulang kembali pengalaman-pengalaman pahit tersebut.

Tapi tak melulu sial nan pahit, ekspedisi pertama Miko itu juga banyak pula dilalui dengan pengalaman dan kenangan manis. Soal makan misalnya. Kami disuguhi makanan yang enak, kopi yang nikmat, dan juga sampai tempat istirahat yang nyaman. Barangkali, para petani begitu gembira (atau malah kasihan) ketika kami berkunjung ke tempatnya. Berkaca dari pengalaman Ekspedisi Miko pertama inilah, petualangan selanjutnya harus lebih direncanakan dan disiapkan lebih baik lagi.

Ekspedisi Munduk
Ekspedisi Munduk

Awal tahun 2017, kami merencanakan Jawa Barat menjadi salah satu tujuan Ekspedisi Kopi Miko yang kedua. Penjajakan dan survey awalan dilakukan oleh awak redaksi Miko. Pangalengan menjadi salah satu tempat yang harus dikunjungi. Awak redaksi lain membuat peta daerah-daerah penghasil kopi di Jawa Barat yang harus dikunjungi. Peta kasar sudah dibuat, tinggal membentuk tim Ekspedisi. Sebagian besar awak redaksi Miko bukan orang dari Jawa Barat, dan agak kesulitan ketika berbicara bahasa Sunda. Belum lagi soal jalanan yang harus dilewati, maka mau tidak mau, kami harus mencari tim yang bisa mengatasi persoalan tersebut. Beberapa nama sudah terpilih, dan kami sudah mengontaknya. Tinggal menunggu waktu panen kopi tiba, kami siap berpetualang.

Dua bulan sebelum panen kopi menjelang, perencanaan matang Ekspedisi Kopi Miko kedua harus dipikir dan dikonsep ulang. Persoalan iklim yang buruk, salah satu awak tim tiba-tiba mendapatkan tugas yang tak bisa ditinggalkan, hingga persoalan dana, membuat awak redaksi Miko galau dan hampir saja membatalkan rencana Ekspedisi Kopi Miko yang kedua.

Tiba-tiba kami ingat tawaran dari petani kopi dari Bali Utara, Bli Komang Armada. Saat Ekspedisi kopi Miko yang pertama akan berakhir, Bli Komang Armada menawarkan tempatnya di Munduk untuk dijelajahi. Puthut EA, Kepala Suku Mojok yang juga Redaktur Senior di Miko, beberapa bulan lalu pergi ke sana. Konon dia akan bertetirah. Sepulang dari sana, akhirnya kami disarankan untuk melakukan Ekspedisi Kopi Miko yang kedua di Munduk. Ekspedisi Kopi Miko yang kedua ini kami namai Ekspedisi Munduk. Selama beberapa pekan ke depan balasruput akan kami sajikan hasil laporan tentang Munduk. Tak hanya tentang kopi, ada pula kuliner dan budaya Munduk. Naskah akan kami tayang tiga kali dalam seminggu, setiap Senin, Rabu dan Jumat.

Udah ah.

Nikmati sajian artikel-artikel Ekspedisi kedua Miko.
Salam seruput.

Redaksi Minum Kopi

Minum Kopi.com adalah situsweb yang berusaha menjadi ‘kedai kopi bersama’, tempat orang-orang berkumpul, saling berbagi informasi dan pengalaman tentang kopi, kuliner, dan gaya (hidup).