Ekspedisi Munduk: Berjalan di Kelokan Sejarah

Udara seketika berubah, menjadi lebih sejuk, lantas lebih dingin, ketika mobil yang saya tumpangi masuk Kabupaten Buleleng. Perjalanan mulai didominasi jalanan menanjak. Ketika sampai di desa itu, meski matahari tak terhalang awan, dinginnya Desa Munduk, di Bali Utara, merambati kulit dan menyelamatkan saya dari kantuk.

Bersama dua rekan dari Ekspedisi Munduk, kami sampai di penginapan Puri Lumbung, salah satu penginapan tertua di desa ini. Gemericik air dari kolam kecil di lobi memberi ketenangan, memberi saya kesempatan untuk menikmati lanskap Puri Lumbung secara lebih jelas.

Puri Lumbung
Puri Lumbung | Sumber: www.facebook.com/puri.lumbung

Hijau, adalah warna yang dominan. Rimbun oleh pohon besar dan tanaman membuat penginapan yang dibangun pada tahun 1992 ini terasa seperti kebun sendiri. Tenang, dan penuh dengan keramahan. Pekerja menyambut kami dengan kehangatan, menyiapkan kamar untuk beristirahat. Namun, rasa ingin tahu terlalu pekat untuk diistirahatkan.

Sore harinya, dibantu Putu Ardana, Kepada Adat Desa Munduk, saya membuat janji dengan Nyoman Bagiarta, pemilik Puri Lumbung. Keberadaan penginapan ini bersinggungan langsung dengan sejarah Munduk itu sendiri. Oleh sebab itu, pertemuan dengan Nyoman Bagiarta akan menjadi pelajaran sejarah yang saya nantikan.

Sejarah Munduk di atas piring sarapan

Keesokan harinya, bersama Fawaz Al Batawy, saya bertemu dengan Nyoman Bagiarta. Tiga kopi susu dihidangkan, ditemani roti hangat. Pagi itu, saya dan Fawaz datang ketika Nyoman Bagiarta hendak sarapan. Dan sembari sarapan, kami berbincang banyak hal, tentunya, soal sejarah Munduk dan misi mulia Nyoman Bagiarta.

Tepatnya adalah Bali Utara, yang menjadi lokasi pertama pendaratan Belanda di Pulau Dewata ini. Belanda menjadikan Munduk sebagai tempat rekreasi. Udara yang sejuk dan pemandangan elok yang terhampar menjadi tempat yang tepat untuk mengistirahatkan fisik dan mental setelah lelah menjajah sepanjang minggu.

Desa Munduk sendiri berada di ketinggian antara 500 hingga 1200 meter di atas permukaan air laut. Desa ini dikelilingi gunung tertinggi kedua di Bali, yaitu Batukaru. Tak jauh dari desa, terdapat dua danau yang berdampingan, Bulian dan Tamblingan.

Berdasarkan penuturan Nyoman Bagiarta, tak ada penduduk asli di desa yang asri ini. “Semuanya ya bisa dibilang pendatang,” ungkap sesepuh desa yang mengenakan kacamata itu.

Pura Tamblingan
Pura Tamblingan | © Yamadipati Seno

Menurut catatan prasasti yang ditemukan di tepi Danau Tamblingan, disebutkan bahwa dahulu terdapat sebuah kerajaan yang bernama Dalem Tamblingan.

Di sekeliling kerajaan terdapat empat permukiman yang cukup besar, yaitu Hunusan, Gobleg, Tanah Mel, dan Batu Mejajah. Nama permukiman terakhir ini yang kini disebut Desa Munduk.

Daerah Bali Utara jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1849. Sementara itu, Bali Selatan takluk pada tahun 1906 setelah Perang Puputan berakhir. Karena udaranya yang sejuk, banyak orang Belanda yang mendirikan bangunan di daerah Bali Utara, tepatnya tentu di Desa Munduk.

Ketika Operasi Trikora (1961) diluncurkan oleh pemerintah Indonesia untuk membebaskan Irian Jaya (Papua) dari tangan pendudukan Belanda, di Munduk sendiri terjadi pergolakan, meski dalam skala kecil.

Orang-orang setempat menunjukkan sentimen mereka terhadap Belanda dengan menghancurkan bangunan-bangunan Belanda yang berada di Munduk. Sebagian besar rusak dan tak berbekas.

Nyoman Bagiarta mengungkapkan bahwa Desa Munduk sendiri berusaha merestorasi bangunan Belanda yang pernah dihancurkan tersebut. Salah satu bangunan yang kini berdiri adalah Puri Sunny, sebuah penginapan dengan jalan berupa tanjakan sempit di depannya.

Perhatian yang diberikan dan restorasi yang dilakukan penduduk kepada bangunan Belanda adalah upaya untuk menjaga ingatan masa lalu. “Keseimbangan harus dijaga. Bangunan itu seperti manusia,” terang Bagiarta. Oleh sebab itu, sesepuh yang sebagian giginya sudah tanggal tersebut menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan alam, salah satu merawat sumber air.

Misi mulia Bagiarta untuk Munduk

Ketika musim penghujan tiba, Desa Munduk bisa menyimpan air. Namun, jika musim kemarau, sumber-sumber air bisa hilang apabila tak dijaga dengan penuh perhatian. Salah satu lokasi yang juga mendapat perhatian adalah kedua danau yang berdekatan dengan Munduk, yaitu Bulian dan Tamblingan.

Dahulu, masih banyak orang yang mencari ikan di kedua danau tersebut. Sayang, saat ini, tak bisa setiap saat masyarakat setempat “memanen” ikan. Sudah banyak jenis ikan yang tak lagi terlihat. Maka, upaya perbaikan ekosistem juga terus digalakkan.

Bagi pemeluk Hindu di Bali Utara, air adalah unsur yang penting. Elemen ini melambangkan ketenangan dan kebijaksanaan. Menjauhkan manusia dari jalan amarah merupakan salah satu hal yang ditekankan Nyoman Bagiarta.

“Jika manusia jauh dari nafsu, hidupnya akan lebih tenang. Ia tak memerlukan kekayaan yang sebetulnya tidak ia butuhkan,” tegas Nyoman Bagiarta.

Memang betul, tanpa air, praktis tak ada kehidupan. Terutama untuk Desa Munduk, luasnya hamparan perkebunan dan sawah memerlukan kehadiran air. Padahal tanpa kekayaan alam tersebut, Desa Munduk, dan manusia pada umumnya, tak akan punya kebudayaan. Tak ada warisan paling hakiki yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya: alam yang lestari.

Merawat air, adalah merawat diri sendiri. Oleh Nyoman Bagiarta, kita diingatkan hal yang paling mendasar.

Kelokan sejarah

Sesuai fakta sejarah, Bali Utara justru berkembang terlebih dahulu ketimbang Bali Selatan. Munduk, terutama, pernah menjadi salah satu desa terkaya di Bali. Kebudayaan berkembang dengan pesat. Dari usaha menjaga air, kesenian gamelan Bali, mainan tradisional, hingga, tentu saja, sisi kulinernya.

Bali Selatan baru berkembang pesat ketika Bandara Ngurah Rai selesai dibangun dan arus kedatangan pelancong menjadi begitu pesat. Denpasar, yang menjadi ibu kota, dibangun oleh perkembangan masif sisi pariwisata. Untaian pantai dengan pasir putih menjadi sajian untuk wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Namun, untuk sedikit memahami sejarah Bali secara utuh, Anda harus menyempatkan diri berkunjung ke Bali Utara. Di sini, kelokan-kelokan sejarah Bali tergurat.

Ekspedisi Kopi Miko

Yamadipati Seno

Editor, writer, dan chef @arsenalskitchen