Ekofeminisme Kendeng

Berjuang untuk keadilan Bumi Kartini
Lihat Galeri
5 Foto
Aksi memasung kaki dengan semen petani Kendeng di hari ke-4 sumber Facebook Dewi Candraningrum
Ekofeminisme Kendeng
Aksi memasung kaki dengan semen petani Kendeng di hari ke-4 sumber Facebook Dewi Candraningrum

Sumber: Facebook - Dewi Candraningrum

Ibu Sukinah
Ekofeminisme Kendeng
Ibu Sukinah

Sumber: Facebook - Dewi Candraningrum

Para perempuan Kendeng tidur dengan kaki terpasung
Ekofeminisme Kendeng
Para perempuan Kendeng tidur dengan kaki terpasung

Sumber: Facebook - Dewi Candraningrum

Hujan-hujanan di depan Istana
Ekofeminisme Kendeng
Hujan-hujanan di depan Istana

Sumber: Facebook - Dewi Candraningrum

Berjuang untuk keadilan Bumi Kartini
Ekofeminisme Kendeng
Berjuang untuk keadilan Bumi Kartini

Sumber: Facebook - Dewi Candraningrum

“We are either going to have a future where women lead the way to make peace with the Earth or we are not going to have a human future at all”

Kira-kira begitu kalimat Vandana Shiva dalam bukunya Staying Alive: Women, Ecology, and Development. Kalimat itu secara lugas menegaskan, jika manusia masih ingin ada kehidupan di masa depan, perempuan harus segera didorong untuk memimpin jalan untuk berdamai dengan bumi. Jika tidak, pilihannya adalah manusia tidak akan punya masa depan sama sekali.

Ungkapan VandanaShiva yang saya kutip tersebut tentu bukan tanpa alasan ditengah budaya patriarki. Terutama dalam relasi manusia dengan alam. Di banyak kasus, kita melihat bagaimana laki-laki adalah aktor utama dalam kerusakan lingkungan melalui berbagai kegiatan produksi ekonomi. Mulai dari kerusakan hutan akibat illegal loging, pembakaran hutan, hingga alih fungsi lahan.

Tak hanya itu, penggunaan pukat harimau dalam menjala ikan di laut, genosida meracun ikan-ikan di sungai. Pun dengan kegiatan tambang yang tidak ramah lingkungan dilakukan oleh laki-laki pula. Jika pada akhirnya, kita membaca pemberitaan media ada perempuan yang terlibat dalam kerusakan lingkungan. Secara kuantitas, jumlahnya tak sebanyak laki-laki.

Sebab, tak dapat dipungkiri dalam mitos budaya patriarki, laki-laki bertugas untuk mencari nafkah, misalnya bertani atau berburu yang cenderung berpindah-pindah tempat (berpetualang). Sementara perempuan dituntut selalu stay menurus rumah tanggga, seperti menjaga anak, memasak dan mengurus perlengkapan suami.

Itu sebabnya, di negara-negara berkembang termasuk Indonesia kita menyaksikan ada perbedaan cara dalam memperlakukan alam, antara laki-laki dan perempuan. Kita melihat bagaimana kedekatan perempuan dengan lingkungan, seperti perempuan yang rutin mengambil air bersih untuk keluarga, perempuan mengambil sayur-sayuran dan para pemetik teh di kebun dipercayakan pada perempuan karena kelembutannya.

Saat terjadi bencana yang karena oleh kerusakan lingkungan, korban pertama biasanya adalah perempuan dan anak. Di sinilah peran ganda perempuan sebagai istri dan ibu yang membuat begitu pentingnya kelestarian alam bagi perempuan. Pun secara filosofis, perempuan dan alam memiliki naluri yang sama yaitu melahirkan. Dari rahim perempuan lahir sesuatu, pun dengan alam, dari tanah tumbuh sesuatu. Artinya, rahim perempuan dan alam begitu dekat terhadap keberlangungan kehidupan manusia di masa depan.

Dipasung Semen Jilid 2

Pada 12-13 April 2016 yang lalu kita menyaksikan sembilan perempuan asal pegunungan Kendeng melakukan demonstrasi dengan cara memasung kaki dengan semen selama dua hari di depan Istana Negara, Jakarta. Tuntutannya saat itu adalah agar pemerintah pusat segera membatalkan pembangunan pabrik semen di Rembang. Sampai pada akhirnya di tanggal 11 Oktober 2016, Mahkamah Agung (MA) memenangkan gugatan petani Kendeng dan membatalkan pembangunan pabrik semen di Rembang.

Hanya berjarak 11 bulan, kini kita menyaksikan kembali pemandangan serupa. Sejak 13 maret 2017 lalu para petani Kendeng kembali melakukan aksi memasung kaki dengan semen. Kali ini tak hanya ibu-ibu, bapak-bapak petani pegunungan Kendeng pun ikut memasung kakinya dengan semen. Bahkan saat ini jumlahnya semakin banyak, dimana ada sekitar 40-an petani yang memasung kakinya dengan semen di depan Istana Negara. Mereka bereaksi keras atas izin baru pabrik semen yang diterbitkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pada 23 Februari 2017 yang lalu.

Ini sungguh tragis, pun sangat memprihatinkan. Aksi memasung semen adalah upaya terakhir para petani Kendeng untuk berjuang menghentikan pembangunan pabrik semen. Sebab, kita menyaksikan puluhan kali mereka sudah melakukan aksi demonstrasi di depan kantor gubernur Jawa Tengah. Namun, berbagai teror dan kekerasan mereka terima sebagai konsekuensi perlawanan. Pun dengan pemukulan orang tak dikenal (OTK) yang tidak bertanggung jawab sering terjadi.

Puluhan kali pula mereka melakukan demonstrasi di PTUN dan MA. Hingga MA memenangkan gugatan para petani tersebut. Namun, “akrobat hukum” Gubernur Ganjar yang mengeluarkan izin baru pendirian pabrik semen membuat harapan para petani Rembang itu semakin hilang. Jadi, jika ada yang menyebutkan memasung kaki dengan semen adalah bentuk frustasi para petani Kendeng, itu karena mereka sudah tidak tahu berbuat apa lagi.

Secara nyata, ini adalah bentuk perjuangan kelas bawah pada korporasi dan negara atas ketidakadilan dalam distribusi pengelolaan sumber daya alam. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, sebab jika pembangunan pabrik semen di Rembang tetap dilanjutkan maka berpotensi akan merusak sumber air. Penambangan Karst kemungkinan besar akan menghilangkan zona epikarst. Zona ini sebagai penyimpan utama air hujan antara 5-50 meter bagian atas perbukitan karst yang berfungsi sebagai pengontrol sistem kartifikasi.

Bagian ini kemudian mampu melarutkan batuan gamping melalui zona-zona rekahan menuju sungai bawah tanah. Fungsi utama air ini sebagai media pelarut membentuk ornamen dalam gua (speleothem) dan sungai bawah tanah. Sungai bawah tanah inilah yang selama ini menjadi sumber mata air untuk aktivitas kehidupan masyarakat Rembang. Juga mengairi lahan pertanian warga Rembang yang luasnya sekitar 252.367,08 hektar. Jika hal ini di rusak oleh penambangan batu kapur (kars) maka ancaman utama yang dihadapi masyarakat Rembang adalah hilangnya mata air, mata pencaharian hingga kekeringan berkepanjangan. (Penelitian Geoteknologi LIPI 2011).

Lebih lagi, di pegunungan Kendeng hidup masyarakat lokal kaum Samin yang menyebar di Kabupaten Blora, Pati, Rembang Hinga Grobolan.

Menurut Vandana Shiva (1995), “Kunci untuk memperbaiki bumi terletak pada penghormatan terhadap hukum alam yang dipahami oleh masyarakat asli tradisional”. Masyarakat ini berbicara dengan kumpulan instruksi yang asli yang diberikan kepada mereka oleh Sang Pencipta. Serta mengajarkan penghormatan kepada kesatuan dan kesinambungan dari seluruh alam kehidupan.

Kaum Samin merupakan masyarakat lokal kawasan Kendeng pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan nilai-nilai sedulur sikep seperti kejujuran, tidak berpoligami, tidak berdagang hingga menolak pendidikan negara. Sebab, bagi mereka pendidikan akan membuat mereka menjadi pintar untuk menipu, mengibuli dan penuh kebohongan. Bagi mereka pekerjaan itu hanya bertani. Karena dengan bertani mereka berguna bagi sesama juga bagi lingkungan.

Itu sebabnya kelestarian lingkungan merupakan hal yang mutlak bagi kaum Samin sebagai sumber kehidupan, regenerasi dan jaminan keberlangsungan hidup anak-cucu mereka. Kerusakan alam akan mematikan segalanya. Bukan tanpa alasan, jika pembangunan pabrik semen di Rembang tetap dilanjutkan berpotensi merusak alam yang berujung pada hilangnya sumber mata air hingga kekeringan di sekitaran pegunungan Kendeng. Tentunya jika alam sudah rusak irigasi di kawasan sawah bisa terhenti. Ketakutan inilah yang dirasakan petani Kendeng atas rencana pembangunan pabrik semen di Rembang.

Keadilan Ekologi di Bumi Kartini

Kita berharap Yu Patmi ada dalam hati kita semua. Dikenang kita semua. Serupa kita mengenang Kartini hingga kini. Ini perjuangan untuk sejarah; bahwa ada begitu banyak Kartini hari ini.

Entah kebetulan atau tidak, lokasi pembangunan pabrik Semen di Rembang hanya berjarak sekitar 12 kilometer dengan tempat R.A. Kartini di makamkan. Tokoh pejuang kaum perempuan yang juga merupakan salah pahlawan nasional Indonesia, yang selama ini kita kenang dengan kegigigahannya memperjuangkan hak-hak perempuan.

Bumi Kartini sedang dihadapkan pada situasi yang sulit dengan rencana pembangunan pabrik Semen. Setelah izin baru yang diterbitkan pemerintah provinsi Jawa Tengah. Harapan terakhir kini ada di presiden untuk segera membatalkan izin tersebut. Pemerintah harus menjauhkan Kaum Samin dari semen demi kelangsungan hidup mereka.

Negara harus hadir sebagai sebuah payung perlindungan kaum Samin dan tidak ikut-ikutan menjadi alat penindas. Memastikan keberlangsungan hidup kaum Samin berarti merawat keadilan ekologis di bumi Kartini. Sebab, sangat tidak elok pada 20 april 2017 nanti kita menabur semen di makam Kartini.

Anwar Saragih

Penulis dan Peminum Kopi